Home Heritage Kota Baru, Kisah Lama

Kota Baru, Kisah Lama

5 menit waktu baca
84

Wajah lama yang menyimpan kenangan masih bisa kamu jumpai di berbagai sudut Kota Yogyakarta. Salah satu sudut kenangan itu ada di kawasan Kota Baru. Sebuah kawasan hunian peninggalan Kolonial Belanda. Nieuwe Wijk atau Kota Baru, begitulah bangsa “kulit putih” menyebut kawasan yang mereka bangun pada awal abad 20. Menempati lahan kosong milik Keraton Yogyakarta yang penuh semak belukar ini, Pemerintah Belanda mulai menata pemukiman barunya.

Kawasan Kota Baru muncul sebagai akibat kebutuhan akan tempat tinggal orang-orang Belanda yang bertambah pesat. Kondisi pemukiman di Kidul Loji dan kawasan Bintaran sudah semakin penuh sehingga dibutuhkan kawasan untuk dijadikan pemukiman baru terutama bagi kalangan elit dan pengusaha Belanda dan Eropa pada umumnya.

Semakin banyaknya jumlah penduduk Belanda dan Eropa di Yogyakarta diakibatkan oleh penerapan sistem ekonomi liberal dengan arus modal asing yang semakin pesan. Hal ini juga berdampak pada munculnya berbagai pabrik gula yang mempekerjakan orang Belanda dan Eropa sebagai pegawai administrasi. Hal ini kemudian mendorong peningkatan kebutuhan hunian di Yogyakarta.

Kotabaru Map
Kotabaru Map

Residen Yogyakarta kala itu, P.W Jonquiere meminta kepada Sri Sultan Hamengku Buwono VII agar menyewakan tanah miliknya di sisi timur Kali Code untuk pemukiman baru. Permintaan tersebut disetujui oleh Sultan sebagaimana yang tertuang dalam dokumen Rijksblad van Sultanaat Djogjakarta No. 12 tahun 1917. Beberapa ahli sejarah maupun arkeologi menyatakan bahwa dokumen tersebut adalah penanda awal pembangunan Kota Baru.

Perancangan Kawasan Kota Baru ini hendak mengadopsi konsep Garden City yang dicetuskan oleh Ebenezer Howard. Model kawasan seperti ini menjadi tren diberbagai belahan dunia kala itu.

Di Jawa sendiri, kawasan pemukiman berkonsep Garden City ini bisa dijumpai di Candi Baru, Semarang dan Kawasan Darmo di Surabaya. Hal inilah yang mempengaruhi pembentukan kawasan Kota Baru dan menjadikannya sangat unik.

Keunikan Kota Baru diantaranya Lapangan Kridosono yang dahulunya memang kawasan terbuka dengan fasilitas olahraga milik Belanda ini menjadi titik pusat dengan jaringan jalan yang tertata rapi. Pepohonan rindang yang menghiasi Boulevard (Jalan Suroto & Jalan Faridan M Noto) semakin menegaskan konsep garden city ini.

Tata hunian juga memiliki komposisi rumah-kebun atau land-huis dengan ciri bangunan berlanggam indis. Kawasan Kota Baru ini juga dilengkapi fasilitas umum berupa rumah sakit (Bethesda), Sekolah dari setingkat SD hingga SMA, fasilitas ibadah (Gereja Katholik dan Protestan) serta asrama militer.

Keunikan lainnya adalah penamaan jalan di Kawasan Kota Baru yaitu sisi timur Jalan Suroto (dahulu bernama Mataram Boulevard) menggunakan nama-nama sungai, sedangkan sisi barat mengunakan nama-nama gunung. Namun pada masa kemerdekaan, nama-nama jalan tersebut diganti menggunakan nama-nama pahlawan yang gugur pada peristiwa pertempuran Kota Baru yang terjadi pada 6-7 Oktober 1945.

Hal ini terjadi karena kawasan Kota Baru menjadi saksi bisu terkait peristiwa heroik penyerangan gudang senjata Jepang oleh para tentara dan rakyat Indonesia di Yogyakarta. Untuk menghormati jasa para pahlawan yang gugur dalam pertempuran tersebut, maka nama-nama jalan di Kota Baru diganti serta dibangunnya Masjid Syuhada pada tahun 1950 ini menjadi penanda untuk menghormati mereka yang syahid berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kota Baru yang mungkin sering kita lewati sehari-hari ini ternyata menyimpan berbagai kisah masa lampau yang selalu menarik untuk kita perbincangkan. Keberadaan bangunan dengan arsitektur khas era kolonial Belanda ini seakan membawa kita ke masa lalu.

Kota Baru menjadi ruang nostalgia kita saat pertumbuhan dan perkembangan Kota Yogyakarta yang kian hari kian pesat.

Muat Lagi Dari Erwin Djunaedi
Muat Lebih Banyak Di Heritage