Karmawibhangga, Relief Karma di Kaki Borobudur

5 min read
0
69

“…karena apapun yang kau tanam, kelak akan kau tuai di kemudian hari”.

genpijogja.com – Merasa tidak asing dengan perumpamaan di atas? Ya. Perumpamaan tersebut memang kerapkali disinggung apabila berbicara tentang hukum karma. Setiap jiwa manusia seakan telah terpatri tentang hukum pembalasan, dimana segala akibat yang mereka dapatkan semua berawal dari apa yang telah mereka lakukan di masa lalu.

Destinasi Wisata Rebahan di Balkondes Tuksongo Magelang
Destinasi Wisata Rebahan di Balkondes Tuksongo Magelang

Istilah karma ( कर्म ) diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti tindakan. Dalam bahasa Pali, karma dikenal dengan nama kamma. Menurut KBBI, istilah karma merujuk pada perbuatan manusia ketika hidup di dunia.

Dalam pemaknaannya, karma menjadi istilah yang tepat untuk menggambarkan hukum kehidupan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Dalam ajaran Buddha, terdapat kisah Hukum Karma yang dikenal dengan nama Karmawibhangga. Kisah Karmawibhangga inilah yang kemudian menghiasi salah satu bagian dari candi Borobudur.

Seperti yang kita tahu, Candi Borobudur sendiri merupakan candi Buddha terbesar di dunia. Oleh karena itu, tak heran jika candi ini berada di posisi teratas dalam daftar destinasi bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah DIY – Jawa Tengah.

Secara administratif, Candi Borobudur terletak di jalan Badrawati, kawasan Candi Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jarak tempuh menuju Candi Borobudur pun cukup singkat, sekitar satu jam dari Jogja.

LRM_EXPORT_147906231199201_20191003_211701043

Pada Candi Borobudur, relief Karmawibhangga dapat dijumpai pada bagian kaki (Kamadhatu). Penempatan relief pada bagian tersebut disimbolkan sebagai dunia manusia yang masih berkaitan erat dengan nafsu duniawi.

Kisah Karmawibhangga diyakini sebagai potret kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Kuna pada abad ke-9 hingga abad ke-10 Masehi, yang notabene era itu adalah era kekuasaan kerajaan Mataram Kuna. Relief ini menjadi refleksi bagi seluruh manusia yang menapaki diri di Candi Borobudur.

Relief Karmawibhangga ditemukan oleh J. W. Ijzerman pada tahun 1885. Sebagai pendokumentasian, tahun 1890-1891 seluruh relief dipotret oleh Kassian Cephas. Pendokumentasian tesebut kemudian dibukukan pada tahun 1931 dan hingga kini masih tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Menurut Inda Citraninda Noerhadi dalam bukunya yang berjudul Busana Jawa Kuna (2012), relief Karmawibhangga secara keseluruhan berjumlah 160 pigura. Segala macam perbuatan manusia digambarkan dalam 117 pigura pertama, sedangkan 43 pigura lainnya menggambarkan akibat dari segala perbuatan manusia tersebut.

Relief perbuatan manusia menggambarkan adegan kesenangan duniawi, seperti menari, meminum minuman keras, hingga perselingkuhan. Namun ada juga relief yang menggambarkan kejahatan, seperti berperang dan pembunuhan.

Baca juga: Hariti: Sosok Dewi Ibu dalam Panel Relief Candi Buddha

LRM_EXPORT_147954908014183_20191003_211749719

Sayangnya, relief Karmawibhangga ini sengaja ditutup dan hanya menyisakan 3 panel di sisi tenggara yang dibuka secara permanen. Masih belum diketahui secara pasti apa alasan dibalik penutupan relief tersebut, namun banyak ahli yang menduga alasan utama dari ditutupnya relief Karmawibhangga untuk menjaga keamanan relief itu sendiri.

Namun, mengingat tingkat kedatangan pengunjung candi yang jumlahnya mencapai ribuan setiap harinya, maka tidak dapat dipungkiri jika faktor lain dari penutupan relief yakni menjaga kestabilan candi Borobudur. Hal ini dikarenakan Karmawibhangga di pahat di Kamadhatu, kaki penopang utama untuk bagian badan (Rupadhatu) dan bagian kepala (Arupadhatu) candi Borobudur.

Jadi bagaimana, tertarik untuk bertemu karma di Candi Borobudur?

Baca juga artikel terkait Heritage atau tulisan menarik lainnya Selly Juanisa.
Load More Related Articles
Load More By Selly Juanisa Harsela
Load More In Heritage