Memahami Arti Keluarga Melalui Kesederhanaan Keluarga Cemara

5 min read
8
119

Pada saat itu Euis terlihat kaget. Peci hadiah ulang tahun Abah ternyata lebih besar ukurannya, jadi masih bisa di putar-putar di kepala.

“Ara, bagaimana sih? Kok kebesaran?”

“Memang begitu”, jawab Ara kalem.

“Kan sudah dipesen untuk mengambil yang ukurannya pas”

“Memang,” jawab Ara. “Tapi Ara memilih yang gede. Biar Abah bisa memakai lama. Belum tentu Abah bisa beli lagi nanti.” Euis mengerutkan keningnya.

“Abah kan kalau membelikan rok Ara juga yang gedean. Agar kalau Ara tambah gede rok itu masih bisa dipakai.”

Abah menutup bibirnya. Sudut matanya makin basah. Sudut yang terlalu kecil menampung air yang besar. Tetes keharuan.

Keluarga Cemara
Keluarga Cemara

Bagi keluarga kecil Abah, kekayaan hanyalah bonus dalam hidupnya. Sesuatu yang dicari, namun bukan hal utama untuk dikejar dalam memenuhi kebahagiaan hidup keluarganya. Setidaknya begitulah kesan yang saya tangkap setelah selasai membaca buku ini.

Generasi 90-an mungkin sudah tidak asing lagi saat mendengar kata “Keluarga Cemara” ataupun selentingan nyanyian original soundtracknya sendiri “harta yang paling berharga adalah keluarga”. Pertengahan 90-an, Keluarga Cemara sempat dijadikan serial sinetron di salah satu tv swasta dan berjaya cukup lama. Sinetron Keluarga Cemara merupakan adaptasi dari kumpulan cerita bersambung, yang akhirnya dicetak ulang kembali oleh PT Gramedia Pustaka Utama di tahun 2013 dan sekarang sudah cetakan ketiga.

Buku keluarga cemara 1 cetakan ketiga ini adalah kompilasi yang terdiri dari tiga judul: Keluarga Cemara, Musik Musim Hujan dan Kupon Kemenangan. Kisah-kisah yang terdapat pada buku inipun tergolong sangat ringan. Kita dapat menjumpai karakter serupa di dalam kehidupan nyata. Sehingga tidak heran, saat membaca buku ini rasanya tidak asing dan mudah untuk dinikmati.

Membaca buku keluarga cemara, sama seperti berjalan-jalan di sebuah museum ataupun sebuah pameran. Kita akan berhenti sejenak menikmati karya yang ada di hadapan kita. Terpana akan keindahannya, lalu terpikir pesan yang ingin disampaikan dari karya itu sendiri. Beranjak melihat yang berikutnya dan setelahnya pulang dengan perasaan bahagia.

Di setiap kisah, sosok Abah ialah sosok yang sangat menginspirasi. Sebagai pemimpin keluarga, Abah mendidik keluarganya menjadi keluarga yang penuh rasa syukur atas apa saja yang dimilikinya. Masa lalu yang serba kecukupan tidak menjadikan keluarga mereka larut dalam kesedihan yang dihadapi. Tak lantas juga membuat mereka meratapi nasib dan mengutuk hari-hari yang ada karena telah jatuh miskin.

Kesederhanaan menjadi kekuatan dari buku ini, baik dari segi pengemasan buku maupun segi ceritanya. Konflik – konflik yang dimunculkanpun tidak melulu soal ‘kemiskinan’ demi menyentuh hati pembacanya. Penulis sepertinya tidak menginginkan tokoh-tokoh dalam buku ini dikasihani secara berlebihan. Jika diibaratkan dengan sesuatu, pembaca adalah selembar kain yang ditusuk-tusuk oleh jarum cerita. Sebagai pembaca, kita sering dihadapkan pada kebahagiaan-kebahagiaan yang sebenarnya telah ada di depan mata namun tiba-tiba dibuyarkan oleh hal lain yang remeh.

Keluarga Cemara mengingatkan kita kembali tentang  kebahagiaan dan kesederhanaan hidup. Buku ini sangat cocok dibaca bagi siapapun. Segala urusan yang disajikannya, sama sekali tidak basi. Kisah-kisah yang ditulis oleh Alm. Arswendo Atmowiloto sekitar dua puluh tahunan lalu masih terasa segar. Seolah-olah ditulis kemarin pagi. Sangat mendidik. Mengajari tanpa menggurui, memahami arti keluarga dengan cara berkeluarga.

Judul                                : Keluarga Cemara 1

Penulis                            : Arswendo Atmowiloto

Penerbit                          : PT Gramedia Pustaka Utama

Bulan terbit                   : Oktober 2018

Ukuran buku                : 20 cm

Jumlah halaman         : 288 Halaman

Baca juga artikel menarik lainnya Mochamad Ripki.

Load More Related Articles
Load More By Mochamad Ripki
Load More In Buku