Langenastro, Ksatria Penjaga Budaya Panahan Jawa

6 min read
0
79

Panahan adalah salah satu olahraga yang sudah dikenal oleh banyak orang, terutama bagi penonton film-film super hero. Sosok Katniss Everdeen dalam film Hunger Games dan Hawkeye dalam film Avengers menjadikan memanah adalah kemampuan yang keren. Selain panahan modern yang sering kita jumpai, di Yogyakarta ada metode memanah yang sangat berbeda. Namanya jemparingan, panahan tradisional gaya Mataraman.

Jemparingan merupakan olahraga panahan khas Kerajaan Mataram. Berasal dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan dipelopori oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792). Tujuannya adalah untuk membentuk watak ksatria bukan hanya untuk prajurit, tapi juga para bangsawan.

Watak ksatria yang dimaksud adalah sawiji, greget, sengguh dan ora mingkuh. Sawiji artinya konsentrasi, greget artinya semangat, sengguh berarti rasa percaya diri dan ora mingkuh berarti memiliki rasa tanggung jawab.

Baca juga:

jemparingan langenastro

Jemparingan yang awalnya hanya dilakukan oleh bangsawan kerajaan, akhirnya menyebar menjadi kegiatan hiburan untuk rakyat. Sampai saat ini latihan jemparingan masih rutin diselenggarakan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kegiatan ini diselengarakan tiap selasa sore di Plataran Kamandungan Kidul, yang terletak di sebelah utara Alun-Alun Selatan. Selain di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, kamu bisa berlatih jemparingan bersama Langenastro.

Langenastro adalah komunitas jemparingan di Yogyakarta yang rutin melaksanakan latihan setiap rabu sore pukul 16.00 WIB dan sabtu pagi mulai pukul 09.00 WIB. Latihan rutin ini dilakukan di Sasana Jemparingan Langenastro jalan Langenastran Kidul dekat dengan Alun-Alun Kidul. Ada yang berbeda ketika latihan jemparingan dibandingkan dengan latihan panahan menggunakan standar bow (panahan modern saat ini).

Menggunakan blankon dan jarik adalah kewajiban ketika berlatih jemparingan. Saat gladen wajib menggunakan busana jawa lengkap baik peserta pria, wanita maupun anak-anak. Gladen adalah perlombaan jemparingan, di Langenastro sendiri rutin mengadakan gladen setiap rabu legi.

Gladen ini dapat diikuti oleh semua anggota dengan tiga pembagian kategori, untuk pria, wanita dan anak-anak. Kalau kamu ingin mencoba bermain jemparingan sudah tersedia semua perlengkapan di Langenastro. Tapi kalau kamu ingin serius menjadi ksatria jemparingan lebih baik memiliki perlengkapan sendiri.

Selain busana, tata cara jemparingan juga berbeda. Olahraga ini dilakukan dalam posisi duduk bersila. Filosofi jemparingan gaya Mataram adalah pamenthanging gandewa pamanthening cipta, yang berarti membentangnya busur seiring dengan konsentrasi yang ditujukan pada sasaran yang di bidik.

Seperti kata manah itu sendiri, yang dalam bahasa jawa artinya hati. Agar tepat sasaran, tidak hanya fokus yang diperlukan, tapi juga menggunakan perasaan agar sampai pada tujuan. Pemain jemparing harus bisa tenang sebelum melepas jemparing.

Baca juga:

gladen jemparingan langenastro

Kata jemparingan sendiri berasal dari jemparing yang berarti anak panah, sedangkan alat untuk memanahnya disebut gendewa. Gendewa yang digunakan untuk jemparingan harus terbuat dari bahan kayu dan bambu yang juga melambangkan bahwa jemparingan adalah panahan tradisional. Gendewa ini dibuat khusus oleh pengrajin dan disesuikan dengan tinggi badan pemanah.

Langenastro berusaha menyediakan wadah belajar untuk siapa saja yang ingin berlatih jemparingan. Tidak perlu khawatir, sebagai pemula kamu akan belajar dari senior atau pelatih yang ada di Langenastro. Bermain jemparingan membutuhkan ketekunan dan semangat untuk rajin berlatih. Mulai dari jarak dekat sekitar 20 meter hingga mampu melepaskan jemparing sejauh 30 meter atau lebih.

“Karena aku meyukainya dan sudah menjadi suatu hobi, melestarikannya merupakan suatu kebanggaan sebagai orang Jawa”, ungkap Tejo Haidar Malik salah satu anggota Langenastro.

Tidak hanya orang dewasa yang berlatih di Langenastro, anggotanya berasal dari berbagai kalangan dan usia. Dari anak-anak hingga orang tua berlatih sesuai porsi masing-masing. Kebanyakan anggotanya adalah anak muda yang juga peduli untuk melestarikan budaya. Anak-anak muda inilah yang saat ini menjadi ksatria penjaga budaya panahan Jawa.

Baca juga artikel menarik lainnya Kazebara.

Load More Related Articles
Load More By Kazebara
Load More In Community