Mengayuh Mimpi Bersama Jogja Onthel Community

5 min read
0
166

Komunitas yang diketuai oleh Tri Mulyono ini adalah salah satu komunitas sepeda onthel di Jogja yang terbentuk sejak tahun 2002. Bermula dari sekumpulan anak muda yang sering nongkrong di depan Gedung Agung Yogyakarta antara lain kang Ryan, kang Venot, kang Kuncung, dan pak Tono. Adanya kesamaan tunggangan yang sering mereka gunakan untuk nongkrong, yaitu sepeda onthel.

Ketika dirasa semakin banyak anak muda yang kemudian ikut nongkrong dan memarkirkan sepeda onthel mereka di Gedung Agung Yogyakarta. Pada tanggal 1 April 2002, sebanyak 120 orang mengikrarkan diri membentuk Jogja Onthel Community ( J.O.C ) di Alun-Alun Selatan. Adanya Jogja Onthel Community, selain untuk melestarikan alat transportasi zaman dulu, juga untuk mengurangi adanya polusi udara yang di rasa kian hari kian meningkat jumlahnya.

JOGJA ONTHEL COMMUNITY

Karena sejak awal Jogja Onthel Community bertemu dan berkumpul di depan Gedung Agung Yogyakarta, maka di tempat itulah ditetapkan sebagai tempat tongkrongan mereka. Sabtu malam di pilih sebagai hari di mana mereka berkumpul atau nongkrong. Untuk jam nongkrong biasanya sekitar pukul 20.00 WIB.

Jogja Onthel Community memiliki anggota yang berasal dari berbagai golongan masyarakat. Mulai dari yang masih berstatus pelajar sekolah sampai yang sudah bekerja. Syarat untuk menjadi anggotanya pun tergolong mudah, asal memiliki sepeda onthel sudah bisa mengikuti nongkrong dan mengikuti serangkaian kegiatan di malam minggu. Tak perlu cemas, di Jogja Onthel Community tak melulu harus menggunakan sepeda onthel yang masih original. Sepeda onthel yang sudah di modifikasi pun diperbolehkan menjadi anggota komunitas.

Namun untuk bisa menjadi anggota resmi yang nantinya diperbolehkan memiliki kaos sebagai identitas keanggotaan, mereka harus melewati ospek terlebih dahulu. Untuk ospeknya sendiri bermacam-macam, ada yang harus berjalan memutari Alun-alun Selatan, ada yang harus berjalan dari selatan Stasiun Tugu Yogyakarta sampai depan Gedung Agung Yogyakarta dengan menuntun sepeda mereka.

Tak hanya berjalan dan menuntun sepeda, para anggota yang sedang menjalani ospek ini biasanya disuruh untuk melepas kaos mereka atau melipat salah satu celana panjang mereka. Terlihat sedikit sadis, tapi itu semua bertujuan untuk melatih mental mereka.

“Anggota JOC yang tercatat saat ini mencapai 500 orang, tetapi yang masih sering kopdar kurang lebih sekitar 30 orang”, ucap Okky selaku sekretaris Jogja Onthel Community yang juga merupakan warga Panembahan Senopati.

Kegiatan mereka selain nongkrong, biasanya juga mengadakan konvoi keliling kota. Kegiatan ini biasanya mereka lakukan selepas rapat rutin di mana di rapat akan dijelaskan jalan mana saja yang akan dilalui. Tak hanya itu, rapat yang mereka adakan sekaligus untuk memberikan informasi mengenai agenda minggu depan, termasuk juga pengumpulan uang kas.

Kegiatan pengumpulan uang kas ini biasa disebut dengan istilah “topi mubeng”. Dinamakan seperti itu karena pengumpulan uang kasnya menggunakan topi dari salah satu anggota yang hadir. Besarannya tidaklah ditentukan, alias seikhlasnya. Selain digunakan sebagai kas komunitas, uang hasil “topi mubeng” digunakan untuk kegiatan sosial dan juga untuk memberi sedikit bekal kepada anggota yang touring ke luar kota.

“Kemarin acara Pawai Obor Asian Games kami juga diundang untuk ikut memeriahkannya juga”, tambah Okky.

Adapun alamat kesekretariatannya sendiri bertempat di jalan Suryomentaraman No. K9 RT.052 RW.014 Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta, 55131. Jadi, segala urusan surat menyurat bisa ditujukan ke alamat tersebut.

JOGJA ONTHEL COMMUNITY

Load More Related Articles
Load More By ardiphoto
Load More In Community