Hanung Bramantyo Dedikasikan Museum Bumi Manusia Untuk Penggemar Pramoedya Ananta Toer

6 min read
0
180

Ada yang menarik sebelum pelaksanaan gala premiere film Bumi Manusia di kota ketiga, Yogyakarta. Siang harinya, bertempat di Studio Alam Gamplong, Moyudan, Sleman, pemain utama dan kru pendukung film Bumi Manusia mengadakan jumpa press terkait peluncuran film yang diangkat dari novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia.

“Dalam film ini 80% lokasi syuting di Jogja dan hanya 7 orang dari keseluruhan pemainnya didatangkan dari Jakarta, sisanya orang Jogja”, ujar Hanung Bramantyo kepada rekan-rekan media membuka jumpa press peluncuran film Bumi Manusia, Selasa (13/8).

Baca juga: Gamplong, Studio Alam Beredukasi Sejarah dan Budaya

Selain memperkenalkan film Bumi Manusia dan para pemain, dalam jumpa press Hanung Bramantyo juga meresmikan Museum Bumi Manusia. Museum ini berlokasi di salah satu bangunan dalam kompleks lokasi syuting film Bumi Manusia sebagai kediaman rumah keluarga Mellema.

P8130583

 

Menurut Hanung Bramantyo, rumah dari keluarga Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh ini mengambil gaya Indish dengan akulturasi budaya Jawa. Bangunan dengan dua lantai ini hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Bangunannya tampak megah, khas bangunan tempo dulu.

Di lantai pertama bangunan, terdapat beberapa ruangan. Setelah memasuki pintu utama, pengunjung akan menemukan ruangan di kanan dan kiri lorong. Pada kedua ruangan tersebut terdapat masing-masing satu buah tangga untuk menaiki lantai dua bangunan.

Bagian selanjutnya, di sebelah kiri lorong tampak ruang tidur utama, lengkap dengan perabotannya. Dipan khas milik orang terpandang di masa itu yang terbuat dari kayu dengan ukiran mewah, mengingatkan saya kepada tempat tidur di salah satu hotel heritage di kota Surabaya.

Di lorong seberang ruang tidur, terdapat ruangan yang dinding-dindingnya terpajang berbagai lukisan klasik. Suasana “Eropa” begitu terasa. Ada juga sebuah gramaphone, alat untuk memutarkan piringan hitam. Ini adalah ruangan dimana Minke dan Annelies pertama kali berduaan saat Minke pertama kali berkunjung ke rumah keluarga Mellema.

Suasana ruangan yang didesain menjadi awal tahun 1900-an akan membawa penjungjung masuk ke lorong waktu. Ke masa dimana setting waktu novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer sedang berlangsung di Hindia Belanda.

WhatsApp Image 2019-08-13 at 20.17.16

 

Masih berada di lantai satu, bagian ujung belakang bangunan ini merupakan dapur dan ruang makan keluarga Herman Mellema. Jamuan mewah pada waktu itu juga dapat dirasakan di ruangan ini.

“Masyarakat umum yang ingin masuk museum Bumi Manusia akan kami batasi maksimal 10 orang dengan durasi paling lama 30 menit, lalu 10 orang untuk 30 menit berikutnya dan seterusnya. Hal itu kami lakukan untuk antisipasi kerusakan properti atau bahkan bisa menimbulkan insiden, maka kami batasi”, ujar Hanung saat meresmikan museum Bumi Manusia.

Museum Bumi Manusia terbuka untuk masyarakat umum. Bahkan rencana kedepannya, museum Bumi Manusia akan menghadirkan atraksi berupa drama Bumi Manusia dengan para tokoh yang terlibat.

Hanung juga menegaskan bahwa museum tersebut tidak untuk dikomersialkan. Karena, kata Hanung, tempat yang digunakan sebagai museum Bumi Manusia bukanlah tanah miliknya, namun tanah milik desa Sumberrahayu, Moyudan, Sleman. Seperti museum pada umumnya, masyarakat yang ingin mengunjunginya akan dikenakan bea masuk untuk dana perawatan museum.

Lebih jauh daripada itu, Hanung Bramantyo berharap supaya masyarakat bisa mengenang keberadaan sastra klasik buatan Pramoedya Ananta Toer. Hal ini mengingat sekarang ini, minat para generasi muda terhadap sastra klasik kian memudar.

“Fungsinya untuk mengenang adanya sastra klasik yang diciptakan dengan berdarah-darah. Selain itu bisa dijadikan tempat untuk berkumpul oleh sesama penggemar Pram”, ungkap Hanung Bramantyo.

WhatsApp Image 2019-08-13 at 20.17.16(1)

Hadir juga pada kesempatan ini putri keempat dari Pramoedya Ananta Toer: Astuti. Ibu Astuti mengatakan sangat bersyukur dengan tayangnya film ini. Hal ini mengingatkan beliau pernah mengenalkan Pram dengan cara mengunjungi satu sekolah ke sekolah lain, namun hasilnya hanya dapat menjaring ratusan orang saja.

Astuti juga mengharapkan dengan tayangnya film Bumi Manusia dapat mengenalkan kembali Pramoedya Ananta Toer kepada jutaan orang lainnya dengan cara menikmati film Bumi Manusia.

Baca juga artikel menarik lainnya Ilham Dewangga.

Load More Related Articles
Load More By Dewangga Liem
Load More In News