Java Summer Camp #7: Dingin Tetapi Bersinar

5 min read
0
93

Mentari mulai bersinar menembus kabut di Bumi Perkemahan Rama Shinta, Kompleks Candi Prambanan. Teriak! Tandanya trip akan segera dimulai.

Trip untuk menggali ilmu sekaligus me-refresh pikiran, biasa orang menyebutnya jalan-jalan. Jalan-jalan bareng 250an teman baru pasti bakal seru. Roda beranjak meninggalkan jalan setapak area Candi Prambanan. Cukup jauh memang perjalanan yang akan ditempuh menuju Studio Alam Gamplong.

Java Summer Camp 2018
Java Summer Camp 2018. Foto milik IG @pacarkecilku

Trip yang mungkin belum tentu dirasakan oleh setiap orang, kita punya kesempatan untuk mengunjungi Studio Alam Gamplong yang berada di Moyudan, Sleman. Tak sedikit yang mengetahui tentang Studio Alam Gamplong, pasalnya disinilah film layar lebar “Sultan Agung” garapan Hanung Bramantyo dibuat, bahkan akan dipakai lagi untuk film terbarunya, Bumi Manusia.

Kita mulai masuk ke area Studio Alam Gamplong nih, sayangnya kita tidak boleh mengambil gambar disana. Akan tetapi, kita dapat berkeliling di Desa Wisata Gamplong yang jauh dari pusat kota dan benar-benar dapat menikmati kehidupan pedesaan yang asri dan tenang.

Semangat kita bertambah saat bis mulai bergerak ke timur menjauhi ujung wilayah yang paling barat. Tahu ngga sih kita mau kemana? Kita akan melanjutkan keseruan di obyek wisata Lava Bantal nan jauh diujung Sleman terletak hampir diperbatasan Sleman – Gunungkidul – Bantul. Trip kali ini nampaknya membawa kita menikmati dari ujung ke ujung lainnya.

Lava Bantal terlihat seperti sungai dengan aliran air yang mengalir normal dan cantik dengan akesoris bebatuannya. Konon katanya bebatuan itu berasal dari Lava Gunung Merapi yang loncat jauh sekali kemudian mengeras. Kejadian yang sebenarnya bagaimana ya, ummm ada tokoh yang paham hal seperti itu terkait dengan geologi.

Selain mendapat ilmu dari tokoh geologi hebat Pak Sudaryono dari UPN, kita juga mengikuti materi Micro Blogging dan Branding di Sosmed dari Pak Ang Tek Khun dan Kak Pieta.

Wiiiihhhh sekalian promosi twitter dan instagram boleh, asyik.

Java Summer Camp 2018
Java Summer Camp 2018

Tak hanya dapat melihat Lava Bantal, kita juga dapat menikmati indahnya sore hari sekaligus melihat berbagai tampilan kesenian, mulai dari kesenian khas Jogja sampai Papua. Kita pasti tak mau kalah dong, kita ikut berjoget ditengah kerumunan para penari. Bahkan yang tidak mengerti arti alunan lagu yang dinyanyikan pun ikut berjoget ria, salah satunya teman kita dari Sumatra. Dengan mengangkat dan menggoyangkan kaki kedepan belakang tak ada lelahnya, asyik sekali bukan.

Senja menjemput kita untuk pulang ke bumi penginapan sementara itu, setelah membersihkan diri, kita berjalan menyusuri gelapnya malam dibawah sinar rembulan. Menikmati pertunjukkan drama yang disajikan dengan kombinasi antara seni tari dan budaya, Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Kita mendapat kursi di tampilan indoor, artinya kita menonton pertunjukan didalam ruangan dan beratap.

Lenggok para pemain begitu memukau para penonton. Bagaimana tidak, lantunan musik yang seirama dengan gerak-gerik Rama dan Shinta berhasil membut kita tak dapat berpaling dari kemesraan mereka. Kesal rasanya melihat Rahwana yang melakukan segala cara untuk merebut Shinta dari Rama. Haru pun terjadi saat Shinta dapat kembali ke pelukan Rama, namun Rama tak percaya jika kesucian Shinta masih terjaga.

Meskipun sudah malam, masih ada satu keseruan lagi nih, yaitu api unggun. Api unggun menyala menghangatkan tubuh kita sambil bermain suatu permainan yang dapat membuat kita akrab antara satu sama lain meskipun belum saling mengenal. Pentas seni yang ditampilkan setiap kelompok tak ada habis keseruannya sampai dinihari sekalipun.

Load More Related Articles
Load More By Latifah Nur Istiqomah
Load More In Event