Gelar Diskusi Ilmiah, Kraton Jogja Gandeng Milenial Pelajari Organisasi Batik Masa Kolonial

10 min read
0
26

genpijogja.com – Keraton Yogyakarta memperingati 32 tahun bertakhtanya Sang Raja, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Merayakan hari jadi penobatan itu, Keraton Yogyakarta menggelar pameran busana “Abalakuswa: Hadibusana Keraton Yogyakarta” di Pagelaran Keraton Yogyakarta, yang bakal digelar selama 1 (satu) bulan sejak Sabtu (7/3) malam.

Pameran busana “Abalakuswa: Hadibusana Keraton Yogyakarta” menampilkan perkembangan dan berbagai variasi busana di lingkungan Keraton Yogyakarta. Narasi inilah yang menjadi motor dalam rangkaian kegiatan Mangayubagya Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan mengusung tema besar “Busana dan Peradaban di Keraton Yogyakarta”.

Untuk menyemarakkan peringatan tersebut, Keraton Yogyakarta menggelar berbagai kegiatan selama bulan Maret 2020, antara lain: Pameran Budaya Jawa, Simposium Internasional, Pertunjukan Seni Adiluhung dan kegiatan adat seperti Ngebluk, Ngapem, Sugengan dan Labuhan.

Gelar Diskusi Ilmiah, Kraton Jogja Gandeng Milenial Pelajari Organisasi Batik Masa Kolonial
Gelar Diskusi Ilmiah, Kraton Jogja Gandeng Milenial Pelajari Organisasi Batik Masa Kolonial

Sejak tanggal 14 Maret hingga 29 Maret 2020 Keraton Yogyakarta telah menyiapkan sejumlah rangkaian agenda diskusi dan lokakarya. Dengan bergabung dalam diskusi dan lokakarya yang digelar Keraton Yogyakarta, pengunjung dapat memahami lebih dalam tentang materi pameran “Abalakuswa: Hadibusana Keraton Yogyakarta”.

Kegiatan ini pun menjadi salah satu ciri dari setiap penyelenggaraan pameran di Keraton Yogyakarta. Melalui diskusi ilmiah, pengunjung tidak terbatas memperolah ilmu dari keterangan koleksi pada label, tetapi mendapat wacana yang lebih luas terkait dengan wastra dan busana.

Di samping itu, salah satu rangkaian pameran ini juga akan diisi kegiatan lokakarya berbusana adat sebagai ruang praktis bagi para pengunjung untuk belajar mengenakan pakaian adat sesuai pakem Yogyakarta.

Diskusi ilmiah bertempat di Balebang, Kompleks Siti Hinggil, Keraton Yogyakarta, diskusi hari pertama berlangsung pada Sabtu, 14 Maret 2020 dimulai pukul 09.30 hingga 12.30 WIB.

Acara yang dihadiri oleh peserta dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum ini mengangkat tema diskusi, yakni: “Hubungan antara Organisasi Batik Tradisional dengan Keraton Yogyakarta Masa Kolonial”.

Diskusi ilmiah yang menghadirkan Zukhrufa Ken Satya Dien sebagai pembicara ini mengulas masa awal batik berkembang di masyarakat dan menjadi salah satu organisasi.

Agenda Diskusi Maret Kraton Jogja
Agenda Diskusi Maret Kraton Jogja

Zukhrufa bercerita batik awalnya bisa berkembang di masyarakat, khususnya di luar lingkungan keraton saat Sultan Agung memerintahkan abdi dalem untuk menjaga, merawat, dan menjadi juru kunci di Makam Imogiri Bantul.

Pada tahun 1645, tercetuslah dari istri abdi dalem untuk mengajarkan kepada masyarakat mengenai pola dan cara membatik. Gayung bersambut masyarakat pun tertarik mengetahui cara pembuatan dan aneka motif yang ada pada batik. Salah satu tokoh batik di Imogiri Bantul ialah Jogo Pertiwi.

Beberapa sentra batik di Daerah Istimewa Yogyakarta ada di Bantul, Kretek, Kota Yogyakarta, Prawirotaman, Patangpuluhan, Sleman, Godean, Gunungkidul, Kulon Progo. Sedangkan yang memiliki hubungan langsung dengan keraton untuk memesan batik adalah daerah Imogiri Bantul.

Koperasi batik di Indonesia terbentuk dari adanya krisis ekonomi masa penjajahan Jepang. Kain mori merupakan bahan utama untuk pembuatan batik. Zukhrufa menuturkan pada masa kolonial, legitimasi pemerintahan dilakukan dengan cara menjual kain mori. Kain mori dijual kepada bangsa Indonesia dengan harga sangat murah.

“Namun saat Jepang datang, kain mori dilarang untuk dibeli. Belanda dianggap oleh Jepang sudah tidak berkuasa. Akhirnya terjadi krisis ekonomi, akibat tidak tersedianya bahan utama pembuatan batik tersebut”, tutur Zukhrufa.

Salah satu koperasi yang ada di Yogyakarta adalah Persatuan Perusahaan Batik Bumi Putera (PPBBP). Keinginan pengusaha-pengusaha batik tradisional yang ingin berkembang menjadi salah satu hal pendorong terbentuknya organisasi ini. Persatuan Perusahaan Batik Bumi Putera (PPBBP) terbangun dengan adanya kesepakatan dari pihak kolonial.

Lebih lanjut Zukhrufa menuturkan, berkat terbentuknya Persatuan Perusahaan Batik Bumi Putera (PPBBP) komoditi batik pun berkembang sehingga banyak pengusaha-pengusaha batik yang ada di Solo, Pekalongan dan daerah-daerah lain menjadi pelopor munculnya beberapa organisasi baru.

Pengusaha-pengusaha batik ini pun berkumpul dan tergabung ke dalam Gabungan Koperasi Batik Indonesia. Dari organisasi ini pengusaha batik mendapat keuntungan baik dari segi kemudahan mencari bahan murah untuk membatik. Dari sini juga mulai berkembang organisasi-organisasi batik tradisional yang ada hingga sekarang.

Pelatihan Membatik Maret Kraton Jogja
Pelatihan Membatik Maret Kraton Jogja

Sekitar penghujung tahun 1814 tradisi batik cap sudah mulai muncul. Industri batik di Jogja pun sempat merosot di era Sultan Hamengku Buwono III, keraton kehilangan komoditi batiknya.

Hal ini hanya berlangsung selama satu tahun. Akhirnya para pembatik keraton hanya membatik motif khusus untuk disetor ke dalam lingkungan keraton. Beberapa aturan alusan pun diperbaharui, jelas Fajar Widjanarko sebagai moderator.

“Timeline perubahan batik bisa disaksikan dalam pameran. Jadi setelah dari sini silakan mengunjungi pameran,” tambah Fajar menutup jalannya diskusi ilmiah “Hubungan antara Organisasi Batik Tradisional dengan Keraton Yogyakarta Masa Kolonial”.

“Pejuang-pejuang batik ini sudah luar biasa di Jogja, terutama yang sudah menghasilkan. Melalui diskusi ini kita bisa melihat yang muda mau turun tangan untuk meneliti. Kalau berangkatnya tidak dari Jogja dari manalagi? Hal yang harus diketahui juga, Jogja adalah sentra daripada batik yang berkembang saat ini,” jelas Mangkuprayitno, abdi dalem Keraton Yogyakarta dan penggiat Jemparingan ini.

Lebih lanjut beliau berharap, para peneliti agar bisa mengetahui dan menggali lebih banyak lagi sumber-sumber informasi yang ada sehingga data-data yang ditemukan dapat lebih luas lagi.

Salah satu peserta diskusi, Retno Septyorini, mengatakan bahwa dirinya sejak dulu tertarik dengan sejarah dan budaya. Oleh sebab itu, diskusi ini menjadi salah satu acara yang ia ikuti. Selain tema diskusi yang menurutnya menarik, ia pun menuturkan bahwa sejarah dan budaya saat ini sudah digemari oleh para milenial. Terbukti peserta dalam acara diskusi berkaitan sejarah selalu dihadiri oleh para milenial. Harapannya acara-acara diskusi seperti ini bisa terus diadakan terutama di hari libur atau weekend.

Bagi Anda yang tertarik untuk datang ke Pameran Budaya Jawa: Busana dan Peradaban di Keraton Yogyakarta bertajuk ABALAKUSWA. Anda bisa datang pada 8 Maret – 4 April 2020 di Bangsal Pagelaran dan Siti Hinggil Keraton Yogyakarta.

Pameran Budaya Jawa ABALAKUSWA : Hadibusana Keraton Yogyakarta menampilkan berbagai koleksi kain dan busana milik Keraton Yogyakarta, salah satunya Busana Kenaikan Tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tiket Rp5.000 (HTM Keraton Yogyakarta).

Load More Related Articles
Load More By Tikha Novita Sari
Load More In Event