Home Destinasi Wisata Harapan Masyarakat dan Geliat Pariwisata Desa Nglinggo Bersama Asita DIY

Harapan Masyarakat dan Geliat Pariwisata Desa Nglinggo Bersama Asita DIY

6 menit waktu baca
22
Foto : Hardy Brex

Tiga bus berisi rombongan peserta yang terdiri dari travel, blogger dan media melaju menuju kebun teh desa wisata Nglinggo Barat, Pagerharjo, Samigaluh di Kulonprogo, Jogjakarta. Perjalanan menggunakan bus besar membutuhkan waktu sekitar dua jam melalui jalan yang menanjak dan berkelok.

Sesampainya di pintu gerbang desa wisata Nglinggo para peserta menuju ke kebun teh menggunakan shuttle bus yang lebih kecil. Perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki menuju bukit Isis.

Makanan tradisional seperti seperti geblek dari singkong, tawonan dari jagung, utri dari singkong, dan tempe besengek dengan bumbu kelapa yang rasanya gurih dan manis, ditemani dengan kopi dan teh asli Nglinggo yang memiliki rasa yang khas disambut penuh suka cita oleh peserta yang belum sarapan dan lelah berjalan menuju bukit.

Tidak hanya makanannya yang menggoda selera, pemandangan berupa hamparan karpet hijau dan beberapa gunung di Jawa Tengah seperti Merapi, Sindoro dan Sumbing yang terlihat gagah pada cuaca yang cerah. Menjadi pemandangan yang tidak akan dilewatkan untuk diabadikan.

Sebagian peserta menikmati sajian khas Kulonprogo dan sebagian asyik berfoto di spot yang telah disediakan. Perjalanan dilanjutkan menuju hutan pinus Ngilnggo. Peserta berjalan kaki melalui bukit terjal menuju hutan pinus. Jalanan tersebut ternyata juga merupakan jalur off road yang menjadi salah satu paket wisata unggulan Nglinggo Barat selain kebun tehnya.

Foto: Hardy Brex 

Di tengah hutan pinus, lagi-lagi peseta disambut dengan makanan lokal. Kali ini singkong rebus yang gurih berpadu dengan parutan kelapa segar. Semua peserta dan pembicara duduk di atas tikar bernaung di bawah pohon-pohon pinus. Aroma pinus yang menguar menjadi obat penenang pelepas lelah setelah berjalan.

Tiga pembicara hadir dalam acara sarasehan yang di adakan oleh ASITA DIY dalam rangka memperingati World Tourism Day bersama dengan pengurus desa wisata Nglinggo. Pembicara pertama adalah Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo, kedua ada Ketua Asita DIY dan ketiga salah satu tokoh masyarakat desa Nglinggo Barat.

Sarasehan ini membahas mengenai potensi Kulonprogo secara umum dan kawasan Nglinggo Barat khsusnya sebagai desa wisata serta apa saja yang akan dikembangkan untuk menjadikan Kulonprogo sebagai desa wisata unggulan, terlebih lagi jika Bandara New Yogyakarta Airport International (NYIA) telah beroperasi nanti.

Jalur Jalan Bedah Menoreh bisa menjadi penghubung NYIA-Borobudur-Purworejo, Jawa Tengah. Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kulon Progo Niken Probo Laras menyatakan masyarakat sudah terlatih dan bersiap untuk mengelola wisata Nglinggo agar menarik untuk wisatawan.

Beliau datang dengan mengenakan baju batik khas Kulonprogo dengan motif geblek. Beliau mengatakan bahwa Kulonprogo merupakan penyangga KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional). Setelah bandara baru NIYA beroperasi April 2019 nanti diharapkan Kulonprogo akan menjadi kawasan wisata yang mampu menyerap banyak wisatawan.

Acara sarasehan ini ditutup dengan penyerahan secara simbolis bibit pohon kepada pengelola desa wisata Nglinggo.

Foto: Hardy Brex

Peserta kembali berjalan kaki menuju kebuh teh. Musik dan tari menyambut para peserta yang akan bersiap menyantap makan siang. Sebelum acara makan ada penandatanganan MoU antara Asita dan pengelola desa wisata Nglinggo. MoU ini akan menjadi tanda kerjasama yang saling menguntungkan di antara kedua belah pihak.

Makan siang kali ini disebut dengan dhahar kembul. Semua peserta duduk lesehan berhadapan lalu makan bersama menggunakan daun pisang. Menu yang disajikan adalah ingkung lengkap dengan aneka sayur. Ada sayur labu siam, jantung pisang dan urap.

Acara ditutup dengan pembagian doorprize dan hadiah untuk beberapa orang yang menjadi pemenang kontes fotografi. Ibu Tuminah ketua ibu-ibu paguyuban wisata Kulonprogo mengatakan dengan adanya Mou dengan ASITA menjadikan kelompok ibu-ibu yang belum memiliki nama tersebut semakin bersemangat untuk memberikan suport dibidang kuliner.

Diharapkan akan ada pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka. Beberapa makanan khas yang mereka buat disajikan dalam rangkaian acara ASITA Jogja Tourism Festival ini (AJTF) 2018 ini. Selain ibu-ibu yang mengelola kuliner ada juga kelompok kesenian Endro Cipto yang selalu siap menyajikan musik tradisional dan tari untuk menghibur wisatawan.

Foto: Hardy Brex
Muat Lagi Dari Kazebara
Muat Lebih Banyak Di Destinasi Wisata