Menelusuri Jejak Pendiri Kraton Jogja Melalui Pameran Sekaten 2019

9 min read
0
114

genpijogja.com – Rangkaian Hajad Dalem Sekaten Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tahun 2019 memberikan kesan yang berbeda kepada warga Jogja. Bukan tentang Pasar Malam yang ditiadakan, melainkan kegiatan Pameran Sekaten yang digelar secara tematik.

Menelusuri Jejak Pendiri Kraton Jogja Melalui Pameran Sekaten 2019
Menelusuri Jejak Pendiri Kraton Jogja Melalui Pameran Sekaten 2019

Jika tahun-tahun sebelumnya koleksi yang ditampilkan di museum Kagungan Dalem Siti Hinggil selalu sama, tahun ini publik dikejutkan dengan hal-hal baru yang ditawarkan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pameran Sekaten 2019 menyajikan koleksi Keraton bertema pendiri Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Pameran Sekaten dengan tajuk “Sri Sultan Hamengku Buwono I: Menghadang Gelombang, Menantang Zaman” menghadirkan sejarah, berbagai peninggalan dan kenangan publik pada sultan pertama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut. Mulai tahun ini pula, diharapkan akan ada tema-tema baru di pameran sekaten selanjutnya.

Pameran Sekaten 2019 digelar selama 9 (sembilan) hari sejak Jumat (01/11) hingga hari Sabtu (09/11) di Kagungan Dalem Siti Hinggil Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sri Sultan HB I lahir dengan nama Bendara Raden Mas Sujono (BRM Sujono). Beliau merupakan adik Sultan Paku Buwono II Keraton Surakarta dari ibu yang berbeda. Awalnya, BRM Sujono berpihak pada kakaknya melawan kekuasaan VOC, sebelum akhirnya berpindah kubu, berpihak kepada Raden Mas Said (pendiri Mangkunegaran) yang awalnya dianggap sebagai pemberontak. Dari sinilah orang-orang menyebut BRM Sujono sebagai politikus ulung.

BRM Sujono, kelak bergelar sebagai Sri Sultan HB I, bukan hanya seorang raja yang cerdas dalam bidang politik, beliau adalah panglima perang yang tangguh, arsitek yang jenius dan seniman yang handal.

Segala cerita tentang keahlian beliau dalam berbagai bidang dikemas Pameran Sekaten 2019 sehingga masyarakat dapat belajar dan memahami sosok beliau sebagai Sultan sekaligus cendekiawan.

Menelusuri Jejak Pendiri Kraton Jogja Melalui Pameran Sekaten 2019
Menelusuri Jejak Pendiri Kraton Jogja Melalui Pameran Sekaten 2019

Sumbu imajiner merupakan salah satu karya ciptaan Sri Sultan HB I sebagai seorang arsitek yang jenius. Sumbu imajiner adalah poros yang membentuk suatu garis lurus bermakna filosofis, membentang dari utara hingga selatan dimulai dari Gunung Merapi – Tugu Pal Putih – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat – Panggung Krapyak – Laut Selatan.

Penciptaan poros sumbu imajiner inilah yang otomatis membentuk keunikan dalam tata ruang pembangunan kota dan wilayah Jogja. Ditambah dengan makna simbolis dari penciptaan sumbu imajiner itu sendiri, di mana melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (Hablun min Allah), manusia dengan manusia (Hablun min nannas) dan manusia dengan alam.

Karya Sri Sultan HB I tidak hanya ada di bidang arsitektur, beliau juga seorang seniman mumpuni. Dalam salah satu Babad Ngayogyakarta, diceritakan bahwa Sri Sultan HB I sedang menari bersama putera mahkota.

Hal ini menunjukkan berarti Sri Sultan HB I pun seorang penari. Tidak hanya menitah, tetapi  beliau sendirilah yang mengajarkan tari-tarian. Dahulu kala, Sri Sultan tidak hadir langsung dalam pernikahan putera-putrinya. Namun, karena rasa cinta, beliau mengirimkan hadiah berupa tarian yang dianggap mewakili kehadirannya sebagai seorang ayah dan Sultan.

Beksan Lawung, Wayang Wong Lakon Gandawerdaya, Beksan Sekawanan Entheng, Tugu Wasesa dan Guntur Segara serta tari pusaka Bedhaya Semang, merupakan beberapa hasil karya seni Sri Sultan HB I.

Pada setiap karya seni ciptaannya, Sri Sultan HB I menyisipkan nilai filosofis. Seperti contohnya nyawiji (penjiwaan total), greget berarti semangat tanpa bertindak kasar, sengguh artinya penuh percaya diri namun rendah hati, ora mingkuh berarti pantang mundur dan disiplin diri.

Keempat falsafah warisan dari Sri Sultan HB I inilah yang hingga hari ini masih dipegang teguh orang Jawa dan melahirkan watak ksatria sebagai rujukan untuk meningkatkan etos kerja masyarakat.

Pameran Sekaten 2019 menyediakan 4 (empat) ruang pameran yang menghadirkan banyak peninggalan Sri Sultan HB I seperti manuskrip dan benda koleksi sakral. Selama berada di dalam ruangan, usahakan jangan banyak bicara dan bercanda terlalu keras agar tidak mengganggu pengunjung lain.

Jangan lupa untuk tidak memotret pajangan, khususnya benda koleksi yang sekiranya asli dan sudah rapuh agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Ketika berkunjung ke pameran, taatilah peraturan yang ada. Sebab, pameran Sekaten berada di Kagungan Dalem Siti Hinggil Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang memiliki peraturan tersendiri ketika kita memasukinya.

“Yang pasti kami sedang berusaha memberikan pengertian pada pengunjung tentang pemberlakuan peraturan ketika memasuki kawasan Keraton, yang mungkin menurut beberapa orang tidak masuk akal. Seperti harus membuka topi dan pelarangan merokok”, ujar abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Pak Bima yang kemarin bertugas menjaga pameran Sekaten 2019 saat saya berkunjung.

Menelusuri Jejak Pendiri Kraton Jogja Melalui Pameran Sekaten 2019
Menelusuri Jejak Pendiri Kraton Jogja Melalui Pameran Sekaten 2019

Kegiatan Pameran Sekaten tidak hanya tentang sejarah dan peninggalan Sri Sultan HB I. Pada tanggal 2, 4, 5, 6, 8 November, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga mengadakan pelatihan batik, gamelan dan tari di Bale Bang, sisi timur Kagungan Dalem Siti Hinggil. Selain itu, akan diadakan pemutaran film dan diskusi dengan tema yang berbeda-beda di tiap pertemuannya mulai pukul 19.00 sampai dengan 22.00 WIB.

Beberapa hasil karya Sri Sultan HB I juga akan dipentaskan di Bangsal Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ini pertama kalinya beksan ciptaan Sri Sultan HB I diperbolehkan ditonton oleh masyarakat umum.

Jika Beksan Guntur Segoro dimainkan pada pembukaan pameran Sekaten pada tanggal 1 November, maka Beksan Tugu Waseso akan dipentaskan kepada publik saat penutupan pameran Sekaten, yaitu pada tanggal 8 November nanti.

Tiket masuk pameran Sekaten di Kagungan Dalem Siti Hinggil Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat hanya dikenakan biaya sejumlah Rp5.000 per orang. Murah sekali, bukan? Berbekal tiket ini kalian bisa menonton beksan di Bangsal Pagelaran secara gratis dan mengikuti semua workshop, pemutaran film dan diskusi.

Sudah siap menambah pengetahuan? Yuk, catat tanggal dan ajak teman-temanmu untuk datang ke sini!

Baca juga artikel terkait Sekaten atau tulisan menarik lainnya Almas.
Load More Related Articles
Load More By Dzatarisa Almas
Load More In Event