Home Heritage Mengenal Kriptografi di Museum Sandi

Mengenal Kriptografi di Museum Sandi

5 menit waktu baca
20

Wisata sejarah nampaknya menjadi daya tarik tersendiri. Menyelami masa lalu menjadi aktivitas yang sayang untuk dilewati. Museum menjadi salah satu wahana yang tersedia untuk kita menengok memori masa lalu. Jogja memiliki puluhan museum yang bisa menjadi opsi untuk dikunjungi. Salah satunya museum sandi, museum Kriptografi satu-satunya di Indonesia.

Apa itu Kriptografi? Kriptografi atau Cryptology merupakan gabungan dari dua kata yakni Crypto dan Logos. Padanan dua kata berbahasa Yunani ini berarti ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan pengrahasiaan pesan, berita, maupun kata-kata.

Persandian sendiri sebenarnya sudah dikenal sejak sekitar 4000 tahun yang lalu. Berawal dari Mesir dengan hieroglyph-nya. Bagaimana dengan persandian dalam lingkup Pemerintahan Indonesia? Persandian sudah dikenal Pemerintahan Indonesia sejak awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sandi sangat berguna sebagai wahana komunikasi. Termasuk komunikasi antara Pemerintahan Indonesia yang waktu itu berpusat di Yogyakarta dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang ada di Bukit Tinggi. Persandian juga bisa membuat dunia tahu bahwa Indonesia masih ada.

Sebenarnya, museum Sandi merupakan museum yang usianya masih cukup muda. Usianya baru menginjak sepuluh tahun terhitung sejak diresmikan pada 29 Juli 2018 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Gubernur DIY, dan Kepala Lembaga Sandi Negara. Meskipun demikian, gagasan pendirian museum ini sudah ada beberapa tahun sebelumnya. Pendirian Museum ini digagas oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, pada saat beliau menerima kunjungan dari Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN). Gagasan ini tercetus pada tahun 2006. Namun, gempa yang sempat melanda Jogja pada tahun yang sama menghambat pendirian museum ini.

Museum Sandi terbagi atas ruangan-ruangan. Beberapa diantaranya ruang Pengenalan, Ruang Agresi Militer I, Ruang Agresi Militer II, Maket Dukuh, Ruang Merdeka, Ruang Nusantara, dan Ruang Sandi Global. Koleksi ini menyimpan berbagai piranti persandian yang menarik. Salah satu yang paling menarik menurut saya adalah Skytale Greek. Piranti ini merupakan alat persandian yang digunakan bangsa Yunani Kuno dan bangsa Sparta. Mereka menggunakan sandi ini untuk berkomunikasi selama kampanye militer. Alat ini terdiri atas sebuah tongkat yang pada sekelilingnya diikatkan sejenis perkamen atau kulit yang berisi pesan. Alat ini biasanya digunakan oleh Komandan Militer.

Museum Sandi terletak di tengah hiruk pikuk Yogyakarta. Pada awalnya, museum ini terletak di Mergangsan. Satu tempat dengan Museum Perjuangan Yogyakarta. Namun sejak tahun 2014 hingga sekarang, museum ini memiliki tempatnya sendiri. Museum ini terletak di kawasan Indis, Kotabaru. Jangan salah, museum ini juga menempati bangunan beraksen Indis. Dahulu, bangunan Museum ini pernah digunakan oleh AURI. Alamat museum ini adalah Jalan Faridan M. Noto No.21 Yogyakarta. Akses ke museum ini pun sangat mudah. Bisa ditempuh dengan beragam cara, dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Di samping gerbang masuk museum ini terdapat halte Trans Jogja yang bisa digunakan apabila ingin menggunakan Trans Jogja.

Museum ini tidak memungut retribusi masuk. Hemat bukan? Museum ini sendiri buka setiap hari. Untuk hari Senin sampai Jumat, museum buka mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00. Sedangkan untuk hari Sabtu dan Minggu, museum buka pukul 09.00 sampai pukul 15.00. Museum ini memang menarik untuk dikunjungi. Kita bisa belajar tentang persandian yang ternyata berperan penting dalam kedaulatan sebuah bangsa. Selain mendisplay koleksi yang bisa kita lihat, museum ini juga menyediakan berbagai ruang yang bisa dimanfaatkan. Ada ruang komunitas yang bisa kita pakai untuk berkumpul dengan komunitas kita dan juga perpustakaan yang menyimpan beberapa koleksi buku.

Muat Lagi Dari Hernawan
Muat Lebih Banyak Di Heritage