MARACOSA: Mahakarya Papermoon Puppet Theatre Kenalkan Batik Pada Publik

7 min read
0
60

Genpijogja “Canting… Canting,” munculnya sosok Mbah Malam dari balik bayang-bayang pintu, membuat suasana Omah Budoyo Yogyakarta malam itu menjelma syahdu. Puluhan pasang mata seakan ikut tenggelam, larut dalam kisah Mbah Malam dan cucu tercintanya, Canting.

Hangatnya cerita Mbah Malam dan Canting terangkum dalam MARACOSA, mahakarya terbaru, hasil kolaborasi Papermoon Puppet Theatre dan Nona Rara Batik. Pertunjukkan apik MARACOSA sukses digelar di Omah Budoyo Yogyakarta, Sabtu dan Minggu, 7-8 Mei 2022.

MARACOSA by Papermoon Puppet Theatre 3

Disutradarai Maria Tri Sulistyani, MARACOSA menampilkan hangatnya interaksi antara Mbah Malam dan Canting. Kedua boneka itu seolah-olah hidup berkat kerja harmonis empat orang di baliknya, M. Alhaq, Anton Fajri, Pambo, dan Beni Sanjaya. Keempatnya berhasil memadukan gerakan tubuh Mbah Malam dan Canting hingga terlihat sempurna.

MARACOSA mengikuti sosok Mbah Malam, seorang pemilik pabrik batik tua. Telah lama terjun, Mbah Malam percaya bahwa batik tak sekadar lembaran kain saja. Lebih dari itu, batik menyimpan makna mendalam di baliknya.

Salah satunya batik “Tambalan” yang menjadi fokus utama karya MARACOSA. Banyak orang percaya, batik “Tambalan” bisa menambal kesedihan, mengobati yang sakit, dan mengisi yang hilang. Tak pelak, Mbah Malam lantas menggunakannya untuk menyelimuti Canting yang terbaring sakit di ranjangnya.

Namun sayang, makna di balik kepercayaan Mbah Malam itu tak sampai pada Canting yang masih beranjak remaja. Hingga singkat cerita, ia mengalami kejadian tak terduga, bertemu dengan makhluk-makhluk ajaib di antara ratusan kain batik di pabrik neneknya. Canting mengalami MARACOSA atau yang dalam bahasa sansekerta berarti “melihat sendiri”.

MARACOSA by Papermoon Puppet Theatre 3

MARACOSA dikemas dengan panggung sederhana, tapi terkesan mewah dan ekslusif. Sinematografi yang dipadukan langsung dengan pertunjukan panggung, tak berhenti menghipnotis penonton untuk memuji karya apik ini.

Tak heran, setelah pertunjukkan selesai dan beralih ke sesi artist talk, beberapa penonton mengaku teramat terkesan. Apalagi, banyak dari mereka yang baru pertama kali menyaksikan pentas Papermoon Puppet Theatre.

Pujian salah satunya datang dari Kiwa, seorang pemuda yang pertama kali tahu Papermoon Puppet berkat adegan dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2. Malam itu, ia lega karena akhirnya bisa menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri.

Selain Kiwa, beberapa penonton lain juga menikmati MARACOSA. Ada yang datang jauh dari Jakarta, bahkan Australia. Sembari liburan di Jogja, mereka meluangkan waktu untuk menjadi saksi pementasan offline perdana Papermoon Puppet Theatre setelah dihempas pandemi Covid-19.

MARACOSA by Papermoon Puppet Theatre 3

Bagi penonton malam itu, tiket seharga Rp 150.000 sebanding dengan benefit yang didapatkan, intimate screening, artis talk, mini performance, dan kudapan malam. Apalagi, pertunjukkan Papermoon Puppet tak selalu digelar rutin. Jadi, benar-benar ekslusif, sehingga menimbulkan kesan kebahagiaan tersendiri bagi mereka karena bisa menikmati MARACOSA.

Proses Panjang Terbentuknya MARACOSA Papermoon Puppet Theatre

Sutradara MARACOSA, Maria Tri Sulistyani mengungkapkan proses panjang pembuatan MARACOSA. Ia menyebut, penggarapan dimulai tahun 2021 lalu.

“Biasanya pembuatan karya 3 bulan sampai 1 tahun untuk 1 karya. Kalau untuk MARACOSA, dipurpose tahun lalu, baru proses Agustus untuk dipentaskan Desember, jadi 5 bulan,” ungkapnya.

Uniknya, kali ini Papermoon Puppet untuk kali pertama menggunakan media kain. Adapun kain yang dipilih untuk menciptakan karakter Mbah Malam, Canting, dan hewan-hewan ajaib yakni kain perca. Alhasil, Papermoon Puppet mendapatkan tantangan baru, yakni mengelompokkan kain berdasarkan warna yang pas untuk setiap karakternya.

MARACOSA by Papermoon Puppet Theatre 3

Tidak hanya matang di konsep dan produksi boneka karakter, totalitas para pemain pun layak diacungi jempol. Sebab, tanpa kerja keras mereka, boneka Mbah Malam dan Canting tak mungkin terlihat sempurna. Ditambah lagi proses pendalaman karakter hewan ajaib yang membuat mereka harus mengamati binatang di sekitarnya. Berkat lihainya keempat pemain, karakter akhirnya bisa tampak apik serta membuat penonton terbawa suasana.

Kesuksesan itu bukan dihasilkan dari proses yang instan. Butuh waktu untuk menyamakan frekuensi sampai menghasilkan penampilan yang mewah.

“Kita bernafas bareng-bareng. Kan kaki, kepala tangan, kalau tidak harmonis ya akan terjadi 2 bagian dan sangat kelihatan. Jadi kamu coba menyamakan frekuensi dan peka terhadap satu sama lain,” kata Pambo mewakili para pemain.

Bagi para pelancong yang datang dari kota lain dan menikmati waktu libur di Jogja, rasanya tak akan merugi apabila menyaksikan pentas Papermoon Puppet Theatre. Apakah kamu tertarik melebur dan tenggelam bersama kisah-kisah yang disajikan Papermoon Puppet?

Load More Related Articles
Load More By Hernawan
Load More In Event