Mengikuti Santainya 24 Jam Bersama Gaspar

7 min read
0
82

Judul                     : 24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif

Penulis                 : Sabda Armandio Alif

Penerbit               : Buku Mojok

Bulan terbit        : April 2017

Ukuran buku      : 13 x 19,5 cm, 228 halaman

(mojok.co)

IMG_20190226_083155

 

 

Awal bulan Februari, saat menghadapi awal masa belajar, saya disodori buku bersampul dominan gelap ini. Sebuah cerita detektif, tercetak ungu dan membuat saya buru-buru membuka sampul depan. Setelah sebuah pengantar yang berisi pesan berikut

“Ingat, sahabat, tiada yang lebih berbahaya selain cerita yang memaksamu percaya bahwa kebaikan selalu mengalahkan kejahatan, sebab ia akan membuatmu tumpul dan zalim.” – pengantar dari Artur Harahap.

Saya bertemu dengan Gaspar, sang tokoh utama berumur 35 tahun. Armandio menggambarkannya sebagai sosok dengan tekad kuat atas kemauannya tanpa perlu mempertanyakan nilai. Buat saya Gaspar masih hidup di bumi tentu saja, tapi entah bagian mana.

Perhitungan 24 jam dalam perjalanannya merampok toko emas sama sekali tak terburu-buru. Ia masih sempat mengumpulkan dua perempuan dan tiga laki-laki sebagai kroninya. Ia bahkan masih sempat menceritakan ulang novel yang ia baca sebagai studi pustaka pertama yang membuatnya gigih melaksanakan pencurian.

Tentu, Gaspar juga punya ajian sakti mandraguna. Pada bagian awal, rengekan Kim Jong Il masa kecil bisa berhenti karena mendengar namanya. Sepanjang cerita, semua orang yang diajaknya takluk tanpa banyak pemaksaan. Semua orang punya waktu luang untuk mencuri bersamanya. Tak peduli ia adalah teman lama yang ditemuinya di tepi jembatan atau seorang nenek tua yang kerap lupa ingatan.

Setiap tokoh dalam cerita ini hadir seperti begitu saja dijejalkan. Nyatanya, semakin dekat waktu perampokan, Armandio memberikan satu demi satu lapisan masa lalu yang dipunya setiap karakter. Ini juga berlaku untuk Gaspar.

Perjalanan 24 jam Gaspar seperti sebuah paradoks. Cerita ini membiarkan waktu menunggu, di sinilah letak kesamaan novel ini dengan cerita-cerita detektif lain. Bagian dari buku ini banyak yang harus dibaca saksama untuk memahami kesinambungan dan mencari alasan adanya tiap karakter bahkan sebuah tindakan. Meski terkesan serius dan tokoh-tokohnya depresif, banyak hal lucu yang tidak bisa diabaikan sepanjang isi cerita.

Percakapan seorang nenek dengan petugas kepolisian yang terjadi paralel dengan kisah utama juga membuat senyum-senyum jengkel terbit. Beberapa ironi yang dimasukkan dalam percakapan antar tokoh juga memang sengaja diletakkan untuk memancing tawa.

Hal mendebarkan yang ada dalam buku ini adalah kemungkinan namamu masuk dalam ocehan sang tokoh utama di lembar berikutnya. Ada beberapa nama (dan peristiwa) terkenal di negeri ini yang diselipkan oleh penulis. Nama-nama lain tentu saja fiksi, tapi menggabungkan keduanya adalah bentuk kekuatan dari novel ini.

Saya bahkan sudah menerima kemungkinan bila suatu hari duduk bersebelahan dengan Gaspar, Kik, Afif, atau Njet di dalam commuterline yang tak begitu penuh dan mereka mulai berkisah secara langsung tentang isi toko emas Wan Ali dan kotak hitam yang menjadi obsesi.

Banyak hal yang telah dilalui setiap tokoh dalam 24 Jam Bersama Gaspar bukan hanya berisi tebak-tebakan cerita kemana Cortazar (motor kesayangan Gaspar) akan mengarahkan mereka. Lama kelamaan, buku ini juga menyentil bagaimana selama ini kita melakukan banyak pembenaran atas nama kebaikan yang sering dikarang-karang sendiri.

“Orang-orang baik melakukan hal jahat dan beralasan apa yang dia lakukan demi kebaikan. Kita akan selalu menemukan pembenaran terhadap apapun. Kalau kau tak mau balas dendam, kau cuma perlu berpikir perampokan ini untuk kebaikan bersama”. Hal. 139

Dialog-dialog semacam ini beberapa kali muncul sepanjang cerita. Hal ini mengingatkan saya tentang sepenggal pesan, “Pada hakikatnya semua orang itu baik.” Pesan ini bukan hanya sekali saya dengar selama hidup, tapi mungkin yang saya dengar tak begitu lengkap. Armandio menyempurnakannya di benak saya menjadi “Pada hakikatnya semua orang itu baik, menurut pandangannya.”

Oleh karenanya, pesan pengantar yang dituturkan Artur Harahap – yang juga fiksi – mungkin adalah benar. Kita seringkali hanya menolak kenyataan beberapa kejahatan (besar) di depan mata pelan-pelan menenggelamkan kebaikan bersama yang selama ini dipelihara.

Cerita ini dimulai dan diakhiri dengan cara yang sama. Pembaca tak boleh manja dengan awal dan akhir kisah. Buku ini memberi kebebasan pembaca untuk menerka atau kalau mau mengumpat sekenanya setelah perjalanan 24 jam selesai. Tugas Gaspar dan teman-temannya memang hanya sampai sana, sesuai janji pada judulnya.

Load More Related Articles
Load More By rizkaita
Load More In Buku