Home News Melestarikan Budaya dengan Memahami Teks dan Memaknai Konteks Melalui Simposium Internasional Kajian Naskah-Naskah Jawa

Melestarikan Budaya dengan Memahami Teks dan Memaknai Konteks Melalui Simposium Internasional Kajian Naskah-Naskah Jawa

6 menit waktu baca
48

Selasa, 5 Maret 2019 dibuka acara Simposium Internasional dengan tema “Budaya-Budaya Jawa dan Naskah Keraton Yogyakarta”. Acara ini akan dilaksanakan hingga 6 Maret 2019 di Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo. Simposium ini dihadiri oleh kalangan akademik dan masyarakat umum yang peduli dengan budaya Jawa. Harapannya, acara ini mampu menjadi sarana edukasi dan penyebaran nilai budaya jawa yang terkandung di dalam naskah-naskah kuna.

IMG-20190305-WA0026

Simposium Internasional ini merupakan salah satu rangkaian acara Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk memperingati 30 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X bertakhta berdasarkan tahun masehi. Dilanjutkan dengan pameran naskah kuno pada tanggal 7 Maret – 7 April 2019 bertempat di Bangsal Pagelaran. Kegiatan dibuka dengan Beksan Jebeng  yang merupakan karya pendahulu keraton yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I.  Tarian ini menggambarkan adegan peperangan antara beberapa raja di tanah jawa dan beberapa raja di tanah seberang, yaitu dari kerajaan purwakencana.

Sambutan pertama disampaikan oleh GKR Hayu. Beliau menjelaskan bahwa, acara ini menandai diserahkannya naskah yang ada di Inggris. Sejumlah 75 naskah diserahkan kembali kepada Keraton dalam bentuk digital. Naskah manuskrip yang berisi sejarah kehidupan Keraton di bawa ke Inggris karena peristiwa Geger Sepehi. Diperkirakan jumlahnya sekitar 7000 naskah asli yang tersebar di berbagai tempat. Naskah-naskah tersebut tidak hanya dimiliki oleh museum seperti British Library, tapi juga dimiliki oleh perorangan. Untuk itu, proses pendataan dan tracking naskahnya cukup sulit.

Selama kurang lebih 5 tahun, proses negosiasi dengan berbagai pihak di Inggris telah dilakukan. Proses ini merupakan tindak lanjut dari salah satu materi perjanjian pemerintah Indonesia dan Inggris dalam hal budaya. Harapannya selain 75 naskah yang telah kembali dalam bentuk digital, kelak juga akan menyusul naskah lainnya dan dalam bentuk aslinya. Naskah-naskah tersebut selama 207 tahun berada di Inggris. Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebutkan bahwa naskah yang telah kembali tersebut kemungkinan bisa saja ditulis kembali. Naskah tersebut tidak akan dibiarkan begitu saja tapi juga akan dikaji dan dimanfaatkan sebaik mungkin.

IMG-20190305-WA0030

Momentum ini dianggap penting untuk diperingati dengan kegiatan akademik agar pengetahun jawa yang telah lama hilang bangkit kembali. Naskah kuna dianggap sebagai representasi dari berbagai sumber lokal yang paling otoritatif dan otentik dalam memberikan informasi dan tafsir sejarah pada masa tertentu. Naskah kuna merupakan warisan budaya bangsa, yang kandungan isinya mencerminkan beragam pemikiran, pengetahuan, adat-istiadat dan perilaku masyarakat masa lalu. Ditemukannya naskah kuna membuktikan bahwa sejak lama bangsa indonesia sudah memiliki budaya literasi.

Dalam acara Simposium Internasional ini juga ada penandatangan MoU dengan Universitas Negeri Yogyakarta untuk bersama mengkaji naskah kuno secara akademik. Naskah-naskah ini juga bisa dimanfaatkan universitas yang memiliki fakultas ilmu budaya atau pusat studi jawa, khususnya di bidang studi filologi dan sastra jawa, arkeolog dan antropolog. Banyak tema yang bisa dikaji dan dijadikan bahan penelitian. Usaha pengembalian naskah kuna ini bukan semata-mata hanya utuk kepentingan Keraton semata, tapi juga untuk daerah lain dan Indonesia. Bukan hanya untuk menyelamatkan sejarah bangsa tapi juga untuk kepentingan pendidikan.

Selain naskah kuno juga disinggung mengenai fungsi dan tata kelola museum saat ini. Museum masa kini memiliki multi fungsi sebagai pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah, penyaluran ilmu, penikmatan seni, perkenalan budaya, obyek wisata, media pendidikan iptek dan seni, suaka alam dan budaya, serta cermin sejarah. Agar dapat menarik minat generasi masa kini diperlukan mediasi dan sosialisasi menyesuaikan karakteristik pengunjung. Misalnya, berupa pameran tematik dan digitalisasi naskah-naskah jawa agar terbaca dan dikenal oleh generasi milenial.

OI000003

Simposium Internasional ini juga salah satu upaya untuk menarik minat generasi milenial untuk mengkaji naskah kuna. Terutama 75 naskah yang baru saja kembali, membutuhkan banyak sumber daya dan energi untuk mengkaji. “Budaya Jawa sarat dengan falsafah hidup dan memuat beragam ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, saya ingin menambahkan ajakan untuk memahami teks, memaknai konteks, guna membangun peradaban masa depan yang lebih bermartabat” ungkap Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya.

Muat Lagi Dari Kazebara
Muat Lebih Banyak Di News