Home Kuliner Hati-hati Makan Oseng Mercon Bu Narti, Lidah Bisa Meledak

Hati-hati Makan Oseng Mercon Bu Narti, Lidah Bisa Meledak

8 min read
0
0
18

Jogja sedang dingin-dinginnya karena diguyur hujan malam ini. Seketika runtuh sudah angan untuk berkuliner tanpa berbasah-basahan. Perjalanan saya sudah setengah jalan menuju salah satu destinasi kuliner Jogja, Warung Oseng Mercon Bu Narti.

Warung Oseng Bu Narti berada di jalan K.H. Ahmad Dahlan, persis di seberang gedung Muhamadiyah yang baru. Tenda biru dan spanduk hijau menjadi ciri khas warung ini. Di depannya berjejer rapi motor para pengunjung. Di kanan kiri tenda terdapat lesehan beratapkan langit. Nampak beberapa pelanggan bersantap di emperan toko sebisa mungkin menghindari percikan air.

Saat saya masuk ke tenda terlihat Bu Narti sedang melayani pelanggan dibantu oleh tiga anak buahnya. Terdapat satu meja ukuran sedang untuk menaruh lauk dan lalapan. Satu panci besar oseng mercon setia berada di samping Bu Narti. Saya bergidik melihat oseng merconnya. Berdiri di dekatnya saja sudah tercium aroma cabai yang menyengat. Tanpa pikir panjang saya pesan dua porsi nasi oseng untuk diri sendiri dan seorang teman. Ada beberapa pilihan lauk, seperti ayam bacem, puyuh bacem dan lele goreng.

mercon

Kami memutuskan untuk duduk di lesehan karena tenda sudah penuh dan terlihat hujan sedikit mereda. Tak lama dua porsi nasi oseng mercon sudah di depan mata. Tampilannya sederhana, beralaskan piring rotan yang dilapisi kertas minyak. Terdiri dari seporsi nasi hangat, oseng mercon dan dua potong timun segar. Tak peduli gerimis yang turun, saya foto sebisa mungkin sebagai kenangan pertama kalinya.

Setelah itu, saya suap satu sendok tetelan dengan nasi. Oke, masuk pertama di dalam mulut masih aman. Saya kunyah dan kunyah. BLAAARRR!!! Mata langsung melek, lidah saya merasakan sensasi semua bumbu dan rasa pedasnya. Benar-benar meletus seperti mercon, hujan yang turun pun sudah tidak saya pedulikan. Oseng yang masuk ke dalam perut, pedas dan panasnya sungguh terasa hingga jiwa.

Saya tidak menyarankan oseng mercon bagi teman-teman yang punya maag atau tidak kuat pedas. Jangan coba-coba! Setiap suapan yang masuk ke mulut. Langsung saya lindas dengan seteguk teh manis hangat untuk meredakan pedasnya. Butuh waktu lebih dari 2 menit untuk mengendalikan letupan mercon di lidah saya.

Enak sebenarnya. Kikilnya lembut, tidak alot. Hanya saja saya pribadi memang tidak tahan pedas. Pelanggan sebelah sampai heran melihat saya yang kepedesan. Saya juga heran melihat mereka makan sampai habis dan baik-baik saja tidak merasakan pedas.

Saya pun meminta kecap kepada mas-mas yang melayani makanan. Maklum, orang Jogja lebih suka manis. Ketika dicampur kecap rasa pedasnya sedikit berkurang. Namun, pada suap ketiga, saya benar-benar menyerah. Teman saya juga terkapar kepedasan. Oseng mercon ini memang enak, meski saking pedasnya muncul rasa pahit di lidah saya. Bagi kalian yang doyan makanan pedas dan belum pernah mencoba oseng mercon, kalian wajib ke sini.

bu narti

Setelah dapat mengendalikan rasa pedas, saya beranjak duduk dekat Bu Narti yang sedang mengobrol dengan beberapa pembeli. Saya pun ikutan ‘nimbrung’. Wanita setengah baya ini bercerita bagaimana lika-liku kehidupan berjualan oseng mercon. Berawal tahun 1997, saat itu ibunya Bu Narti berjualan lesehan biasa.

Suatu hari, Cak Nun (MH Ainun Najib) makan di warungnya lalu berkomentar: “Osengnya seperti mercon!” sejak saat itulah ibunya Bu Narti fokus jualan oseng mercon.

“Kenapa oseng mercon, Bu?”, tanya saya.

“Biar ada yang beda dan unik, Mbak. Yang orang Jogja belum pada jualan”, jawab Bu Narti.

Bersama waktu, oseng mercon Bu Narti mulai di liput berbagai tv nasional dan media lainnya. Warung Bu Narti menjadi pelopor oseng mercon alias yang pertama, setelah itu baru oseng mercon yang lain bermunculan. Bu Narti ini meskipun terlihat galak tapi sangat ramah dan ceplas-ceplos. Asyik sekali mengobrol dengan beliau.

Buat sebagian orang, seporsi oseng mercon seharga 23 ribu di warung Bu Narti dianggap mahal. Sebab para pengunjung langsung membeli di tempat Bu Narti, tidak mencicipi oseng mercon yang lain dulu. Kata Bu Narti, oseng mercon di tempat lain malah lebih mahal. Ketika saya protes tentang rasa pedasnya yang sungguh sangat sangat sangat pedas, Bu Narti menjelaskan bahwa dulu memang nasi dan osengnya di pisah. Namun, karena banyak review yang mengatakan kalau oseng mercon Bu Narti tidak pedas, akhirnya nasi dan oseng kikilnyanya disajikan dengan cara dicampur hingga sekarang.

“Biar kapok, Mbak. Biar kepedesan. Dulu soalnya saya pisah mereka cuma makan tetelannya saja karena rasa pedasnya jadi ga seberapa pedas”, jelas Bu Narti.

Warung yang buka hampir setiap hari ini menghabiskan 25 kg beras, 30 kg tetelan dan 20 kg cabai per hari. Bu Narti mempunyai empat orang pegawai khusus untuk masak oseng ini. Oseng mercon Bu Narti juga tersedia dalam kemasan kalengan lho. Bisa sebagai oleh-oleh bagi sanak saudara yang jauh.

Semakin malam warung Bu Narti semakin ramai padahal hujan mengguyur dengan derasnya. Setiap hari Bu Narti membuka warungnya pukul 6 sore hinggan 11 malam. Tapi untuk malam minggu biasanya pukul 9 malam, oseng mercon sudah ludes.

Load More Related Articles
Load More By Sany Maya
Load More In Kuliner