Home Heritage Kantor Perusahaan Kolonial Yang Masih Bisa Kamu Jelajahi di Titik Nol Jogja

Kantor Perusahaan Kolonial Yang Masih Bisa Kamu Jelajahi di Titik Nol Jogja

5 menit waktu baca
23

Perekonomian sedang naik-naiknya di koloni. Kota-kota yang menjadi penunjang pundi-pundi uang negeri di bawah permukaan laut tersebut perlahan makin besar dan ramai pada awal abad ke-20.

Perusahaan-perusahaan modern banyak mendirikan kantornya di kota-kota tersebut untuk memenuhi kebutuhan orang-orang kaya berkulit putih maupun yang ‘berwarna’ jika mempunyai banyak gulden. Tidak terkecuali kota Yogyakarta.

Titik Nol

Kota yang merupakan ibukota dari Kesultanan Yogyakarta ini naik akibat menjamurnya industri gula di teritori kesultanan. Kantor-kantor cabang perusahaan maupun jawatan pemerintah dibangun dengan megah dan menggunakan jasa arsitek-arsitek kenamaan pada masanya untuk membuat desain bangunan.

Bangunan-bangunan tersebut beberapa dibangun di sekitar persimpangan paling ramai di Kota Yogyakarta. Titik Nol yang merupakan titik awal untuk mengukur jarak ke suatu daerah dari Yogyakarta. Tempatnya strategis, yaitu berada di dekat pusat pertokoan di Jalan Malioboro, Benteng Vredeburg, Kantor Residen (sekarang Istana Presiden), dan Kraton Jogja.

Ada 3 bangunan kantor yang menghiasi lanskap tengah kota tersebut. Bangunan tersebut adalah kantor De Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia), kantor jawatan Pos, Telefon, dan Telegraf (sekarang kantor Pos Indonesia), dan kantor perusahaan asuransi, Nederlandsch-Indisch Levensverzekering en Lifrente Maatchappij atau disingkat sebagai NILLMIJ (sekarang kantor Bank Negara Indonesia 46).

Titik Nol

Bangunan yang paling tua di deretan kantor-kantor ini adalah kantor Pos Indonesia, dibangun tahun 1910 dan selesai tahun 1912. Kantor ini dirancang oleh arsitek-arsitek dari Burgerlijke Openbare Werken atau BOW (departemen pekerjaan umum yang bertanggung jawab pada bangunan-bangunan pemerintah Hindia Belanda).

BOW juga bertanggung jawab atas kantor pos lain di Hindia Belanda, contohnya Kantor Pos Medan. Bangunan tersebut sengaja dibangun di titik untuk mempermudah perhitungan jarak yang berpengaruh pada besar kecilnya biaya pengiriman.

Kantor Pos

Bangunan di sampingnya adalah kantor De Javasche Bank. Kantor ini merupakan cabang dari De Javasche Bank yang ada di Batavia (sekarang Jakarta) yang sudah ada sejak 1879. De Javasche Bank merupakan bank utama dan terbesar di Hindia Belanda.

Bangunan yang terlihat sekarang merupakan renovasi yang dilakukan pada 1914, seperti kantor-kantor De Javasche Bank lainnya. Bangunan ini didesain oleh biro arsitektur Hulswit, Fermont, en Cuypers yang juga merancang bangunan Gereja Santo Antonius Kotabaru Jogja, kantor Bank Escompto (sekarang Bank Mandiri) di Jakarta dan kantor Nederlandsch Handel Maatchappij di Bandung.

DJB

Bangunan ini pada dasarnya mirip dengan bangunan-bangunan De Javasche Bank lainnya. Gaya neoklasik menjadi karakter bangunan ini. Terlihat pilaster Yunani menghiasi jendela. Ukiran-ukiran Eropa seperti emblem pemerintahan Batavia dan emblem Kerajaan Belanda.

DJB

Kemudian bangunan kantor yang paling barat dan paling muda adalah kantor BNI 46. Bangunan yang dulunya perusahaan asuransi ini dibangun pada 1923. Arsiteknya adalah F.J.L Ghijsels yang juga merancang Stasiun Jakarta Kota.

Bangunan ini memiliki gaya art deco. Gaya ini cukup populer pada awal abad ke-20 dan sering dipakai baik di Eropa, Amerika, maupun Asia terutama koloni negeri Eropa. Arsitek-arsitek di negara Perancis yang memulai gaya ini sebelum Perang Dunia I lalu menyebar ke negeri barat lainnya.

NILLMIJ

Isi dari bangunan ini sudah tidak seperti sedia kala mengikuti keinginan pemilik bangunan. Hanya bagian fasad yang masih utuh. Awalnya, terdapat pintu masuk yang menghadap persimpangan. Namun kemudian ditutup agar jalan tidak macet.

Dari ketiga bangunan tersebut, hanya De Javasche Bank yang tidak dibuka untuk umum. Kalau kamu ingin mengunjungi semua bangunan ini, kamu bisa parkir kendaraan di Kantor Pos maupun BNI 46. Jika sedang penuh, parkir saja di taman parkir jalan Panembahan Senopati. Selamat menikmati Jogja.

Muat Lagi Dari Muhammad Faiz
Muat Lebih Banyak Di Heritage