Kesultanan Yogyakarta dan Syiar Islam

7 min read
0
26

genpijogja.com – Gelar Panatagama Khalifatullah pada nama Sultan-Sultan Yogyakarta bukanlah pepesan kosong. Gelar tersebut menegaskan bahwa Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berkewajiban untuk menegakkan Agama Islam di tanahnya.

Salah satu wujud dari hal tersebut dengan adanya Masjid Gedhe Ngayogyakarta, perayaan keagamaan dan kampung-kampung santri yang tumbuh di wilayah kekuasaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Baca juga: Masjid Gedhe Kauman Jogja, Simbol Akulturasi Jawa Islam
Masjid Gedhe Kauman Jogja, Simbol Akulturasi Jawa Islam
Masjid Gedhe Ngayogyakarta, Simbol Akulturasi Jawa Islam

Keberadaan Masjid Gedhe Ngayogyakarta (yang biasa juga dikenal dengan Masjid Gedhe Kauman) tidak bisa dipisahkan dengan syiar Islam, termasuk bentuk dan ornamentasi masjidnya. Tiga tingkat atapnya dapat dimaknai sebagai Iman, Islam dan Ikhsan.

Beberapa ornamentasinya juga selain berdiri untuk melengkapi komponen catur gatra (konsep 4 komponen pusat kerajaan di Jawa), keberadaan Masjid Gedhe Ngayogyakarta mengukuhkan agama Islam sebagai agama kerajaan. Masjid Gedhe Ngayogyakarta merupakan masjid pusat dari semua masjid di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pengadilan keagamaan dilakukan di Masjid Gedhe Ngayogyakarta ini.

Beberapa perayaan yang memperingati hari-hari besar Islam juga dilakukan di sini. Perayaan-perayaan tersebut juga mewajibkan adanya figur Sultan Yogyakarta yang memimpin perayaan. Beberapa perayaan tersebut adalah Garebeg (Mulud, Sawal dan Besar) juga Sekaten.

Sekaten sendiri merupakan hajad dalem untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada yang berpendapat bahwa sekaten berasal dari kata sekati yang merupakan seperangkat gangsa (gamelan) peninggalan kerajaan Demak.

Gamelan tersebut kemudian dimainkan saat perayaan sekaten dan diwariskan ke Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa Tengah seperti Pajang dan Mataram, baik saat pusat kerajaan berada di Kerta, Pleret, Kartasura, hingga Surakarta dan Yogyakarta. Ada juga yang berpendapat bahwa Sekaten berasal dari kata syahadattain.

Baca juga: Kampung Kauman Jogja: Pesona Rumah Indis dan Saudagar Batik di Masa Silam

DSC08216

Pagongan Lor di depan Masjid Gedhe Ngayogyakarta (dokumentasi penulis).

Perayaan tersebut digunakan Wali Songo untuk menarik perhatian masyarakat yang belum beragama Islam dengan memainkan gamelan sekati. Untuk masuk area tempat dimainkan gamelan, orang-orang harus mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal seperti ini setidaknya terjadi di Masjid Agung Demak.

Walaupun tidak ada catatan bahwa Masjid Gedhe Ngayogyakarta melakukan hal serupa, tetapi praktek perayaan sekaten mengakar sejak era Demak hingga kini.

Gamelan yang dimainkan saat sekaten berada di suatu bangsal bernama Pagongan Lor (utara) dan Pagongan Kidul (selatan) yang ada di halaman Masjid Gedhe Ngayogyakarta. Gamelan tersebut memiliki nama Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga.

DSC08025

Langgar Kidul KH. Ahmad Dahlan (dokumentasi penulis).

Masjid Gedhe Ngayogyakarta sebagai pusat keagamaan di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat juga memiliki abdi dalem dan ulama. Abdi dalem keagamaan dan para ulama tersebut menempati sebuah kampung di sebelah barat Masjid Gedhe Ngayogyakarta yang bernama Kauman. Kauman sendiri berasal dari kata kaum yang dalam Bahasa Arab berarti masyarakat.

Kauman kemudian berkembang menjadi kampung santri. Banyak ulama yang membuka pengajian, hingga pondok pesantren. Langgar dan rumah milik warga Kauman banyak yang menjadi tempat belajar agama. Salah satu yang paling terkenal adalah KH. Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri organisasi Muhammadiyah.

Selain Kauman, terdapat beberapa pusat keagamaan di wilayah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pusat-pusat keagamaan tersebut berada di masjid-masjid Pathok Negoro dan kampung sekitarnya.

Masjid Pathok Negoro merupakan empat masjid di empat penjuru angin yang mengelilingi daerah Kuthanegara (daerah inti kerajaan) sekaligus menjadi batas wilayah Nagaragung dan Kuthanegara. Masjid-masjid Pathok Negoro tersebut dimiliki oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Baca juga: Masjid Plosokuning, Masjid Tua di Utara Jogja

DSC04844

Masjid Pathok Negoro An-Nur Plosokuning di Kabupaten Sleman (dokumentasi penulis).

Di bagian barat Kuthanegara ada Masjid Jami’ An-Nur di Mlangi, di bagian utara Kuthanegara ada Masjid Jami’ Sulthoni di Plosokuning, di bagian timur Kuthanegara ada Masjid Jami’ Ad-Darojat di Babadan dan di bagian selatan Kuthanegara ada Masjid Nurul Huda di Dongkelan.

Di sekitar masjid tersebut terdapat beberapa pesantren, terutama Masjid An-Nur Mlangi yang terdapat 9 pesantren di sekitarnya. Bahkan, beberapa dari masjid tersebut didirikan dan dikelola oleh kerabat-kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Salah satunya adalah Masjid Jami’ An-Nur Mlangi yang didirikan oleh BPH. Sandiyo atau Kyai Nur Iman, saudara laki-laki dari Sultan HB I, pada tahun 1758. Selain itu, Masjid Jami’ Sulthoni didirikan oleh Kyai Mursodo, anak dari Kyai Nur Iman.

Selama ini kita kadang melihat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terlepas dari syiar Islam, bahkan anti-Islam. Setelah merunut beberapa peninggalan yang berkaitan dengan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa, pertanyaannya benarkah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak Islam?

Baca juga artikel terkait Heritage atau tulisan menarik lainnya Muhammad Faiz.
Load More Related Articles
Load More By Muhammad Faiz
Load More In Heritage