Menengok Jejak Kemaritiman Bangsa di Museum Bahari Yogyakarta

6 min read
0
190

Sejarawan Indonesia bernama A.B Lapian pernah berkata, “Indonesia bukan pulau-pulau yang dikelilingi laut, melainkan laut yang ditaburi pulau-pulau”. Pernyataan A.B Lapian berangkat dari Indonesia yang sebagian besar wilayahnya berupa perairan (laut). Laut bersifat vital bagi Indonesia, laut bak sahabat bagi masyarakat kita.

Pernah mendengar lagu Nenek Moyangku Orang Laut karangan Ibu Soed? Dalam lagu tersebut digambarkan bahwa nenek moyang kita, para pendahulu bangsa Indonesia, adalah pelaut yang ulung dalam mengarungi samudra.

Dalam catatan sejarah Indonesia, pernah ada kerajaan dengan kemaritiman yang jaya. Tidak lain Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya pernah disebut sebagai kerajaan maritim terbesar se-Asia Tenggara pada masanya.

Sebagai negara kepulauan, perairan atau kelautan menjadi salah satu komponen penting yang harus dijaga Indonesia. Kedaulatan negara bisa jadi akan goyah seiring lemahnya kekuatan sektor kelautan Indonesia. Oleh sebab itu, dibentuklah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) yang bertanggung jawab atas operasi pertahanan negara di wilayah laut negara Indonesia. Laut yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote.

Menengok jejak kemaritiman bangsa Indonesia menjadi penting bagi kita. Setidaknya, kita lantas akan mengerti potensi kelautan yang sesungguhnya dimiliki oleh bangsa kita sendiri. Melihat jejak sejarah kemaritiman bangsa salah satunya dapat dilakukan dengan mengunjungi Museum Bahari Yogyakarta.

Museum Bahari Yogyakarta terletak di Jalan R.E Martadinata 69 Wirobrajan, Yogyakarta. Museum ini tak jauh dari pusat kota, tidak lebih dari dua kilo meter dari Titik Nol KM Jogja. Museum ini pun tak sulit diakses dengan kendaraan apa saja. Namun, kendaraan pribadi lebih direkomendasi sebab halte Trans Jogja cukup jauh dari museum ini.

Menemukan museum ini tak sesulit mencari jarum dalam jerami. Museum ini terletak di tepi jalan raya dengan papan nama yang cukup besar di depannya. Museum ini satu tempat dengan Hotel Keluarga Samudra Yogyakarta.

Museum Bahari Yogyakarta berdiri atas prakarsa Laksamana Madya TNI Yosafat Didik Heru Purnomo. Sejak diresmikan pada 25 April 2009 silam, museum ini mulai beroperasi dengan tujuan untuk membuka wawasan dan pengetahuan kemaritiman bagi generasi muda. Dengan harapan, generasi muda nantinya bisa memberdayakan dengan sebaik-baiknya potensi yang tersedia di Laut Indonesia.

Museum Bahari Yogyakarta memiliki empat ruang utama yang dapat kita jelajahi. Antara lain Ruang Koleksi Lantai I, Ruang Koleksi Lantai II, Ruang Audiovisual, dan Ruang Anjungan Kapal. Dengan mengunjungi keempat ruangan ini, kita akan menambah khazanah pengetahuan yang kita miliki.

Sebagian besar koleksi yang dipamerkan museum Bahari Yogyakarta adalah koleksi pribadi Laksamana Madya TNI Yosafat Didi Heru Purnomo, selaku pendiri dari museum ini. Sebagian lain didapatkan dari hibah berbagai pihak, salah satunya hibah dari Museum Bahari Surabaya.

Koleksi yang dipamerkan di museum ini cukup banyak dan beragam. Beberapa koleksi antara lain kenang-kenangan dari lawatan orang luar negeri, senjata meriam, kemudi kapal, miniatur berbagai barang yang biasanya tersedia di kapal perang, dan kelengkapan-kelengkapan yang dipakai TNI. Koleksi tersebut kita jumpai di Ruang Koleksi Lantai I dan II.

Sementara itu, di ruang audio visual dapat kita nikmati suguhan film dokumentasi. Film dokumentasi yang tersedia di museum ini tentu dokumentasi yang berhubungan dengan dunia kelautan, termasuk dokumentasi TNI AL yang menjaga laut Indonesia.

Menurutku, ruang paling menarik di museum ini adalah Ruang Anjungan Kapal yang terletak di atas ruang audio visual museum Bahari Yogyakarta. Ruang Anjungan Kapal Museum Bahari didesain selayaknya anjungan kapal sebenarnya. Di ruang ini, kita diajak untuk menengok replika ruang kendali kapal. Tempat dimana komando pusat berasal.

Museum ini merupakan rekomendasi bagi kita yang mau tahu sejarah dengan biaya murah. Dengan mengeluarkan Rp 2000,- saja, kita bisa menjelajahi dan mengambil pelajaran dari Museum Bahari Yogyakarta ini. Museum ini bisa dikunjungi setiap hari Selasa sampai Minggu, pukul 8.30-15.30 WIB. JAS MERAH, Jangan sekali-kali melupakan sejarah!

Load More Related Articles
Load More By Hernawan
Load More In Heritage