Mengintip Jejak Sang Ophthalmologist Indonesia di Museum Dr. Yap Jogja

7 min read
0
87

genpijogja.com – Mata adalah anugerah yang diberikan Sang Pencipta bagi manusia. Mata diciptakan agar manusia dapat melihat banyak hal di sekelilingnya. Sayang, tidak semua manusia terlahir dengan kondisi raga yang sempurna. Sejumlah manusia memiliki keterbasan dengan indra penglihatannya.

Di Jogja, terdapat rumah sakit spesialis mata. Rumah Sakit Mata Dr. Yap Yogyakarta, begitulah orang-orang menyebutnya. Rumah sakit ini beralamat di jalan Cik Di Tiro No. 5 Yogyakarta. Dari arah Perpustakaan Kota, setelah perempatan cukup lurus terus ke utara. Rumah sakit ini berada di sisi kiri jalan raya.

Museum Dr.Yap Jogja

Rumah Sakit Mata Dr. Yap sudah terkenal dimana-mana. Sayang sekali, belum banyak yang mengetahui akan keberadaan museum di dalam rumah sakit ini. Ya, Rumah Sakit Mata Dr. Yap memiliki museumnya sendiri. Letaknya berada di pojok barat laut bangunan rumah sakit ini.

Museum Dr. Yap Prawirohusodo menyimpan cerita sejarah yang luar biasa, tentang sepak terjang dan dedikasi ophthalmologist atau dokter spesialis mata terkenal sejak masa Pemerintahan Hindia Belanda, Dr. Yap Hong Tjoen. Dokter ini lahir pada 30 Maret 1885 dan wafat pada 28 November 1952.

Semasa hidupnya, Dr. Yap Hong Tjoen mengalami berbagai dinamika, merasakan manis pahitnya lika-liku dunia. Kecakapan yang dimilikinya merupakan buah dari proses panjang pendidikan yang ditempuhnya. Hebatnya, Yap Hong Tjoen muda menjadi generasi pertama pelajar Tionghoa yang berangkat ke Universitas Leiden Belanda guna mendalami bidang studi medis. Yap Hong Tjoen resmi memperoleh gelar dokter spesialis mata pada 24 Januari 1919, pasca menyelesaikan disertasi yang berkaitan dengan penyakit glukoma.

Selepas menuntut ilmu di Negeri Belanda, Dr. Yap Hong Tjoen kembali ke Indonesia yang kala itu masih disebut dengan Hindia Belanda. Sebelum kembali ke Jogja, Dr. Yap Hong Tjoen sempat mendirikan klinik di Bandung. Ini menjadi titik awal karir Dr. Yap Hong Tjoen sebagai dokter ahli mata.

Museum Dr. Yap

Di Jogja, Dr. Yap Hong Tjoen mendirikan klinik mata Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders yang memberikan pelayanan kesehatan mata secara berkualitas kepada masyarakat. Dalam memberi pelayanan kepada pasiennya, Dr. Yap Hong Tjoen menunjukkan sifat humanisnya, tidak memberi pembeda pada si miskin dan si kaya. Oleh sebab itu, banyak pihak memuji perangainya. Pada masa pendudukan Jepang, klinik ini berganti nama menjadi Rumah Sakit Mata Dr. Yap.

Dr. Yap Hong Tjoen bukan seorang ophthalmologist biasa. Dalam rekam jejaknya, dia juga mendirikan Balai Mardi Wuto. Pendirian Balai Mardi Wuto berangkat dari banyaknya penduduk tuna netra yang berobat kepada Dr. Yap Hong Tjoen. Pendirian Balai Mardi Wuto terbilang sangat bermanfaat bagi para tuna netra kerena mereka dibekali berbagai keterampilan yang barang tentu berguna bagi mereka.

Operasional Rumah Sakit Mata Dr.Yap terus berjalan dari tahun ke tahun. Bahkan, mangkatnya Dr. Yap Hong Tjoen tahun 1958 pun tidak membuat pengelolaan rumah sakit ini berhenti. Mandat sebagai petinggi rumah sakit diserahkan pada putranya bernama Dr. Yap Kie Tiong. Rumah Sakit Mata Dr.Yap semasa Dr. Yap Kie Tiong semakin berkembang. Penambahan tenaga kerja dilakukan sehingga mampu mengurangi persentase penyakit mata seperti katarak dan glukoma.

Pada tahun 1969, Dr. Yap Kie Tiong wafat. Pengelolaan rumah sakit kemudian diserahkan kepada Yayasan Dr. Yap Prawirohusodo hingga sekarang. Begitu alur cerita kemunculan Rumah Sakit Dr. Yap Yogyakarta. Bagaimana dengan museumnya?

Koleksi Museum Dr. Yap

Museum Dr. Yap Prawirohusodo diresmikan pada tahun 1997 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Namun, museum ini baru dibuka untuk umum pada tahun 2010. Di museum ini, bisa dijumpai banyak barang medis seperti alat cek mata dan kursi roda tua. Alat-alat ini pernah digunakan di Rumah Sakit Mata Dr. Yap pada masanya.

Selain itu, terdapat pula beragam benda peningggalan Dr. Yap Hong Tjoen dan Dr. Yap Kie Tiong. Ada koleksi alat-alat makan, barang-barang elektronik, patung, keramik porselen gaya Cina, dan foto-foto keluarga. Salah satu yang menarik dari museum ini adalah berbagai lukisan yang dipajang. Katanya, lukisan-lukisan ini peninggalan dari Dr. Yap Hong Tjoen. Hal ini meneguhkan bahwa sebenarnya Dr. Yap Hong Tjoen pun merupakan kolektor dalam seni rupa Indonesia.

Museum Dr. Yap Prawirohusodo dapat dikunjungi setiap hari Senin hingga Sabtu, pukul 09.00-15.00 WIB. Sejauh ini, museum tidak mematok harga bagi para pengunjungnya alias gratis. Jadi, kapan mengagendakan datang kemari?

“Museum Dr. Yap Prawirohusodo worth it untuk dikunjungi karena koleksi-koleksinya menarik, lokasi yang sejuk dan nyaman karena dikelilingi pepohonan yang sudah tumbuh sejak tahun 1922, dan ada spot foto yang unik karena bangunannya termasuk bangunan cagar budaya”, ungkap Yoga Kurniawan, Duta Museum Dr. Yap Yogyakarta 2020.

Reporter: Hernawan
Editor: Pieta Dhamayanti
Load More Related Articles
Load More By Hernawan
Load More In Heritage