Masa Depan Batik Indonesia Sebagai Produk Budaya Industri

7 min read
0
159

Di era yang semakin berkembang ini batik sudah menjadi gaya hidup. Perkembangan teknologi dan era yang semakin modern tidak akan menghalangi generasi muda untuk mempelajari dan mengenal batik khas Indonesia. Bukan hanya dalam bentuk kain tradisional saja, tetapi juga dalam bentuk apa saja dalam semua bidang kehidupan sehingga batik boleh dibilang sudah menjadi bagian dari putaran gaya hidup global.

Jogja Internasional Batik Biennale 2018
Jogja Internasional Batik Biennale 2018

Hadir di sini membuat saya teringat dan menengok pengalaman masa lalu di mana batik sempat diklaim sebagai warisan budaya Malaysia. Tahun 2009 menjadi titik tolak kembali populernya batik di era modern. Pada 2 Oktober 2009 oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) batik resmi dikukuhkan sebagai warisan budaya tak benda di Indonesia.

Pengolahan kain dengan lilin memang tidak hanya dimiliki Indonesia. Tetapi penggunaan canting, motif yang berfilosofi dan bercerita serta teknik batik Indonesia yang diwariskan turun temurun, tidak dimiliki oleh negara lain di dunia.

Kesempatan berharga bagi saya bisa bertemu dengan para narasumber dan peserta pelaku industri batik dalam Simposium Batik Nasional di Royal Ambarukmo. Acara ini merupakan pembukaan rangkaian acara Jogja Internasional Batik Biennale (JIBB) 2018.

Berawal dari rasa ingin tahu saya, Simposium Nasional ini ternyata kedua kalinya diadakan di Royal Ambarukmo. Royal Ambarukmo dijadikan salah satu tempat penyelenggaraan JIBB tak lepas dari nilai sejarahnya. Mengingat di abad 19, Sri Sultan HB VI membangun Pesanggrahan Ambarukmo sebagai sebuah tempat untuk menjamu para tamu-tamunya.

JIBB merupakan ruang berkumpul bagi penggiat dan pemerhati batik, baik di Indonesia maupun dunia. Selain itu, ajang ini digelar untuk mendukung predikat Jogja sebagai World Batik City yang disandang sejak 18 Oktober 2014.

Mengusung tema “Innovation For Sustainable Future“, 8 pembicara ahli dengan beragam tema turut dihadirkan dalam diskusi ini. Acara yang digagas oleh Dewan Kerajinan National (Dekranasda DIY) diselenggarakan pada hari Selasa (2/10). Langsung dimoderatori oleh Didik Purwadi, Asisten Keistimewaan Sekretariat Daerah DIY.

Semenjak ditetapkannya batik sebagai warisan budaya Indonesia, masyarakat pun secara tidak langsung makin sadar bahwa batik merupakan sebuah kebanggaan sekaligus warisan yang harus dilestarikan. Dengan demikian mengembangkan batik tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada sinergi dari semua pihak.

Merujuk pada sektor industri dalam perkembangan teknologi, Kementrian Perindustrian memilih cara yang lebih modern berbasis internet dan teknologi informasi untuk mengembangkan serta mengedukasi masyarakat.

Gati Wibawaningsih, S.Teks., M.A. dalam diskusinya dengan tema “Government Policy in Supporting the Development and Preservation of Batik Art Traditions” memaparkan selain mengadakan workshop tentang produksi batik, salah satu kerja sama yang tengah dikembangkan adalah program platform media e-smart IKM, sebuah program online untuk mengetahui kebutuhan pasar perdagangan.

Dengan mengetahui seluk beluk produksi para pelaku IKM diharapkan dapat memproduksi dan mengembangkan produknya lebih baik lagi. “Keberadaan startup sekarang sangat dibutuhkan untuk menjual produk-produk IKM lokal kita semakin meningkat serta menumbuhkan perdagangan melalui e-commerce,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih.

Masa Depan Batik Indonesia Sebagai Produk Budaya Industri
Masa Depan Batik Indonesia Sebagai Produk Budaya Industri

Dalam program pembinaan pelaku IKM, Kementrian Perindustrian (Kemenperin) juga telah bekerjasama dengan PT. Ruang Raya Indonesia (klik infonya di sini) tentang peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) sektor industri melalui pemanfaatan teknologi informasi digital.

Ruang Guru dijadikan platform untuk membuat video-video pelatihan yang akan dikonsumsi oleh pembina IKM, pelaku IKM, bahkan pekerja IKM. Sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas para pelaku industri kecil dan menengah (IKM). Kerjasama tersebut sekaligus untuk mendukung kegiatan workshop e-Smart IKM yang bertujuan membantu pelaku IKM memperluas pasar mereka melalui platform digital.

Video-video tersebut diharapkan pula dapat mengedukasi masyarakat mengenai dua jenis batik asli Indonesia yaitu batik tulis dan batik cap. Pada era modern dua jenis batik yang diproduksi secara lokal oleh pengrajin-pengrajin Indonesia tersebut kini kalah dengan semakin populernya tekstil print bermotif batik.

Generasi muda diharapkan dapat mengapresiasi teknik dan keahlian para pengrajin. Selain itu menjaga agar keindahan serta keaslian batik tulis dan cap tidak punah. “Kerja sama kedua pihak ini tentunya bisa menghemat biaya sosialisasi yang dilakukan secara offline. Selain itu menjangkau masyarakat yang ingin mendapatkan informasi untuk belajar bisnis,” jelas Gati Wibawaningsih.

Ditemui di ruang berbeda Koordinator Panitia JIBB Dr. Dessy Isfianadewi, S.E., M.M. mengatakan diskusi ini tak hanya menjadi kegiatan seremonial saja namun mengajak masyarakat berperan serta mempertahankan predikat Jogja sebagai Kota Batik Dunia. Selain sebagai sarana edukasi kepada masyarakat Indonesia dan warga dunia.

Rangkaian acara JIBB sekaligus dapat mempromosikan pariwisata serta menemukan solusi jangka panjang dalam menuntaskan masalah pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kemudian peningkatan kapasitas pengrajin batik secara luas di masyarakat sehingga diharapkan pengrajin batik di Jogja dan sekitarnya bisa merasakan manfaatnya.

Load More Related Articles
Load More By Tikha Novita Sari
Load More In Event