Jonggrang Menyapa Pengunjung Raminten Kaliurang

7 min read
0
28

genpijogja.com – Pementasan ketoprak mengambil lakon Jonggrang: The Story of Prambanan Temple menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke The Waroeng of Raminten jalan Kaliurang Km.15,5 Sleman Yogyakarta. Digelar sebulan sekali setiap hari Minggu terakhir jam 19.30 WIB. Ini adalah salah satu upaya untuk mengangkat cerita legenda Roro Jonggrang yang sangat melekat di kehidupan masyarakat Jawa terutama di Jogja.

Baca juga: Kenalkan Ketoprak Kepada Milenial, Raminten Gelar Jonggrang The Story of Prambanan Temple Gratis
Kenalkan Ketoprak Kepada Milenial, Raminten Gelar Jonggrang The Story of Prambanan Temple Gratis
Kenalkan Ketoprak Kepada Milenial, Raminten Gelar Jonggrang The Story of Prambanan Temple Gratis

Candi Prambanan konon merupakan bagian dari cerita Roro Jonggrang yang tak terpisahkan. Cerita turun temurun dari masyarakat ini mencoba untuk diangkat kembali  dan dikemas secara kekinian di The Waroeng of Raminten Kaliurang. Keseluruhan pementasan ketoprak Jonggrang: The Story of Prambanan Temple berdurasi kurang lebih 45 menit. Acara ini sebagai wujud cinta budaya lokal dan untuk melestarikannya.

Raminten grup menjadi salah satu pusat wisata belanja dan tempat makan di Jogja yang sangat menjunjung tinggi kekhasan Jogja. Mulai dari tempat makan dengan nuansa tradisional, menu makanan dan minuman khasnya juga atraksi yang dihadirkan untuk memikat para pengunjungnya. Mengusung tema pusat aksi, atraksi dan edukasi budaya Jawa, pihak management berusaha mewujudkannya melalui Hamzah Batik yang menjadi galeri kerajinan dan cinderamata khas Jogja.

Pada Minggu (29/9) team dari GenPi Jogja diundang menyaksikan langsung keseruan pertunjukan Jonggrang: The Story of Prambanan Temple di The Waroeng of Raminten Kaliurang. Dibuka dengan tari Angguk Raminten, menampilkan 7 penari putri dengan kostum merah hitam khas penari angguk lengkap dengan kacamata hitam.

Tarian pembuka yang sangat energik  mampu memukau pengunjung yang hadir malam itu di The Waroeng of Raminten Kaliurang. Dalam sejarah, tari angguk biasa dimainkan oleh 15 penari wanita berkostum serdadu Belanda lengkap dengan topi hitam dan kaus kaki.

Tarian angguk yang asli berdurasi sangat lama dan mengandung unsur mistis memanggil arwah leluhur. Tak heran jika konon banyak penari yang kerasukan roh halus saat membawakan tari angguk. Dilanjutkan pertunjukan ketoprak Jonggrang: The Story of Prambanan Temple yang dikemas secara apik, semua pemain adalah karyawan Raminten grup yang dilatih secara khusus.

Pertunjukan Jonggrang: The Story of Prambanan Temple malam itu membuktikan bahwa siapapun yang mau berlatih pasti mampu menampilkan lakon yang dibawakan dengan sempurna. Butuh latihan extra untuk yang awalnya tidak memiliki dasar seni, tetapi berkat latihan dan ketekunan semua menjadi bisa dan biasa, ungkap Widodo salah satu karyawan Raminten group yang awalnya tidak bisa menari.

Penulis naskah ketoprak Jonggrang: The Story of Prambanan Temple adalah Bondan Nusantara, disutradarai oleh Felmy Pastika, Sipen Purwanto dan Cosmas Endarto, koreografer Anter Asmorotedjo, penata musik Boedhie Pram dan penata cahaya Danang Prasetyo. Kerjasama yang luar biasa menghasilkan tampilan memukau didukung oleh totalitas para pemainnya.

Baca juga: The Praja Coffee and Resto, tempat nongkrong ciamik dekat Merapi
Kenalkan Ketoprak Kepada Milenial, Raminten Gelar Jonggrang The Story of Prambanan Temple Gratis
Kenalkan Ketoprak Kepada Milenial, Raminten Gelar Jonggrang The Story of Prambanan Temple Gratis

Setiap karyawan harus memiliki salah satu keahlian dalam bidang seni dan budaya. Ini ditujukan untuk mendukung secara aktif dalam setiap pementasan yang diadakan Raminten grup. Selain pementasan bulanan, setiap minggunya juga ada pertunjukan seni untuk menarik pengunjung sekaligus untuk melestarikan budaya di The Waroeng of Raminten Kaliurang.

Dari setiap acara, talent yang tampil semuanya adalah karyawan yang tergabung dalam paguyuban seni Moendhi Dharma. Setiap karyawan dilatih untuk mempunyai keahlian seni, baik yang sudah punya dasar seni ataupun yang belum memiliki keahlian sama sekali. “Ada waktu khusus untuk berlatih di luar jam kerja”, jelas Widodo.

Dari setiap pementasan yang digelar The Waroeng of Raminten Kaliurang harapannya bisa mengedukasi pengunjung untuk mau menjunjung tinggi dan melestarikan budaya. Di era globalisasi seperti sekarang, pergeseran dan pengaruh budaya sangat mungkin terjadi. Salah satu cara melestarikan budaya adalah dengan menjadi bagian dari pelaku budaya itu sendiri.

Kedepannya semoga apa yang dicontohkan Raminten grup bisa diikuti oleh masyarakat walaupun caranya mungkin berbeda, agar kebudayaan kita tetap lestari dan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Baca juga artikel tentang Raminten atau tulisan menarik lainnya Retnope.
Load More Related Articles
Load More By Retnope
Load More In Event