Jamu Ginggang Pakualaman: Empon-Empon Tradisional Jawa, Melegenda di Jogja

7 min read
0
31

genpijogja.com – Sederhana dengan nuansa masa lalu yang masih kental terasa. Begitulah kesanku ketika menginjakkan kaki di Jamu Ginggang Pakualaman Jogja setelah sekian purnama.

Beroperasi sejak puluhan tahun silam, Jamu Ginggang Pakualaman acap kali dijuluki sang legenda empon-empon dari Jogja karena mewarisi dan mengusung “Jamu Asli Jawa”.

“Badhe pesan napa, Mas?” tanya pria paruh baya, pegawai Jamu Ginggang Pakualaman yang kerap kali gerak cepat tatkala pengunjung datang.

Jamu Ginggang Pakualaman Jogja

Jamu Ginggang Pakualaman menawarkan berbagai jenis jamu-jamuan seperti sehat pria, galian putri, galian singset, sawan tahu, ngeres linu, cabai lempuyang, pitan, beras kencur, kunir asem, temulawak, dan masih banyak lagi.

Namun konon katanya beberapa menu yang paling laris dan dicari pelanggan setia Jamu Ginggang Pakualaman Jogja adalah sehat pria, sehat wanita, dan beras kencur.

Penat selepas membelah jalanan Kota Yogyakarta petang itu, pilihanku langsung tertambat pada segelas jamu beras kencur ditambah es.

Menu paling aman, bagi mereka yang tidak suka rasa pahit-pahitan. Kalau aku sendiri sejak dulu sudah menggemari Jamu Beras Kencur ini.

Sembari menunggu waktu meneguk jamu, pelanggan bisa lebih dulu memilih hendak duduk di mana.

Ruangan Jamu Ginggang Pakualaman tak begitu luas, hanya ada beberapa set meja-kursi saja. Meski kecil dan sederhana. Duduk di Jamu Ginggang Pakualaman mampu menghadirkan sensasi tradisional.

Apalagi kalau duduk menghadap luar, melihat warga bercengkrama, ditambah ada sebuah andong melintas tiba-tiba.

Jamu Ginggang Pakualaman Jogja

Barangkali, suasana tradisional yang bangkit ketika berada di Jamu Ginggang Pakualaman erat kaitannya dengan rekam jejak sejarahnya.

Maklum saja, Jamu Ginggang Pakualaman telah eksis sejak puluhan tahun lalu dan bertahan dari era ke era.

Diceritakan oleh salah satu anggota keluarga besar pemilik Jamu Ginggang, Jihan, warung empon-empon di Jalan Masjid, Pakualaman, Yogyakarta ini keberadaannya tak bisa dipisahkan dari sosok yang akrab disapa Mbah Joyo Tan Ginggang.

Usut punya usut, Mbah Joyo Tan Ginggang pencetus merupakan sosok yang membuat menu jamu kala itu.

Mbah Joyo Tan Ginggang adalah tabib abdi dalem Pakulaman VII yang menjabat pada 1906 sampai 1937. Dari tangan Mbah Joyo Tan Ginggang lah ide untuk mengenalkan jamu lebih luas muncul.

Meski begitu, pada awalnya jamu buatan Mbah Joyo Tan Ginggang hanya dikhususkan bagi kalangan terbatas yakni kerabat Kraton Pakualaman saja. Baru seiring berjalannya waktu, jamu mulai bisa dinikmati semua kalangan, termasuk jelata.

Masyarakat baru bisa mulai ikut menikmati jamu warisan keluarga Mbah Joyo Tan Ginggang setelah tahun 1930. Kala itu, Mbah Joyo Tan Ginggang telah berpulang dan sepak terjang digantikan oleh sang adik, Mbah Bilowo.

Jamu Ginggang Pakualaman Jogja

Tidak seperti sekarang, dulu jamu hanya dijual di emperan jalan depan rumah yang kini sudah dibangun warung Jamu Ginggang.

Cara berjualan semacam itu bertahan sampai Mbah Bilowo wafat, digantikan oleh Mbah Puspo Madyo.

Di tangan Mbah Puspo Madyo, pada 1950 Jamu Ginggang pertama kali memiliki kios. Dulu warung jamu melegenda ini awalnya bernama “Tan Ginggang” yang berarti tansah renggang.

Dalam bahasa Indonesia yakni bermakna tiada jarak bagi masyarakat biasa dengan kalangan Kraton atau Istana. Namun seiring berjalannya waktu, nama berubah menjadi “Ginggang”.

Saat ini, Jamu Ginggang sudah dipegang generasi keempat yang dipimpin oleh putri dari Mbah Puspo Madyo yakni Ibu Dasiyah dan Ibu Dasinah.

Bisa dibayangkan betapa luar biasanya keluarga Jamu Ginggang Pakualaman saling bahu membahu menjaga resep jamu warisan leluhur mereka. Juara, bukan? Apalagi konon katanya resep jamu tidak pernah berubah.

Singkat cerita, segelas jamu beras kencur sudah tersedia di meja. Baru melihat saja rasanya sudah tergugah ingin mencoba, mencoba, dan mencoba.

Sebagai pecinta beras kencur, aroma jamu cukup menohok di hidung. Rasanya pun tak mengecewakan. Perpaduan beras dengan kencur, ditambah jahe, asam jawa, gula jawa, dan daun pandan berpadu di lidah.

Jamu Ginggang Pakualaman Jogja

Setelah tegukan pertama, sensasi yang ku rasakan ialah kesegaran. Setelah penat seharian bekerja, minum jamu beras kencur rasanya buat badan jadi lebih fresh.

Segelas beras kencur berukuran sedang langsung dibabat habis. Rasa kencur nyata bisa dirasakan, manis-asam bercampur di lidah, dan sesekali muncul sensasi rasa sedikit pedas.

Segelas beras kencur es tersebut dibanderol harga Rp6.000 saja. Sehat di tubuh, aman di kantong.

Kalau teman-teman suka jamu rasa pahit alias paitan, boleh dicoba pula Jamu Ginggang. Begitu pun jika sedang kurang enak badan.

Kala aku berkunjung ke Jamu Ginggang Pakualaman Jogja, ada seorang wanita yang memesan jamu untuk meredakan rasa flu. Kata dia, super manjur!

Jamu Ginggang Pakualaman buka setiap hari mulai pukul 8.00 WIB hingga 20.00 WIB. Pastikan jangan sampai kelewatan dan tetap bugar dengan minum jamu tradisional.

Pecinta jamu beras kencur mari merapat, rasakan khasiat-nya!

Load More Related Articles
Load More By Hernawan
Load More In Kuliner