Kerajinan Gerabah Karanganyar Borobudur, Warisan Nenek Moyang yang Harus Terus Lestari

7 min read
0
234

Borobudur merupakan Pusaka Saujana Indonesia, artinya Borobudur adalah sebuah lanskap budaya yang merefleksikan hubungan antara pusaka alam dan pusaka budaya. Sebagai Pusaka Saujana, Borobudur sebenarnya kaya akan potensi wisata. Buat kamu yang menganggap bahwa Borobudur hanya memiliki candi, ah saatnya kamu harus lebih banyak explore lagi.

Gerabah Klipoh Borobudur

Tim Web GenPI Jogja melakukan perjalanan wisata menuju Kawasan Borobudur yang secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Magelang. Kami mengunjungi beberapa spot wisata yang mempunyai karakteristik berbeda-beda, salah satunya Karanganyar. Sebuah kelurahan yang jaraknya sekitar 3.5 km dari ikon utama kawasan Borobudur, yaitu Candi Borobudur. Jarak yang cukup dekat, bukan?

Apa yang menjadikan Karanganyar istimewa sehingga wajib dimasukkan dalam “daftar tempat yang harus dikunjungi saat pergi ke Borobudur?”

Jawabannya karena Karanganyar memiliki potensi budaya yang tidak dimiliki oleh daerah-daerah lain di sekitarnya. Karanganyar menjadi pusat perkembangan kerajinan gerabah di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Setelah memburu sunrise dan singgah sebentar di Balkondes Tuksongo, kami bertolak menuju kawasan Karanganyar. Tidak diragukan lagi kalau kawasan ini menjadi sentra pembuatan kerajinan gerabah. Sebab saat memasuki kawasan ini, mata kami melihat gerabah beraneka rupa yang ditata di halaman rumah warga. Adapun desa yang menjadi bengkel belajar kami adalah Desa Klipoh.

Ibu Marsinah, salah seorang perajin gerabah menuturkan cerita bahwa kerajinan gerabah berkembang di daerah Karanganyar sudah sejak lama. Bahkan Karanganyar menjadi satu-satunya tempat di Borobudur yang mengedepankan kerajinan gerabah ketika daerah lain di sekitarnya cenderung meningkatkan hasil di bidang pertanian.

Sempat terbesit dalam benak saya, bagaimana asal mula kerajinan gerabah bisa berkembang di wilayah Karanganyar, khususnya Desa Klipoh. Salah seorang perajin pun berkata bahwa keberadaan gerabah sudah ada sejak berabad silam, satu periode dengan dibangunnya Candi Borobudur.

Hal tersebut tidaklah salah. Gerabah atau yang sering disebut dengan tembikar merupakan produk lama yang terus diberi sentuhan inovasi. Menurut catatan yang ada, gerabah di Indonesia sudah dikenal sejak 2500 hingga 1500 Sebelum Masehi.

Candi Borobudur sendiri baru dibangun sekitar abad VIII-IX M, saat Dinasti Syailendra mencapai puncak keemasannya. Selain orang yang hidup pada masa itu, tidak ada seorang pun yang tahu pasti bagaimana geliat kehidupan masyarakat sekitar Borobudur kala itu.

Memang susah sekali untuk merunut secara pasti awal mula perkembangan kerajinan gerabah di kawasan Borobudur. Namun adanya hasil penelitian yang datang silih berganti membuka wawasan baru bagi kita. Salah satunya penelitian Agni Sesaria Mochtar dari Balai Arkeologi Yogyakarta. Dalam penelitiannya, diangkatlah fragmen gerabah yang mengindikasikan adanya pemukiman kuno di kawasan Borobudur.

Dari sini dapat ditarik benang merah bahwa mungkin saja memang benar bahwa geliat pembuatan gerabah di Karanganyar sudah dimulai sejak masa dibangunnya Candi Borobudur. Candi Borobudur memang menjadi inspirasi dibuatnya produk kerajinan dan industri masyarakat lokal di Kawasan Borobudur.

Produk-produk ini pernah dipamerkan saat Pameran Terawang Borobudur Abad X oleh Balai Konservasi Borobudur di Jogja Gallery tahun 2017 silam. Adapun produk-produk tersebut antara lain alat musik tradisional, batik, souvenir, dan kerajinan gerabah.

Terlepas dari data-data di atas, terdapat cerita yang beredar luas di masyarakat Klipoh, Karanganyar tentang sosok Nyai Kalipah. Kamu sudah dengar ceritanya?

Gerabah Desa Klipoh

Menurut cerita yang ada, Nyai Kalipah adalah orang pertama yang menempati wilayah Klipoh. Tidak ada yang tahu secara pasti darimana beliau berasal, tetapi ia tinggal di barat dusun di tepi sungai. Konon katanya, Nyai Kalipah menjadi juga menjadi orang pertama yang mengembangkan kerajinan gerabah di Klipoh.

Banyak versi cerita beredar di masyarakat Klipoh. Menurut Eka, salah seorang pemudi desa, gerabah pada awalnya berkembang di Desa Gunden, desa tetangga yang jaraknya tak jauh dari Klipoh. Nama Gunden konon katanya diambil dari nama Kundi yang diambil dari nama Nyai Kundi. Nyai Kundi merupakan orang yang pertama kali mengenalkan kerajinan gerabah sehingga hingga saat ini, Kundi menjadi julukan bagi para perajin gerabah.

Meskipun banyak cerita dengan versi yang berbeda-beda. Akan tetapi sebenarnya terdapat satu suara bulat yang mengatakan bahwa gerabah merupakan kerajinan yang sudah ada sejak lama dan menjadi warisan budaya leluhur mereka.

Selain bernilai budaya, kerajinan gerabah pun memiliki arti penting bagi kehidupan ekonomi masyarakat Karanganyar yang kini banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Jadi, melestarikan kerajinan gerabah memang menjadi sebuah kewajiban bukan?

Load More Related Articles
Load More By Hernawan
Load More In Destinasi Wisata