Home Tips Memahami Teori Segitiga Eksposur Dalam Fotografi

Memahami Teori Segitiga Eksposur Dalam Fotografi

6 menit waktu baca
35
Segitiga Eksposur

Fotografi adalah hal yang sangat lekat dengan masyarakat digital. Hampir setiap orang memiliki gawai yang sudah dilengkapi dengan kamera. Kegiatan fotografis kini bukan hanya milik fotografer ataupun para wartawan foto. Kemudahan yang dihadirkan telepon pintar dengan fitur otomatisnya membuat semua orang menilai dirinya adalah fotografer.

Pada beberapa kasus mereka beralih ke kamera digital dan beranggapan bahwa cara pengoperasiannya sama seperti kamera telepon seluler. Pada kondisi ideal dengan cahaya cukup, foto yang baik sudah hampir pasti dihasilkan oleh kamera yang semakin hari teknologinya semakin canggih.

Ketika kondisi sudah mulai beranjak dari ideal, gelap misalnya, kamera akan mulai kesulitan untuk menghasilkan foto yang bagus. Keadaan inilah yang menuntut setiap orang ingin serius mempelajari fotografi harus paham tentang teori Segitiga Eksposur.

Teori Segitiga Eksposur adalah teori dasar fotografi yang memungkinkan mereka yang mempelajarinya tetap dapat menghasilkan foto yang baik pada kondisi yang tidak ideal sekalipun.

Teori ini menjelaskan tentang tiga parameter yang mempengaruhi foto yang kita hasilkan. Ketiga parameter tersebut adalah Diafragma, Shutter Speed and ISO. Parameter-parameter ini saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Berikut adalah penjelasan tentang Segitiga Eksposur.

Nilai masing-masing parameter eksposur dan efek yang dihasilkannya.

Diafragma

Diafragma adalah bukaan lensa yang dilewati cahaya sebelum akhirnya direkam oleh sensor. Semakin besar diafragma maka semakin banyak cahaya yang bisa mencapai sensor perekam. Nilai diafragma ini berurutan dari 1.4, 2, 2.8, 4, 5.6, 8 dan seterusnya.  

Ada yang unik tentang cara membaca nilai diafragma ini. Angka diafragma yang kecil mewakili bukaan diafragma yang besar, sedangkan angka diafragma yang besar justru mewakili bukaan diafragma yang kecil.

Bukaan diafragma juga berpengaruh terhadap ruang tajam yang dihasilkan dalam foto. Bukaan diafragma besar membatasi ruang tajam hanya disekitar titik fokus lensa saja, sedangkan bukaan diafragma kecil memperluas area yang berada di ruang tajam.

Shutter Speed

Shutter speed adalah kecepatan membuka tirai yang berpengaruh terhadap jumlah cahaya yang mampu direkam oleh sensor kamera. Semakin cepat shutter speed, cahaya yang masuk dan mampu direkam sensor menjadi sedikit. Sebaliknya semakin lambat shutter speed maka jumlah cahaya yang mampu direkam oleh sensor menjadi lebih banyak. Contoh nilai shutter speed adalah 1/60, 1/125, 1/250, 1/500 dan seterusnya.

Nilai shutter speed juga memiliki pengaruh terhadap tajam tidaknya foto yang dihasilkan. Nilai shutter speed tinggi akan menghasilkan foto yang tajam karena akan membekukan gerakan. Kondisi sebaliknya terjadi pada shutter speed rendah yang menghasilkan foto tidak tajam akibat pergerakan obyek.

ISO

ISO adalah sensitivitas sensor kamera saat merekam cahaya. ISO rendah baik untuk digunakan saat merekam foto dalam kondisi cahaya melimpah. Sedangkan ISO tinggi baik digunakan pada kondisi minim cahaya.

Nilai ISO itu antara lain 100, 200, 400 dan seterusnya. Saat ISO rendah digunakan pada kondisi minim cahaya, maka kita harus mengkompensasikannya dengan bukaan diafragma yang besar atau shutter speed yang lambat (lama).

Hal ini bertujuan agar jumlah cahaya yang masuk dan direkam sensor cukup untuk menghasilkan foto yang eksposurenya tepat. Penggunaan ISO tinggi pada kondisi minim cahaya memungkinkan hadirnya noise pada foto. Bagi mereka yang risih, kehadiran noise ini cukup mengganggu.

Ketiga parameter eksposure diatas saling mempengaruhi. Kita bisa meningkatkan shutter speed dengan menggunakan diafragma yang besar atau meninggikan nilai ISO. Pada kondisi minim cahaya kedua cara meningkatkan shutter speed di atas bisa diaplikasikan secara bersamaan.

Contoh lain pada kondisi yang teramat terik, maka mengecilkan diafragma, meningkatkan shutter speed dan menurunkan nilai ISO adalah langkah yang sama untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke sensor kamera.

Pemahaman yang baik tentang teori Segitiga eksposur akan memungkinkan mereka yang mempelajarinya untuk mengeksplorasi lebih jauh Teknik fotografi kreatif. Setelah berhasil memahami teori segitiga eksposur, maka kita dapat mengendalikan sendiri seperti apa foto yang akan dihasilkan.

Muat Lagi Dari Hardybreck
Muat Lebih Banyak Di Tips