Home Heritage Jengki, Jawara yang Sekarat di Balai Yasa Lokomotif Yogyakarta

Jengki, Jawara yang Sekarat di Balai Yasa Lokomotif Yogyakarta

6 min read
1
0
175

Di sebuah masa, Indonesia pernah mencetak sejarah dalam perkeretaapian. Sebuah masa dengan angka tahun 1951. Pendiri negri ini mendatangkan lokomotif berjenis CC 200.

Kehadiran lokomotif ini menjadi awal era mesin diesel di Indonesia sebagai alat penggerak utama kereta api untuk angkutan penumpang dan barang di jalur utamanya. Lokomotif CC 200 menjadi lokomotif diesel elektrik pertama di Indonesia yang difungsikan sebagai lokomotif kereta api dengan lebar rel 1067 mm.

CC200 dengan sebuah KA di Yogyakarta. Koleksi: Haryo Prabowo

Awal kedatangannya, lokomotif CC 200 oleh sebagian masyarakat disebut dengan istilah “Jengki”. Istilah jengki sendiri merupakan kata yang berasal dari “Yankee”, yang berarti orang Amerika (Serikat). Istilah tersebut masih banyak dan lazim digunakan pada masa itu, masa awal kedatangan lokomotif CC 200.

Dari beberapa sumber sejarah menerangkan bahwa kehadiran lokomotif CC 200 ini tak lepas dari peranan politik pada masa itu. Ketika lokomotif CC 200 diproduksi dan kemudian didatangkan ke Indonesia sedang terjadi perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet bersama masing-masing sekutunya.

Lokomotif CC 200 merupakan bantuan dari Amerika Serikat untuk Indonesia guna memodernisasi sarana perkeretaapiannya. Lokomotif CC 200 ini diproduksi di pabrik GE-Alco yang terletak di Erie, Pennsylvania, Amerika Serikat.

GE-Alco merupakan perusahaan gabungan dari General Electric bersama American Locomotive Company. Perusahaan ini hanya bertahan hingga tahun 1953 saja, yang artinya perusahaan ini memproduksi Lokomotif CC 200 sebagai salah satu produk terakhirnya.

CC 200 15 di Ambarawa. Foto milik Faishal Amar

Indonesia mendatangkan Lokomotif CC 200 sejumlah 27 unit, dengan harga sekitar USD 225 ribu perunitnya. Jika dikonversikan kerupiah, harga satu buah lokomotif CC 200 adalah sekitar Rp 1.710.000 (dengan kurs dollar tahun 1950 sebesar Rp 7,60 untuk setiap dollarnya).

Dengan dana sebesar itu, pemerintah Indonesia mendapatkan kontrak pembelian lokomotif CC 200 dengan menggunakan dana pinjaman dari Export Import Bank of America (Exim Bank). Dan akhirnya lokomotif CC 200 datang di Indonesia pada tahun 1953, bersamaan dengan tahun berakhirnya GE-Alco.

Secara fisik, lokomotif CC 200 memiliki bentuk muka berupa shovelnose atau hidung sekop pada kedua sisinya. Bentuk muka ini tidak digunakan pada lokomotif di Amerika, hanya terdapat pada lokomotif yang dijual keluar Amerika saja.

Terdapat dua buah kabin pengemudi lokomotif CC 200 dan mempunyai lorong di sebelah ruang mesinnya sebagai penghubung antara kedua kabinnya. Selain itu, kabinnya terasa begitu sempit sehingga masinis yang akan membuka pintu kabin harus melipat kursinya terlebih dahulu.

Untuk membedakan mana kabin depan dan belakang, kita bisa memperhatikan posisi radiator. Kabin yang posisinya jauh dari radiator itulah kabin depan dari lokomotif CC 200 ini.

Lokomotif CC 200 memiliki panjang 17.070 mm dengan lebar 2819 mm dan tinggi 3651 mm. Baja pejal menjadi bahan utama yang membalut tubuh lokomotif CC 200 dengan lapisan tahan api pada bagian samping dan atap dari kabin lokomotif. CC 200 memiliki 3 roda penggerak untuk masing-masing boogie dari 2 boogie utama.

Dikarenakan berat lokomotif CC 200 ini sebesar 96 ton, untuk mengurangi beban gandar lintas utama Jawa maka ditambahkan satu boogie idle tanpa motor penggerak dengan 2 roda di bagian tengah. Sehingga beban 12 ton pada setiap rodanya sudah memenuhi batas atas lintas utama Jawa ketika itu.

CC20008 di Balai Yasa Yogyakarta

Lokomotif CC 200 memiliki kecepatan maksimal 110 km/jam. Dikarenakan Lokomotif CC 200 berjenis diesel elektrik, lokomotif ini hanya mampu menerjang genangan air dengan ketinggian maksimal 3 inci (7,5 cm) di atas kop rel. Daya traksi CC 200 sendiri kurang maksimal akibat adanya bogie idle. Hal ini menyebabkan lokomotif CC 200 menjadi rentan selip pada tanjakan.

Namun, sangat disayangkan. Semua lokomotif CC 200 gugur dalam melaksanakan tugasnya. Sebagian besar dari jenis ini sudah lenyap tak berbekas. Wujud lokomotif CC 200 dalam kondisi mati dan tidak terawat masih dapat ditemui di Balai Yasa Lokomotif Yogyakarta.

Untuk dapat melihat yang berada di dalamnya harus memiliki izin khusus kepada pemilik asset, biasanya rumit dan berbelit-belit. Unit yang berada di dalam Balai Yasa Yogyakarta memiliki nomor seri CC 200 08 dan CC 200 09.

Namun jika tetap ingin melihatnya, jangan khawatir. Masih terdapat satu unit lagi dengan kondisi yang lebih baik berada di Museum Kereta Api Indonesia yang berada di Ambarawa dengan seri CC 200 15. Walaupun sudah dalam kondisi demikian, ketiga sisa lokomotif CC 200 sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya.

Load More Related Articles
Load More By Dewangga Liem
Load More In Heritage