Lawan Eksklusivisme, UGM Siap Gelar Rhapsody of the Archipelago: Gamelan4.0 (ROAR GAMA4.0)

8 min read
0
37

genpijogja.com – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM siap menghelat Rhapsody of the Archipelago: Gamelan4.0 (ROAR GAMA4.0) pada 29 – 30 November 2019 di PKKH dan Lapangan Grha Sabha Pramana UGM, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Rhapsody of the Archipelago: Gamelan4.0 (ROAR GAMA4.0) yang digelar dalam rangka merayakan Dies Fisipol UGM ke-64 sekaligus Lustrum ke-14 UGM akan menampilkan lebih dari 200 bakat dari berbagai disiplin seni, ilmu dan kecakapan.

Lawan Eksklusivisme, UGM Siap Gelar Rhapsody of the Archipelago Gamelan (ROAR GAMA)
Lawan Eksklusivisme, UGM Siap Gelar Rhapsody of the Archipelago Gamelan (ROAR GAMA)

“Ini bukan sekadar konser musik biasa. Ini merupakan pernyataan politik kebudayaan nusantara bahwa potensi kreatif berbasis lokal bisa memberi sumbangan berharga bagi peradaban musikal kreatif global,” jelas Dekan FISIPOL UGM Erwan Agus Purwanto dalam jumpa pers yang berlangsung di Balairung UGM, Kamis (14/11).

Erwan menjelaskan bahwa UGM sebagai universitas kebudayaan harus memiliki sumbangsih terhadap kebudayaan itu sendiri. “4 sampai 5 tahun lalu warga FISIPOL mulai cinta gamelan. Dulu masih pinjam sana sini, terus saya belikan gamelan. Dari sana mulai rajin latihan, manggung sana sini, lalu kita berpikir di UGM perlu diadakan even yang memang konsen terhadap gamelan ini,” terangnya.

Erwan menjelaskan, nantinya Pagelaran Rhapsody of the Archipelago: Gamelan4.0 (ROAR GAMA4.0) direncanakan akan menjadi agenda tahunan di UGM. Kegiatan ini diharapkan menempati posisi tersendiri di pergaulan musikal dan ajang kreativitas di aras internasional.

“Pagelaran ini sebagai wujud dedikasi UGM sebagai universitas pusat kebudayaan. Untuk mewujudkannya, kami menggandeng Ishari Sahida dan Sabrang Mowo Damar Panuluh sebagai mitra kreatif,” terang Sosiolog UGM M. Najib Azca yang bertindak sebagai Ketua Panitia Rhapsody of the Archipelago: Gamelan4.0 (ROAR GAMA4.0).

Ishari Sahida atau yang lebih dikenal sebagai Ari Wulu, merupakan penghulu komunitas Gayam16, entitas kreatif yang setia “menghidupkan” gamelan, termasuk menggelar event tahunan berskala internasional, yakni Yogyakarta Gamelan Festival (YGF).

Sementara Sabrang Mowo Damar Panuluh atau lebih dikenal publik sebagai Noe Letto, merupakan pentolan musikal dan kreatif grup band “Letto” yang telah memperoleh sejumlah penghargaan di ranah nasional dan internasional.

Lawan Eksklusivisme, UGM Siap Gelar Rhapsody of the Archipelago Gamelan (ROAR GAMA)
Lawan Eksklusivisme, UGM Siap Gelar Rhapsody of the Archipelago Gamelan (ROAR GAMA)

Secara keseluruhan, ada dua program utama yang menjadi rangkaian Rhapsody of the Archipelago: Gamelan 4.0 (ROAR GAMA 4.0) ini. Pertama, Workshop/Showcase yang diselenggarakan pada 29 – 30 November 2019 pukul 13:00 – 17:00 WIB bertempat di PKKH UGM.

Pada program ini akan tampil 2 kelompok seni selama 30 menit. Setelah itu, selama satu jam mereka akan melakukan workshop kolaboratif dengan para penonton, yang hasilnya akan ditampilkan pada 30 menit terakhir.

Kedua, Konser Gamelan 4.0, yang bertempat di Lapangan Grha Sabha Pramana UGM pada 30 November 2019 pukul 19.00 WIB hingga selesai.

Konser Gamelan 4.0 ini berdurasi 2,5 jam non-stop dalam satu paket repertoar. Melalui repertoar yang dikemas utuh ini diharapkan dapat ditunjukkan bagaimana gamelan mampu memangku dan meramu seluruh elemen seni, terutama musik dan tari.

Rhapsody of the Archipelago: Gamelan 4.0 (ROAR GAMA 4.0) ini bakal didukung lebih dari 100 pengrawit, 100 penari dan puluhan personel musisi dengan musik corak kekinian.

Mereka yang akan tampil antara lain kelompok gamelan Canda Nada, Gayam16, dan Prawiratama Indonesia. Musisi kekinian seperti Letto, FSTVLST, Tashoora, Mantra Vutura dan OM New Pallapa bersama Brodin.

Sejumlah komposer yakni Sudaryanto, Welly Hendratmoko dan Anon Suneko. Juga penampilan para penari dari Pulung Dance Studio, dengan koreografer Pulung Jati Rangga Murti.

“Gamelan bukan sekadar monumen mati yang hanya berbunyi saat ditabuh. Gamelan merupakan wujud hidup spirit harmoni yang hadir secara elegan di medan dinamika dan dialektika zaman,” ungkap Ari Wulu kepada rekan media saat ditanya kenapa Rhapsody of the Archipelago tahun ini mengusung gamelan.

Ari menyampaikan bahwa gamelan dipilih sebagai pemangku beragam elemen seni yang ditampilkan dalam repertoar tersebut untuk menunjukkan ‘daya hidup’ gamelan dalam bergaul dengan berbagai anasir baru zaman kiwari.

“Mengapa gamelan? Mengapa 4.0? Kehadiran teknologi digital yang pesat dan disruptif saat ini tidak lantas membuat gamelan kehilangan relevansinya. Justru sebaliknya, membuka ruang baru bagi gamelan untuk bereksperimentasi dan membangun inovasi melalui kolaborasi tanpa batas”, tambah Sabrang, pentolan Letto yang juga expert di bidang IT dan Matematika.

Untuk tiket yang ditawarkan sendiri bervariasi, mulai dari Festival Rp50.000, Silver Rp500.000 dan Gold Rp1.000.000. Untuk tiket Festival bisa dibeli lewat online di website RoarGAMA di loket.com, sedangkan untuk tiket Gold bisa didapatkan di Sekretariat RoarGAMA yang berlokasi di Gedung Fisipol UGM Unit 2, Lantai 2 Sayap Utara jalan Prof. Dr. Sardjito Sekip Yogyakarta ( senin – sabtu) atau hotline 081328697170 (Mala).

Lawan Eksklusivisme, UGM Siap Gelar Rhapsody of the Archipelago Gamelan (ROAR GAMA)
Lawan Eksklusivisme, UGM Siap Gelar Rhapsody of the Archipelago Gamelan (ROAR GAMA)

Sementara itu, Dekan FIB UGM Wening Udasmoro mengatakan, perhelatan Rhapsody of the Archipelago: Gamelan4.0 (ROAR GAMA4.0) merupakan ikhtiar politik kebudayaan untuk melawan tren merebaknya eksklusivisme, primordialisme dan intoleransi di sejumlah kalangan warga bangsa melalui jalan seni budaya.

Perhelatan akbar ini juga berkomitmen untuk merawat dan mengembangkan tradisi dan budaya adiluhung bangsa melalui pemberian penghargaan kepada para tokoh yang telah berjasa besar bagi dunia gamelan.

“Zaman dulu gamelan merupakan hal yang berkelas tinggi, yang bisa menggelar pertunjukan gamelan yang memiliki banyak uang. Sekarang orang mampu beli gamelan tapi tidak tertarik. Oleh karenanya, anak muda harus diperkenalkan dengan gamelan, yang nanti akan kita kemas bersama dengan teknologi”, pungkas Wening menutup jumpa pers.

Load More Related Articles
Load More By pacarkecilku
Load More In News