Home Heritage Klenteng Poncowinatan, Klenteng Tertua di Jogja

Klenteng Poncowinatan, Klenteng Tertua di Jogja

5 menit waktu baca
71

Apa yang anda pikirkan jika mendengar istilah “Pecinan di Yogyakarta”? Mungkin salah satu hal yang terlintas di kepala yakni Kranggan. Terletak di bagian utara Tugu Jogja, Kranggan menjadi salah satu pecinan yang hingga kini masih eksis di masyarakat berkat keberadaan pasarnya. Namun siapa sangka jika jejak kejayaan wilayah Kranggan ini justru terletak pada fasilitas ibadah bagi warga Tionghoa? Klenteng tersebut bernama Klenteng Poncowinatan.

Klenteng Poncowinatan

Aslinya, klenteng satu ini bernama Zen Ling Gong. Bagi warga Jogja, klenteng ini lebih dikenal dengan nama Klenteng Poncowinatan. Penamaan ini dikarenakan lokasi dari klenteng itu sendiri yang berada di Jalan Poncowinatan 16, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta. Klenteng Poncowinatan menjadi klenteng tertua di kota Yogyakarta, karena telah berdiri sejak tahun 1881 pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII.

Kawasan klenteng yang menempati area Sultan Ground seluas 6.244 meter persegi ini sempat difungsikan sebagai sekolah modern Tionghoa pertama di Yogyakarta dengan nama Tiong Hoa Hak Hong (THHT) pada tahun 1907. Namun popularitas sekolah Tionghoa ini kemudian mengalami kemunduran akibat persaingan dengan sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Hingga puncaknya pada tahun 1940-an, gedung sekolah ini kemudian dikembalikan kepada pihak pengelola kleteng. Saat ini, pengelolaan klenteng dijalankan oleh Yayasan Budaya Wacana (YBW).

Layaknya bangunan klenteng pada umumnya, klenteng Poncowinatan didominasi oleh warna merah dan kuning emas. Mengusung arsitektur Tiongkok kuno, bangunan klenteng juga tetap dipertahankan keasliannya. Bahkan klenteng juga telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Yogyakarta. Memasuki bangunan klenteng, ornamen naga terlihat di bagian atap dan bagian tiang penyangga. Dinding bangunan menggunakan batu bata berplester yang ditambahkan beberapa ornamen serta simbol tertentu yang berkaitan dengan kepercayaan Tionghoa. Atap bangunan menggunakan kayu jati, sedangkan lantai telah menggunakan keramik.

Pembagian ruangan terbagi menjadi dua, yakni ruang publik dan ruang privat. Patung Kwan Tie Koen, atau juga disebut dewa Keadilan akan dengan mudah dijumpai di ruang suci utama. Tidak heran apabila banyak pengunjung yang secara sengaja bersembahyang di klenteng ini guna memohon keadilan dan kesejahteraan dalam hidupnya. Pada ruang pemujaan dewa utama terdapat beberapa altar dengan dewa yang berbeda, seperti dewi Kwan Im dan dewa Hok Tek Cen Seng (Dewa Penunggu Rumah).

Lokasi klenteng Poncowinatan cukup mudah diakses dengan berjalan kaki. Dari Tugu Yogyakarta, anda dapat berjalan kaki beberapa meter ke arah utara menuju pasar Kranggan, dimana letak klenteng yang persisnya berada di bagian utara pasar. Namun apabila anda ingin bekunjung menggunakan kendaraan mobil/ motor, klenteng Poncowinatan juga memiliki halaman luas yang bisa digunakan sebagai parkir.

Klenteng Poncowinatan juga seringkali dikunjungi oleh warga lokal maupun warga mancanegara, baik untuk keperluan ibadah maupun keperluan wisata. Sangat disarankan untuk berkunjung ke klenteng ini di waktu pagi hingga siang hari, terlebih bagi anda yang ingin memotret bangunan depan klenteng. Selain itu jika beruntung, anda juga dapat melihat proses ibadah umat Tionghoa pada waktu tersebut. Meski begitu, sangat tidak diperkenankan untuk memotret orang-orang yang sedang beribadah tersebut dari arah depan. Mengingat bangunan masih difungsikan sebagai tempat ibadah, ada baiknya berpakaian yang sopan dan juga tetap menjaga ketenangan selama berkunjung ke klenteng.

Jadi, tertarik untuk mencoba atmosfir ala Tiongkok di Klenteng Poncowinatan?

Klenteng Poncowinatan

Muat Lagi Dari Selly Juanisa Harsela
Muat Lebih Banyak Di Heritage