Mblusukan ke Mie Ayam Sendowo Pak Wiyono

9 min read
0
283
Mie ayam Bakso Goreng

Sebagai salah satu mahasiswa di Jogja yang memiliki isi dompet pas-pasan, saya sebisa mungkin selektif dalam memilih menu makanan sehari-hari. Biasanya saya akan lebih berhemat diawal agar uang kiriman orang tua saya di awal bulan cukup hingga tanggal kiriman berikutnya. Menu di burjo dan angkringan pastilah menjadi salah satu favorit saya dalam berhemat tetapi bila sedang bosan saya akan mencari menu lainnya yaitu mie ayam tentu mie ayam yang harganya ramah dengan kantong saya.

Memang sedari kecil menu mie ayam ini selalu menjadi favorit saya. Mulai dari mie ayam gerobakan yang dijual sambil berkeliling, mie ayam di kantin sekolah, mie ayam di warung makan, sampai mie ayam di restaurant atau gerai di mall. Tentu, harganya menyesuaikan lokasi dimana mie ayam dan siapa pelanggan yang memakan mie ayam tersebut. Bagi saya yang mahasiswa ini, semangkuk mie ayam dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian saya karena di dalam semangkuk mie ayam ini terdapat mie yang menjadi sumber karbohidrat, ayam sebagai sumber protein dan sawi sebagai sumber vitamin.

Salah satu mie ayam favorit saya yang ada di Jogja ini adalah Mie Ayam Sendowo Pak Wiyono atau yang biasa saya sering sebut Mie Ayam Sendowo. Saya mengetahui Mie Ayam Sendowo ini malah dari kakak saya dan sebelum saya berkuliah di Jogja. Sekitar tahun 2008, saat saya libur sekolah terkadang saya mengunjungi kakak saya yang berkuliah di salah satu universitas negeri di Jogja.

Seperti umumnya mahasiswa, kakak saya juga sering kali berhemat seperti saya pada waktu itu karena kiriman dari orang tua kami memang pas-pasan. Uang jajan saya juga kebetulan tinggal sedikit. Maklum, saya sedikit berhura-hura karena bisa pergi ke kota besar sehingga uang jajan saya juga pas-pasan kala itu. Didesak harus menenangkan perut yang keroncongan, maka diajaklah saya mencoba Mie Ayam Sendowo ini dan kebetulan tempatnya dekat dengan kampus kakak saya.

“Tempatnya agak mblusuk ya dek tapi enak kok. Adek pasti suka deh” kata kakak saya pada waktu itu. Memang pada kenyataannya saya harus melalui jalan-jalan kecil untuk sampai ke Mie Ayam Sendowo ini.  Kenangan itu selalu membekas di ingatan saya ketika ada orang yang menyebut Mie Ayam Sendowo ini. Hingga akhirnya saya kuliah di Jogja mie ayam ini selalu masuk daftar mie ayam favorit saya.

Teringat kenangan bersama kakak saya ini, beberapa waktu yang lalu saya memutuskan bernostalgia kembali dengan Mie Ayam Sendowo ini. Saya memacu sepeda motor saya ke Jl. Sendowo E-F No.129, Senolowo, Sinduadi, Mlati, Kabupaten Sleman. Sedikit tips dari saya, untuk mengurangi resiko tersesat ada baiknya menggunakan aplikasi peta.

Suasana di Warung Mie Ayam Sendowo Pak Wiyono

Jam menunjukan pukul 12 siang, perut yang telah keroncongan sepertinya minta segera diisi. Beberapa pengunjung lainnya sepertinya memiliki pikiran yang sama dengan saya. Mie ayam yang buka pukul 11.00 hingga 17.00 memang ramai pada jam-jam isitirahat mahasiswa. Segera saja saya mencari tempat duduk di salah satu bangku panjang yang tersedia. “Sharing ya mbak mejanya” pinta saya sopan kepada salah satu pengunjung.

Siang itu saya memilih seporsi mie ayam dengan bakso goreng dan segelas es the tawar untuk menyegarkan diri saya dari panasnya cuaca Jogja. Tak lama, seporsi mie ayam yang di tunggu-tunggu tiba. Langsung saja saya mengambil sumpit dan sendok tak sabar segera ingin menyantap.

Mie Ayam Sendowo ini memiliki tekstur yang kenyal dengan ukuran mienya yang cukup besar-besar. Bisa dikatakan lebih besar daripada mie ayam pada umumnya. Jadi, cukup mengenyangkan porsinya bagi saya. Potongan ayamnya besar-besar dengan bumbu yang meresap. Bakso gorengya tak kalah nikmat, apalagi setelah direndam dengan kuah dari mie ayam yang terasa manis-manis gurih khas mie ayam Wonogiri. Soal harga, cukup ramah di kantong saya yang mahasiswa. Seporsi mi ayam bakso goreng ini hanya di banderol Rp 8.500 saja dan segelas es teh dihargai Rp 2.500.

Sembari menyantap mie ayam, saya sempat teringat ucapan kakak saya yang menyebutkan bahwa Mie Ayam Sendowo ini merupakan salah satu makanan legenda di kalangan ia dan teman-teman kampusnya. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana awal mula Bapak dan Ibu Wiyono berjualan mie ayam.

Ibu Wiyono Mempersiapkan Seporsi Mie Ayam

Tiba waktu membayar, saya mengeluarkan pecahan Rp 20.000 dari dompet saya sekaligus sedikit bertanya kepada Ibu Wiyono. “Bu gimana sih sejarahnya bisa berjualan mie ayam?” tanya saya. Sontak, Ibu Wiyono langsung tersenyum ramah dan sedikit bercerita kepada saya.

Pak Wiyono beserta Ibu ternyata telah berjualan sejak tahun 1984. Untuk memperoleh resep mie ayam legendaris ini tidaklah mudah. Ibu Wiyono bercerita kepada saya bahwa Ia dan Bapak dahulu pernah ditolak saat meminta resep mie ayam dari sesama pedagang mie ayam. Sayangnya, pedagang tersebut mau memberikan resep dengan ganti uang Rp 200.000 padahal zaman itu harga semangkuk mie ayam hanya Rp 250. “Wah disuruh bayar segitu, tidak sanggup saya mbak” timpal Pak Wiyono yang segera bergabung ketika mendengar Ibu bercerita. Pak Wiyono dan Ibu tidak putus asa, bersama Ibu ia memcoba mengkreasikan sendiri resep mie ayamnya dengan bekal kemampuan Ibu dalam memasak. “Singkat cerita, akhirnya lahirlah resep mie ayam legendaries ini mbak” ujar Ibu Wiyono menutup ceritanya.

Saya yang mendengarkan cerita Ibu dan Bapak sungguh kagum. Pantas saja Mie Ayam Sendowo ini dapat bertahan hingga sekarang. Apalagi dengan porsi yang banyak dan  harga yang ramah dompet tak heran kalau mie ayam ini menjadi favorit bagi pelanggan-pelanggannya. Bagi saya dan kakak saya, Mie Ayam Sendowo ini selalu membangkitkan nostalgia tak hanya dilidah tetapi juga dihati.

Load More Related Articles
Load More By Rezarizkii
Load More In Kuliner