Home Heritage Menilik Kemegahan Bangunan Pengisi Masa Tua Sang Sultan Sugih

Menilik Kemegahan Bangunan Pengisi Masa Tua Sang Sultan Sugih

7 menit waktu baca
32
Balekambang Pesanggrahan Ambarukmo.

Jika anda warga kota Jogja dan sekitarnya, pasti familiar dengan mall paling bergengsi di timur Kota Jogja. Tentu saja tiada lain mall tersebut adalah Plaza Ambarukmo. Bangunan tersebut merupakan salah satu sumber kemacetan pada akhir pekan di jalan menuju Kota Jogja. Tapi, tahukah anda bahwa tempat itu tidak hanya tentang hingar bingar hiburan kelas menengah ke atas?

Pada sisi sebelah timur Plaza Ambarukmo, terdapat bangunan Jawa tua dan dikelilingi banyak pohon rindang. Bangunan tersebut adalah Pesanggrahan Ambarukmo. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono II, awalnya bangunan tersebut dipergunakan untuk tempat bersinggah saat berburu, dan menjemput tamu penting dari Kasunanan Surakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Keraton Kesultanan. Tempat tersebut dinamai Kebun Raja Jenu pada waktu itu. Baru pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono V, dibangun pendopo besar agar tamu lebih nyaman beristirahat.

Bagian depan Pesanggrahan Ambarukmo.

Gempa yang melanda Yogyakarta pada tahun 1867 membuat rusak Pesanggrahan Raja Jenu. Atas kuasa Sultan Hamengkubuwono VI, pesanggrahan tersebut direnovasi dan berganti nama menjadi Pesanggrahan Harjapurna. Tanda tahun pembangunan pendopo agung yang dibangun pada masa itu berada di sunduk kili uleng (balok tumpang pada atap pendopo) bertanggal 1859 masehi.

Keadaan ekonomi Kesultanan Yogyakarta sedang naik-naiknya pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII (1877-1921). Pabrik gula banyak dibangun pada masanya. Pendapatan yang menggunung pada masa itu dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur maupun merenovasi aset-aset keraton. Salah satunya adalah Pesanggrahan Harjapurna.

Pendopo Agung Pesanggrahan Ambarukmo.

Sultan Hamengkubuwono VII memerintahkan merenovasi Pesanggrahan Harjapurna menjadi bangunan semacam kedaton. Sejak saat itu, Pesanggrahan Harjapurna berganti nama menjadi Kedaton Ambarukmo. Salah satu buktinya adalah angka tahun 1897 di Sunduk Kili Uleng bagian timur. Kedaton Ambarukmo diresmikan pada tahun 1898. Kedaton Ambarukmo tidak lagi menjadi pesanggrahan pada masa itu dikarenakan adanya kereta api yang memungkinkan tamu penting langsung ke kota Jogja tanpa singgah terlebih dahulu di pesanggrahan.

Tidak seperti sultan-sultan sebelumnya yang berhenti memerintah karena kematian atau diasingkan, Sultan Hamengkubuwono VII memilih untuk berhenti dan tinggal di Kedaton Ambarukmo. Beliau memilih untuk tinggal bersama salah satu permaisurinya, Ratu Kencana (GKR Sepuh), pada 1920. Beliau menghembuskan nafas terakhir di kedaton pada tahun berikutnya.
Setelah tidak dihuni oleh kerabat-kerabat keraton, nasib Kedaton Ambarukmo kurang baik. Kedaton Ambarukmo berganti menjadi Pesanggrahan Ambarukmo. Paviliun bagian timur dihancurkan untuk pembangunan hotel. Sampai-sampai bangunan ini terhimpit dua bangunan modern di sebelahnya. Beberapa kali bangunan ini berganti fungsi, seperti menjadi restoran. Sampai akhirnya direnovasi seperti sekarang.

Dalem agung Pesanggrahan Ambarukmo.

Seketika memasuki bangunan ini, kesan megah yang terasa dalam pikiran saya. Seperti bangunan Jawa yang memiliki susunan lengkap lainnya, bangunan ini terdiri dari pendopo agung, peringgitan (wilayah di antara bangunan utama dan pendopo), dalem ageng (bangunan utama), gandhok tengen dan kiwa (paviliun kanan dan kiri). Tetapi, pesanggrahan ini tidak memiliki senthong seperti layaknya rumah Jawa lainnya. Tetapi, hanya empat kamar pada bangunan utama. Namun, bangunan ini lebih besar dan luas dibandingkan rumah-rumah Jawa lainnya. Di belakangnya juga terdapat taman dengan kolam dan bangunan bale kambang di tengah kolam yang dipergunakan Sultan Hamengkubuwono VII untuk bermeditasi. Tempatnya terasa tenang memang hingga saat ini. Terlihat pengaruh Eropa pada penggunaan pilar Yunani berordo doric pada bangunan bale kambang, dan langit-langit yang tinggi. Bisa dibilang bangunan ini bergaya campuran Jawa dan Eropa.

Salah satu ruang pamer di Pesanggrahan Ambarukmo.

Saat ini, bangunan utama Pesanggrahan Ambarukmo digunakan sebagai museum. Di dalamnya terdapat koleksi-koleksi batik, keris, wayang, dan lukisan-lukisan penguasa-penguasa terdahulu dari Yogyakarta dan Surakarta. Namun, ada satu kamar yang tidak digunakan sebagai ruang pamer maupun dimasuki oleh pengunjung. Kamar tersebut lain tak lain adalah tempat Sultan Hamengkubuwono VII tidur. Masuk ke tempat ini tidak ditarik uang sepeserpun, cukup lapor kepada abdi dalem yang menjaga bangunan ini dan mengisi buku tamu. Jika bangunan utama digunakan untuk museum, maka paviliun bagian barat pesanggrahan digunakan untuk tempat spa.

Pada dasarnya, pesanggrahan ini mudah dijangkau. Selain karena tempatnya strategis di dekat mall dan jalan utama, di depan pesanggrahan terdapat halte Trans Jogja sehingga pengunjung yang tidak memiliki kendaraan pribadi bisa mengunjungi tempat ini dengan Trans Jogja. Pengendara ojek online juga selalu siap di pinggir jalan Solo.

Masalah perut memang tidak bisa ditolerir, apalagi setelah mengeksplorasi bangunan yang luas ini. Jika uang yang ada di dompet masih banyak, anda bisa mengisi perut di Plaza Ambarukmo. Namun, jika anda ingin sedikit hemat, terdapat beberapa warung makan di seberang jalan besar.

Balekambang Pesanggrahan Ambarukmo.

Yuk, cus ke Pesanggrahan Ambarukmo.

 

  • Tiga Negara Tiga Teknik Mewarnai Kain Batik

    Pewarnaan batik dengan bahan alami merupakan hal yang umum sebelum menjamurnya pewarna sin…
  • Masjid Pathok Negara Plosokuning

    Masjid Plosokuning, Masjid Tua di Utara Jogja

    Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar masjid tua di Jogja? Pasti langsung terpikir Masji…
Muat Lagi Dari Muhammad Faiz
Muat Lebih Banyak Di Heritage