Gandawerdaya, Pertama Kalinya Wayang Wong Karya HB I Dipentaskan Untuk Umum

7 min read
0
46

genpijogja.com – Ada yang berbeda di penyelenggaraan Sekaten tahun 2019. Tidak ada lagi keriuhan pasar malam di Alun-Alun Utara seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagai ganti, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengadakan acara Pameran Sekaten 2019 yang memiliki berbagai jenis kegiatan dan terbuka untuk umum .

Mengambil tema “Sri Sultan Hamengku Buwono I: Menghadang Gelombang, Menantang Zaman”, pameran Sekaten menyajikan biografi, peran dalam sejarah, karya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Sri Sultan HB I.

Pameran ini sudah berlangsung sejak tanggal 1 hingga 9 November 2019 di Kagungan Dalem Siti Hinggil Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Gandawerdaya, Pertama Kalinya Wayang Wong Karya HB I Dipentaskan Untuk Umum
Gandawerdaya, Pertama Kalinya Wayang Wong Karya HB I Dipentaskan Untuk Umum

Senin (4/11) malam, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar pertunjukan wayang wong berjudul Gandawerdaya. Pertunjukkan ini dipentaskan dalam 3 babak dan dibagi dalam 3 hari gelaran.

Gandawerdaya merupakan wayang wong ciptaan Sri Sultan HB I sehingga Gandawerdaya menjadi lakon carangan tertua di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sri Sultan HB I memang seorang raja yang mumpuni, beliau tidak hanya seorang raja yang cerdas dalam bidang politik, tapi juga panglima perang yang tangguh, jenius di bidang arsitektur dan seniman handal.

Beksan Lawung, wayang wong lakon Gandawerdaya, Beksan Sekawanan Entheng, Tugu Wasesa dan Guntur Segara serta tari pusaka Bedhaya Semang, merupakan beberapa hasil karya seni Sri Sultan HB I.

Bahkan dalam salah satu Babad Ngayogyakarta, diceritakan bahwa Sri Sultan HB I sedang menari bersama putera mahkota. Hal ini menunjukkan berarti Sri Sultan HB I pun seorang penari. Tidak hanya menitah, tetapi Sri Sultan HB I sendirilah yang mengajarkan tari-tarian.

Pertunjukan wayang wong dengan lakon Gandawerdaya diadakan di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dihadiri oleh GKR Hayu dan GKR Bendoro.

Sebelum pertunjukan wayang wong ditampilkan, ada beberapa acara pembuka. Diawali dengan lantunan gending-gending Mataraman, pertunjukkan tari Golek Putri Ayun-Ayun membuka pertunjukkan. Tarian ini bercerita tentang gadis remaja yang beranjak dewasa dan bergembira memperagakan cara-cara berhias diri atau bersolek.

Beksan Perangan Gatotkaca vs Durjaya menjadi prolog dari gelaran wayang wong. Tarian ini diambil dari salah satu cerita dalam Wayang Wong Gandawerdaya.

Beksan Perangan Gatotkaca menceritakan kisah Raden Gatotkaca saat menjadi senopati Pandawa. Gatotkaca kala itu harus berhadapan dengan Durjaya dari Astinapura. Keduanya sangatlah hebat dan merupakan satria pilih tanding. Setelah melalui perkelahian yang panjang, akhirnya Durjaya bisa dikalahkan oleh Raden Gatotkaca.

Beksan Perangan Gatotkaca ditarikan dengan iringan gending Sigramagsah untuk maju gending dan agun-agun untuk enjer. Sedangkan untuk peperangannya diiringi playan.

Gandawerdaya, Pertama Kalinya Wayang Wong Karya HB I Dipentaskan Untuk Umum
Gandawerdaya, Pertama Kalinya Wayang Wong Karya HB I Dipentaskan Untuk Umum

Pukul 20.45 WIB, pertunjukan utama wayang wong Gandawerdaya dimulai. Kisah Gandawerdaya bercerita tentang Raden Gandawerdaya dan Raden Gandakusuma yang merupakan putra dari Raden Arjuna tetapi lahir dari dua ibu yang berbeda.

Kisah ini bermula ketika Raden Gandawerdaya datang ke Astinapura untuk mencari ayah kandungnya. Raden Gandawerdaya lahir dari ibu bernama Dewi Jimambang, seorang wanita yang dinikahi oleh Raden Arjuna setelah Pandawa berhasil membuka hutan Mertani. Hutan ini kelak dikenal sebagai Negara bernama Ngamarta.

Raden Gandawerdaya tidak pernah sekalipun melihat wajah ayahnya, Raden Arjuna Putra Pandawa. Sejak dilahirkan dirinya telah ditinggalkan oleh ayahnya. Saat usianya telah dewasa, Raden Gandawerdaya atas restu ibunya, pergi mencari ayahnya ke Istana Astinapura.

Kedatangan Raden Gandawerdaya ke Astinapura diketahui oleh Patih Sengkuni. Melihat putra dari Raden Arjuna yang sakti mandraguna ini, Patih Sengkuni pun memainkan taktiknya. Memanfaatkan keluguan Raden Gandawerdaya yang tidak mengetahui wajah ayahnya, Patih Sengkuni memperdayai Gandawerdaya dengan menyebutkan bahwa Adipati Karna (Putra Dewi Kunti) sebagai Raden Arjuna.

Raden Gandawerdaya dengan mudah percaya tipu daya yang dimainkan Patih Sengkuni, mengingat Adipati Karna memang memiliki wujud fisik mirip Raden Arjuna. Hal ini wajar saja karena Adipati Karna memang putra tertua Dewi Kunti, kakak dari Pandawa yang menjadi sekutu Kurawa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Raden Gandawerdaya akhirnya menyadari tipu muslihat Patih Sengkuni?

Gandawerdaya, Pertama Kalinya Wayang Wong Karya HB I Dipentaskan Untuk Umum
Gandawerdaya, Pertama Kalinya Wayang Wong Karya HB I Dipentaskan Untuk Umum

Pertunjukan wayang wong dengan lakon Gandawerdaya babak pertama berlangsung sangat menarik. Bangsal Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dipenuhi penonton, tidak ketinggalan banyak wisatawan mancanegara yang sengaja datang untuk menonton wayang wong Gandawerdaya yang baru pertama kalinya digelar untuk masyarakat umum.

Gelaran wayang wong Gandawerdaya dipentaskan selama 3 (tiga) hari berturut-turut sejak tanggal 4, 5, 6 November 2019. Bagi penonton yang tidak paham bahasa Jawa, jangan khawatir. Di kanan kiri panggung, terdapat monitor yang menampilkan terjemahan dialog lakon wayang wong ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, sehingga memudahkan penonton yang tidak memahami bahasa Jawa.

Load More Related Articles
Load More By Nurya Auris
Load More In Event