Home News Kraton Jogja, Sumber Mata Air Penelitian yang Tak Ada Habisnya

Kraton Jogja, Sumber Mata Air Penelitian yang Tak Ada Habisnya

6 menit waktu baca
16

Pukulan gong sebanyak dua kali oleh Sri Sultan HB X menandai berakhirnya acara International Symposium on Javanese studies and manuscripts of Keraton Yogyakarta yang berlangsung selama dua hari. Tahun 2019 ini, Kraton Jogja menggelar acara simposium selama dua hari, pada hari Selasa dan Rabu, 5-6 Maret 2019, di Kasultanan Ballroom Ambarrukmo Hotel Yogyakarta. Acara simposium ini merupakan bagian dari serangkaian kegiatan Peringatan 30 Tahun Kenaikan Takhta Sri Sultan HB X yang jatuh pada 7 Maret 2019 nanti.

WhatsApp Image 2019-03-12 at 1.58.19 PM

Simposium hari kedua dimulai sekitar pukul sembilan pagi, diawali dengan talk show bersama dua putri Ngarso Dalem Sri Sultan HB X yang berperan penting dalam menyukseskan serangkaian acara ini. Siapa lagi kalau bukan G.K.R Hayu selaku ketua pelaksana acara simposium, dan G.K.R Bendara selaku ketua utama serangkaian acara Peringatan Tingalan Jumeneng Dalem Sri Sultan HB X.

Simposium seringkali dimaknai sebagai kegiatan bertemunya para pembicara yang mengemukakan pidato singkatnya tentang topik yang barangkali menjadi “makanannya” sehari-hari. Begitu pun pada simposium yang digagas oleh Kraton Jogja ini, dihadirkan para pakar yang ahli dalam bidangnya sendiri.

Dua tema besar diangkat pada simposium hari kedua. Tema pertama yang selanjutnya disebut sesi ketiga membahas topik-topik seputar seni pertunjukan. Sementara tema kedua yang selanjutnya disebut sesi keempat membahas topik-topik terkait kehidupan sosial budaya. Kedua sesi simposium ini masing-masing menghadirkan empat pembicara yang menjadikan Naskah Kuna sebagai salah satu rujukan penelitiannya.

Naskah Kuna pada Peringatan 30 Tahun Kenaikan Takhta Sri Sultan HB X menjadi komponen utama karena belum lama ini British Library mengembalikan 75 naskah digital Kraton Jogja semasa Sri Sultan HB II. Naskah-naskah kuna ini menjadi penting karena pada masanya, Inggris membawa “paksa” naskah-naskah tersebut ke negerinya, sehingga dokumen penting Kraton Jogja nyaris tiada.

WhatsApp Image 2019-03-07 at 9.57.23 AM(3)

Dengan diadakannya simposium ini, diharapkan masyarakat luas semakin mengerti arti penting naskah-naskah kuna. Naskah kuna merupakan warisan budaya bangsa yang di dalamnya terkandung berbagai pemikiran, pengetahuan, adat-istiadat dan perilaku masyarakat yang terjadi pada masa lampau. Secara tidak langsung, naskah-naskah kuna ini menjadi bukti sudah berkembangnya tradisi literasi.

Topik-topik yang diangkat dalam simposium dua hari ini tidak terlepas dari kajian naskah yang sudah semestinya didalami. Pada sesi ketiga, keempat pembicara mengangkat bahasan terkait seni pertunjukan. Ada empat jenis seni pertunjukan yang menjadi judul utama yakni gamelan, Beksan Lawung Ageng, Wayang Wong Kraton Jogja, dan Pertunjukan Wayang Gedhog Gaya Yogyakarta. Keempatnya menjadi warisan budaya Kraton Jogja yang perlu terus lestari, terkhusus di era millenial ini.

Dari seni pertunjukan, kita bisa belajar memahami banyak hal. Seni pertunjukkan bukan hanya sekadar tontonan. Lebih dari itu, dalam pentas seni pertunjukan pun terkandung nilai-nilai persatuan.

“Seni menjadi perekat antar bangsa, menjadi perekat antar manusia”, ungkap Unni Yutta, moderator yang memandu jalannya simposium sesi ketiga.

Selepas istirahat siang, simposium memasuki sesi keempat yang mengusung tema sosial budaya. Topik yang dibahas pada sesi ini tentu berbeda dari tema-tema sebelumnya. Sesi keempat ini menghadirkan empat pembicara yang mengkaji naskah lama dan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan yang relevan dengan kehidupan masa sekarang, terkait cara pengobatan tradisional, arsitektur, dan mitigasi bencana.

WhatsApp Image 2019-03-12 at 1.38.33 PM

International Symposium on Javanese studies and manuscripts of Keraton Yogyakarta 2019 bisa menjadi momentum bersama. Kraton Jogja memiliki banyak naskah yang menunggu untuk diperkenalkan dan disuarakan. Banyak hal masih bisa dikaji dari naskah-naskah yang sarat makna dan pengetahuan ini. Kraton Jogja bak sumber mata air penelitian yang tak ada habisnya.

Dengan simposium ini, diharapkan agar penelitian-penelitian yang menempatkan naskah kuna sebagai salah satu rujukan utama akan semakin banyak lagi. Buat Indonesia, agar mengerti apa yang pernah hilang dari Kraton Jogja yang istimewa ini.

“Budaya Kraton Jogja itu kaya, penuh dengan api, sehingga perlu terus digali. Kembalikan warisan nenek moyang kita, local wisdom kita, gali dan gali lagi”, ungkap K.P.H. Notonegoro, Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Kridhomardowo Kraton Jogja yang diberi kesempatan menyampaikan sambutan penutup acara simposium hari kedua ini.

Muat Lagi Dari Hernawan
Muat Lebih Banyak Di News