Kedua Calon Mempelai Jalani Siraman dan Miodareni Jelang Akad Nikah

5 min read
0
84

Selasa (09/01) rangkaian agenda Dhaup Ageng dilanjutkan dengan prosesi midodareni dan siraman. Dua calon pengantin dhaup ageng yakni B.P.H Kusumo Kuntonugroho dan dr. Laily Annisa Kusumastuti jalani prosesi adat siraman pada Selasa (9/1/2024) pukul 08.00 WIB. Prosesi siraman diawali dengan penyampaian ubarampe siraman kepada pengantin putri yang terdiri dari Toya Perwita Adi dari Maerokoco ke Ndalem Kepatihan Pura Pakualaman.

Siraman calon pengantin putra di Parangkarsa. Ubarampe meliputi handuk, ratus, kebaya, dan lain sebagainya. Sebelum ritual siraman beralngsung diawali dengan sungkeman kepada orangtua masing-masing. Malamnya, kedua calon mempelai menjalani proses midodareni. Kanjeng Raden Nganten Tumenggung Retno Sumbogo menjelaskan siraman dilakukan sebagai bentuk pembersihan diri secara lahiriah dan batiniah bagi calon pengantin.

Kanjeng Retno menjelaskan, pada prosesi siraman calon pengantin wanita dilakukan oleh istri Adipati Pakualaman GKBRAA Paku Alam, orang tua calon pengantin wanita, budhe, eyang, BRAy Indrokusumo, dan Suryopadmonagoro.

“Setelahnya, calon pengantin putri kita busanani (dikenakan pakaian) ngagem sekar (pakai bunga), bunga melati di bagian dadanya dan kemudian melakukan prosesi siraman. Tapi sebelumnya, menunggu Gusti Putri terlebih dulu untuk memberikan pangestu,” terangnya.

Sebelum menjalani proses midodareni, kedua calon pengantin menjalani prosesi acara tanting beras. Prosesi ini dimaksudkan untuk menanyakan kemantapan hati kedua calon mempelai. Apakah sudah mantap untuk melepas masa lajang dan menjalani kehidupan pernikahan bersama selamanya. “Tujuan tantingan ini untuk mengonfirmasi kemantapan hati calon mempelai untuk duduk bersama dalam mengarungi bahtera rumah tangga,” ungkap Tim Pranatan Lampah-lampah Dhaup Ageng, Nyi Mas Tumenggung Sestrorukmi.

Tantingan berasal dari kata tanting ‘ditanya kemantapan hatinya’. Tantingan untuk calon pengantin laki-laki maupun calon pengantin putri dilaksanakan pada jam yang sama, di tempat yang berbeda. Tantingan dilakukan oleh K.G.P.A.A. Paku Alam X kepada calon pengantin laki-laki dan dr. Tri Prabowo, M.Kes., Sp.PD., FINASIM kepada calon pengantin perempuan.

Kain batik yang dikenakan calon pengantin adalah motif Indra Widagda Sidikara yang mengandung makna permohonan restu dan berkah agar kehidupan sosial di masyarakat yang akan dijalani selalu dalam ridho Tuhan. Pada kesempatan ini, orang tua membekali calon pengantin dengan nasihat-nasihat. Uraian nasihat antara lain diambil dari piwulang Paku Alam II dalam naskah Tajusalatin dan Babad Pakualaman.

Midodareni berasal dari kata widadari ‘bidadari’. Dilaksanakan pada malam hari sebelum upacara ijab dan panggih. Pada acara ini, calon pengantin perempuan di dalam kamar dikunjungi oleh keluarga dan kerabat dekat dengan tujuan mempererat persaudaraan. Sembari menunggu saat “bidadari turun”, para tamu yang berada di dalam kamar calon pengantin membicarakan halhal positif sebagai bekal berumah tangga. Dengan pikir positif dan optimis menjadikan hati dan wajah calon pengantin Perempuan semakin cantik dan bercahaya.

Hal ini menunjukkan bahwa “bidadari telah turun” menyatu dengan calon pengantin perempuan. Busana yang dikenakan oleh calon pengantin perempuan adalah batik Indra Widagda Trajutrěsna yang memuat harapan akan anugerah cinta dan kebahagiaan dari Yang Maha Pengasih dan kelak diharapkan pasangan pengantin mampu menyayangi sesame dengan tulus.

Sementara calon pengantin laki-laki melaksanakan tuguran. Tuguran ‘berjaga semalaman’ dilakukan oleh kerabat dan temanteman dekat dalam rangka menemani calon pengantin laki-laki melepas masa lajangnya yang tinggal semalam. Busana yang dikenakan oleh calon pengantin laki-laki adalah batik Indra Widagda Trajutrěsna yang memuat harapan akan anugerah cinta dan kebahagiaan dari Yang Maha Pengasih dan kelak diharapkan pasangan pengantin mampu menyayangi sesame dengan tulus

Load More Related Articles
Load More By Kazebara
Load More In Event