Home Event Melestarikan dan Membuka Warisan Karya Lewat Pameran Arsip Ruang dan Waktu Bagong Kussudiardja

Melestarikan dan Membuka Warisan Karya Lewat Pameran Arsip Ruang dan Waktu Bagong Kussudiardja

8 min read
0
0
118
Pameran Arsip Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Foto oleh : Razan Poetra

Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) menandai ulang tahun Bagong Kussudiardja ke-90, Pusat Latihan Tari (PLT) Bagong Kussudiardja ke-60, dan PSBK ke-40. Acara ditandai dengan pembukaan Pameran Arsip bertajuk “Ruang dan Waktu Bagong Kussudiardjo” rangkaian ketiga dari serangkaian Perayaan 90/60/40 tahun Bagong Kussudiardja yang terlaksana selama bulan Maret sampai November 2018 di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, D.I.Yogyakarta.

Sabtu (29/9), pukul 19.00 WIB peresmian Pameran Arsip dibuka oleh perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Direktur Kesenian Dr. Restu Gunawan, M.Hum. Hadir pula tamu undangan dari Dinas Kebudayaan Seksi Perfilman DIY, Deputi Infrastruktur Bekraft, perwakilan Polres Bantul, serta seniman dan tamu undangan lainnya.

Suwarno Wisetrotomo (kurator) menjelaskan dokumen arsip-arsip dalam pembukaan pameran. Foto oleh : Razan Poetra

Dalam sambutannya Restu mengemukakan harapannya agar Pameran Arsip ini dapat memberi inspirasi dalam berkarya lebih baik lagi, baik dalam bentuk wacana akademis, bentuk penciptaan dan lain sebagainya dari seorang tokoh Bagong Kussudiardja. Dirinya menambahkan bahwa Bagong bukan hanya seorang maestro tetapi super maestro mengingat murid-murid Bagong Kussudiardja pun kini telah menjadi maestro.

Selain merupakan sebuah penghormatan untuk Bagong Kussudiardja, diharapkan pameran ini dapat menjadi sarana berbagi kepada masyarakat tentang kiprah, spirit, warisan budaya, dan kontribusi Bagong Kussudiardja pada perjalanan seni dan budaya Indonesia modern.

Suwarno Wisetrotomo sebagai kurator menyajikan pendekatan linimasa tahun dengan memadukan tulisan dan foto dalam pameran. Uniknya kurator sengaja memberi jeda di mana tahun-tahun tertentu tidak disebutkan dalam pameran.

“Jika penonton melihat mata rantai yang putus. Di mana tahun sekian tidak ditampilkan, itu merupakan cara kami untuk membantu penonton atau peneliti memahami tahapan dari waktu ke waktu sampai hari-hari terakhir Pak Bagong berpulang,” tutur Suwarno.

Saat melihat Bagong Kussudiardjo berperan dalam salah satu judul film yang pernah dimainkannya pada era 90an. Foto oleh : Razan Poetra

Menurut Suwarno ada banyak dokumen foto dan tulisan dalam arsip tersebut memicu untuk mengetahui jejaring persoalan dari perspektif sosial, politik, ekonomi, dan kultural sehingga tak hanya berhenti sekedar melihat foto. “Melihat arsip pasti objektif tetapi juga menjadi pemicu yang saya sebut ‘pintu’, pintu masuk atau keluar sekaligus.”

“Pak Bagong hidup di berbagai perubahan politik, beliau hidup pada era Soekarno orde lama, era orde baru, lalu era perubahan politik. Beliau ada di berbagai kurun zaman itu. Pameran arsip ini mengangkat seluruh linimasa Bagong Kussudiardja sebagai seorang seniman dan budayawan, bagaimana kiprahnya dalam kurun waktu yang bermacam-macam.

Di era kemerdekaan contohnya, beliau berperan dalam tim kesenian bentukan Presiden Soekarno untuk menyokong diplomasi politik dengan kekuatan seni,” terang Butet Kertarajasa saat press conference di Panggung Diponegoro Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.

Berbagai macam arsip dokumen berupa foto, video, catatan harian dan kliping berita yang merangkum perjalanan sang maestro dalam rentang waktu sekitar 50an tahun sejak menggeluti kesenian, hingga menjelang hari-hari terakhir seorang Bagong Kussudiardja. Pameran berlangsung dari tanggal 29 September sampai 3 November 2018.

“Semua ini terdokumentasikan melalui kliping-kliping yang beliau kumpulkan yang merekam perjalanan kesenian itu. Kalau di Google nggak ketemu data-data seperti ini sehingga pameran arsip dari dokumen-dokumen Bagong ini perlu dihadirkan karena barangkali belum banyak yang mengetahui khususnya generasi milenial di mana hal ini bisa menjadi sumber informasi bagi masyarakat luas dan bisa menjadi obyek riset para akademisi,” tutur Butet Kertarajasa.

Acara yang tak kalah penting bagi Padepokan Seni Bagong Kussudiardja adalah momentum Temu Akbar Alumni Cantrik Mentrik se-Nusantara dan ASEAN angkatan 1978 – 2002 tanggal 18 sampai 20 Oktober 2018 mendatang. Pertemuan tersebut menjadi wadah memperkuat jaringan, bertukar pengalaman, informasi, mendapatkan bekal yang relevan pada masa kini, serta menyegarkan komitmen bersama untuk mempelajari kembali dampak nilai-nilai belajar almarhum Bagong Kussudiardja, demi membangun masyarakat yang berdaya melalui seni.

Djaduk Ferianto menyebutkan istilah Bagongisme pernah populer di era akhir orde baru ketika Direktorat Kesenian membuat form festival tari yang diikuti koreografer seluruh Indonesia dan banyak koreografer yang ikut serta dalam festival tersebut merupakan alumni murid dari Padepokan Bagong Kussudiardja.

“Hal itu menjadi penyemangat 40 tahun padepokan untuk mencoba menggali dan meriset para seniman alumni murid padepokan untuk hadir kembali dengan karya barunya hingga sejauh ini, dengan tagline Jadilah Bagong-Bagong Besar,” ujar Djaduk Ferianto.

Djaduk memercayai para alumni padepokan yang berkarya tak hanya di Indonesia hingga ke luar negeri, mempunyai daya tahan yang luar biasa dalam dunia pilihannya terutama pada dunia tari. Ia berharap rangkaian acara ini menjadi momen yang dapat dijadikan pemberitaan untuk kembali mengangkat isu-isu sendra tari dengan gaungnya.

Di mana tari yang merupakan sebuah aset yang dimiliki ini dapat hidup kembali, sekaligus menyegarkan ingatan-ingatan para pemuda seniman yang berpikir di dunia tari. Mengingat para seniman pemuda ini juga besar pengaruhnya dalam mengisi kesenian program kebudayaan yang ada di Indonesia.

Dr. Restu Gunawan, M.Hum membuka warisan karya Pameran Arsip Ruang dan Waktu Bagong Kussudiardja. Foto oleh : Razan Poetra

 

Load More Related Articles
Load More By Tikha Novita Sari
Load More In Event