Mencicipi Soto Lenthok Pak Sadari Yang Melegenda

7 min read
0
24

genpijogja.com – Siapa sih manusia di bumi Nusantara yang tidak pernah dengar makanan bernama “soto”?

Soto, yang juga dikenal sebagai sroto, sauta, tauto atau coto ini adalah salah satu kuliner makanan Nusantara berisi sayur-sayuran yang kuahnya terbuat dari kaldu daging dan rempah-rempah seperti kunyit dan lengkuas.  Ketika terdapat acara seperti senam masal atau jalan sehat, menu kuliner yang seringkali disajikan adalah soto.

Pun saat bepergian ke luar kota, saya selalu menemui warung-warung yang menjajakan menu soto. Coba susuri satu per satu daerah di Nusantara dari Sabang hingga Merauke. Pasti Anda akan menemui setidaknya satu warung soto di tiap kotanya.

Baca juga: Pucuk Dicinta, Mie Lethek Mbok Cempluk Pun Tiba
The Legend: Soto Lenthok Pak Sadari
The Legend, Soto Lenthok Pak Sadari

Dalam penelitian Ary Budiyanto dan Intan Kusuma Wardhani berjudul “Menyantap Soto Melacak Jao To Merekontruksi (Ulang) Jejak Hibriditas Budaya Kuliner Cina dan Jawa”, disebutkan bahwa Nusantara mengenal soto pertama kalinya di pesisir pantai utara Jawa pada abad ke-19 Masehi.

Saat itu, soto merupakan makanan Cina bernama Caudo (Jao To) yang berisi mie atau soun, bawang putih goreng yang disantap menggunakan sendok bebek dan mangkok sup, peralatan makan sup yang jamak di Cina.

Hampir  semua daerah di Nusantara pasti memiliki kuliner soto dengan cara penyajian khasnya masing-masing. Dari daerah Banyumas, ada Soto Sokaraja yang kuahnya terbuat dari bumbu sambal kacang dan disantap dengan kerupuk warna-warni.

Berbeda dengan Soto di Makassar yang dikenal dengan sebutan Coto Makassar atau Coto Mangkasara. Makanan tradisional Makassar ini dibuat dari jeroan (isi perut) sapi yang direbus lama, kemudian diiris-iris dan dibumbui dengan bumbu khusus, lalu disajikan dengan ketupat atau “burasa”.

Kalau Makasar memiliki coto Mangkasara dan Banyumas dengan Soto Sokaraja-nya, Jogja pun memiliki soto khasnya sendiri yang dinamakan Soto Lenthok. Warung Soto Lenthok Pak Sadari, begitu nama yang disematkan pada warung penjaja Soto Lenthok yang melegenda tersebut.

Baca juga: Es Jellygar Yang Menyegarkan
The Legend: Soto Lenthok Pak Sadari
The Legend: Soto Lenthok Pak Sadari

Suatu hari, saya tak sengaja melirik papan petunjuk yang bertuliskan Soto Lenthok Pak Sadari, Kuliner Tempo Doeloe. Saya jadi teringat masa kecil saat Bapak sering kali mengajak kami sekeluarga sarapan Soto Lenthok.

Tanpa berpikir panjang, saya mengikuti petunjuk arah yang menuntun pada cabang Warung Soto Lenthok Pak Sadari di jalan Bantul KM.6.5 Mrisi, Bantul. Lokasinya tidak jauh dari Pasar Niten, sekitar 100 meter dari jembatan Niten belok kanan. Soto Lenthok Pak Sadari berada di sebelah kanan jalan.

Perbedaan soto lenthok dengan variasi soto daerah lain adalah soto ini disantap dengan makanan pendamping bernama Lenthok yang terbuat dari tumbukan singkong yang digoreng. Cita rasa yang disumbangkan lenthok membuat soto lenthok Pak Sadari menjadi lebih gurih dan nikmat.

Satu porsi soto lenthok Pak Sadari bisa dinikmati diharga Rp8.000 dengan 1 (satu) lenthok sebagai pendamping. Menurut saya, seporsi soto tidak cukup dinikmati dengan satu buah lenthok. Untungnya, warung soto Pak Sadari telah disediakan banyak lenthok apabila para pelanggan ingin tambah atau hanya untuk sekadar menggado (makan lauk sebagai camilan-bahasa Jawa), tentu saja dengan tambahan harga Rp.1.000 per buahnya.

Pak Joko, pengelola cabang soto lenthok Pak Sadari di Bantul menjelaskan bahwa lenthok sebenarnya berasal dari Gunungkidul. Pak Sadari, ujar beliau, telah menjajakan soto lenthok sejak tahun 80-an dengan cara pikulan berkeliling kota. Hingga akhirnya Pak Sadari menemukan tempat strategis untuk menetap dan menjual soto lenthok racikannya.

“Tempat pertama beliau berjualan soto di jalan Hayam Wuruk, Yogyakarta. Cabang soto lenthok Pak Sadari sudah ada 7 (tujuh) untuk sekarang. Cabang yang ini termasuk masih baru. Baru sekitar 5 (lima) tahun yang lalu”, ujar Pak Joko saat ditanya mengenai perjalanan soto lenthok Pak Sadari.

Warung soto lenthok Pak Sadari tidak hanya tersebar di jalan Brigjend Katamso dan jalan Hayam Wuruk Kota Yogyakarta. Bagi warga Bantul yang tidak ingin jauh-jauh ke Yogyakarta, cabang soto lenthok Pak Sadari juga terdapat di jalan Parangtritis KM.5 Sewon, jalan Bantul KM.6.5 Mrisi dan di Niten.

Waktu yang tepat untuk menikmati soto lenthok adalah ketika sarapan dan langsung disantap saat hangat. Bisa dengan cara mencicipi kuahnya atau merasakan gurih lenthok terlebih dahulu.

Kalau kamu, bagaimana cara menikmati soto lenthok versi kamu?

Baca juga artikel tentang Kuliner atau tulisan menarik lainnya Almas.
Load More Related Articles
Load More By Dzatarisa Almas
Load More In Kuliner