Mengurai Sejarah Stasiun Maguwo Lama Sleman

9 min read
0
44

genpijogja.com – Stasiun Maguwo Lama yang terletak 300 meter di sebelah barat stasiun Maguwo Baru (MGW, +118m) berada di bawah otoritas PT. KAI (Persero) Daerah Operasi 6 Yogyakarta.

Secara administratif, stasiun Maguwo Lama berlokasi di dusun Kembang Baru, desa Maguwoharjo, kecamatan Depok, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta atau lebih mudahnya berada di jalan Raya Jogja – Solo km.9 dan dilalui jalur aktif lintas Solo – Yogyakarta.

Mengurai Sejarah Stasiun Maguwo Lama Sleman
Mengurai Sejarah Stasiun Maguwo Lama Sleman

Stasiun Maguwo (Lama dan Baru) ini terletak di antara dua stasiun, yaitu di sebelah timur adalah stasiun Kalasan (non aktif) dan di sebelah barat adalah stasiun Lempuyangan.

Stasiun Maguwo Lama dibangun oleh perusahaan swasta Kereta Api Hindia Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) bersamaan dengan beroperasinya jalur lintas Klaten – Lempuyangan sejauh 30 km (merupakan bagian dari jalur rel rute Solo – Yogyakarta) pada tahun 1872.

Bangunan awal yang berdiri sejak awal stasiun ini ada, sempat dibongkar pada tahun 1930. Kemudian dilakukan pembangunan kembali menjadi bangunan baru, yang hingga hari ini bisa kita saksikan masih ada. Stasiun Maguwo Lama merupakan satu-satunya stasiun kereta api yang memiliki konstruksi kayu di lintas aktif dari Yogyakarta hingga Solo.

Stasiun ini merupakan saksi sejarah dari peristiwa agresi militer II Belanda ke Kota Yogyakarta pada tahun 1949. Pada saat itu, stasiun ini sebagai pusat pengangkutan para pasukan tentara Belanda setelah terjun payung dari landasan bandara Maguwo atau yang sekarang menjadi bandara Adi Sutjipto.

Presiden Soekarno berada di dalam kabin kereta KLB RI

Kisaran tahun 1960 – 1965, stasiun Maguwo Lama pernah menjadi stasiun pemberangkatan Kereta Luar Biasa RI, kereta luar biasa ini untuk mendukung perjalanan Presiden Soekarno menuju Kutoarjo. Pada tahun 1979, stasiun Maguwo Lama ditampilkan dalam film perjuangan Janur Kuning.

Arsitektur bangunan stasiun Maguwo Lama memiliki bentuk persegi panjang yang tersusun dari papan kayu jati (masih asli) baik dinding, jendela, pintu maupun tiangnya. Pada tiang teras terdapat motif hiasan geometris dan ukiran.

Stasiun ini kecil dan hanya memiliki empat ruangan yaitu ruang PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api), ruang Kepala Stasiun yang terhubung dengan loket tiket, ruang dapur dan ruang tunggu penumpang. Sementara letak toilet berada di sisi timur stasiun.

Pada halaman depan stasiun Maguwo Lama yang juga berdekatan dengan halaman warga sekitar, masih dapat kita jumpai beberapa bekas besi rel yang tidak di angkat dan sebagian tertimbun tanah.

Seperti pada umumnya stasiun kereta api buatan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), stasiun Maguwo Lama juga dilengkapi dengan rumah dinas yang dipergunakan untuk kepala stasiun.

Rumah dinas ini terletak di sisi utara dari bangunan stasiun Maguwo Lama. Kondisi bangunan rumah dinasnya kini sudah tidak layak huni, namun masih berdiri kokoh. Dinding, kerangka atap (kayu jati) dan ornamen seperti kusen pintu/ jendela rumah dinas sebagian besar masih asli.

Stasiun Maguwo Lama

Dahulu lintas Yogyakarta – Solo Balapan dilayani kereta api milik dua perusahan kolonial Belanda, yaitu Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM – swasta).

NISM merupakan perusahaan kereta api yang terlebih dahulu memulai buka jalur rel yang menghubungkan antara Stasiun Solo Balapan dengan Stasiun Lempuyangan pada tahun 1872. Jalur rel ini sejauh 58 Km yang dibuka  dengan lebar jalan rel 1435 mm.

Pada tahun 1887, NIS meneruskan jalur rel sampai ke Stasiun Yogyakarta (Tugu) bahkan sampai Bantul/ Srandakan (1895) dan Sewugalur (1916). Menyusul, kemudian perusahan milik pemerintah Kolonial Belanda, Staats Spoorwegen (Negeri, SS) buka jalur rel antara lintas Stasiun Solo Balapan dengan Stasiun Yogyakarta (Tugu) sejauh 60 km pada tahun 1929 dengan lebar jalan rel 1067 mm.

Lintasan jalur rel SS dimulai dari stasiun Solo Balapan sampai dengan jembatan kali Kuning (Maguwo) berada di posisi selatan dari jalur rel milik NIS, lalu menanjak dan menyilang melintas di atas jalur rel NIS dan Kali Kuning. Sehingga petak Maguwo (Kali Kuning) sampai dengan stasiun Yogyakarta (Tugu) posisi jalur rel SS berada di utara jalur rel NIS.

Pada lintas jalur rel antara Stasiun Solo Balapan dengan Stasiun Yogyakarta, terdapat stasiun pulau seperti stasiun Solo Balapan, stasiun Purwosari, stasiun Gawok dan stasiun Yogyakarta (Tugu). Peron sebelah utara milik NIS dan peron sebelah selatan milik SS. Sementara itu stasiun Lempuyangan ada dua, yaitu Stasiun Lempuyangan Lor/ Utara (SS) dan stasiun Lempuyangan Kidul/ Selatan yang sekarang (NIS).

Pada tahun 1942, penjajah Jepang dengan brutal membongkar banyak jalur rel kereta api, termasuk jalur milik SS. Sisa pembongkaran jalur rel tersebut hingga saat ini dapat kita temui berupa sisa gundukan tanah untuk jalur rel dan pondasi jembatan termasuk jembatan milik SS yang melintas di jalur NIS dan Kali Kuning.

Stasiun Maguwo Lama ini ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) pada tahun 2010 yang lalu. Sejak saat itu, bangunan yang dahulunya berwarna hijau, kini memiliki cat berwarna abu-abu dengan aksen putih. Rencana awal setelah pemugaran, stasiun ini akan dijadikan sebagai area edukatif dengan memfungsikannya sebagai galeri dan taman bacaan agar bermanfaat untuk masyarakat umum.

Hingga saat ini, bangunan stasiun Maguwo Lama masih belum berfungsi seperti rencana. Meski demikian, jika masyarakat umum ingin memanfaatkan bangunan stasiun Maguwo Lama untuk sarana edukasi, dapat menghubungi Humas PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 6 Yogyakarta.

Selain kegiatan tahunan komunitas yang berupa perawatan kebersihan lingkungan, area stasiun Maguwo Lama pada tahun 2017 yang lalu digunakan untuk mengadakan kelas “Mewarnai Indonesia” bersama Masyarakat Digital Jogja (Masdjo), Malamuseum, Duta Damai dan lainnya.

Pada tahun yang sama juga, Paguyuban Dimas Diajeng Kabupaten Sleman juga memanfaatkan bangunan stasiun Maguwo Lama untuk materi heritage Dimas Diajeng Cilik Kabupaten Sleman 2017. Selain kegiatan lokal, di stasiun ini juga pernah diadakan kegiatan berskala internasional, yaitu Java Summer Camp yang diadakan oleh Pemkab Sleman beberapa waktu lalu.

Load More Related Articles
Load More By Dewangga Liem
Load More In Heritage