Festival Jamu Hingga Wayang Kota Semarakkan Jogja Cross Culture Hari Pertama

6 min read
0
78

Perhelatan Jogja Cross Culture hari pertama berlangsung meriah di Kilometer 0 Yogyakarta mulai Sabtu ini (03/08) sejak pukul 15:00 WIB dengan ditandai mulai dibukanya stan-stan Festival Jamu dan diakhiri pertunjukkan Wayang Kota, yaitu pementasan wayang ukur yang dibawakan oleh lima orang dalang muda.

JAMFEST atau Festival Jamu yang digelar di utara Monumen Serangan Oemum 1 Maret 1949, diikuti oleh 14 stan yang berasal dari warga kecamatan-kecamatan Kota Yogyakarta menandai diawalinya Jogja Cross Culture di sore harinya. Jamu-jamu yang disediakan oleh stan-stan ini dapat dinikmati secara cuma-cuma oleh masyarakat yang sedang berada di kawasan Kilometer 0 Yogyakarta tersebut.

Jogja Cross Culture 2019
Jogja Cross Culture 2019

Malam harinya menjelang acara Wakil Walikota Yogyakarta, Drs. Heroe Poerwadi, MA berkesempatan hadir di hari pertama pelaksanaan Jogja Cross Culture menyempatkan diri mengunjungi stan-stan JAMFEST (Festival Jamu dan Kuliner) yang ada sambil mencicipi jamu-jamu yang disuguhkan.

Usai mengunjungi seluruh stan Festival Jamu dan Kuliner, Drs. Heroe Poerwadi, MA menuju panggung utama yang berada di Monumen Serangan Oemum 1 Maret untuk secara simbolis membuka acara pertunjukkan Wayang Kota, yang juga merupakan rangkaian dari Jogja Cross Culture.

“Apa yang kita tampilkan di Jogja Cross Culture dari tadi sore hingga besok malam adalah kultur-kultur yang ada di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Baik kultur dari Nusantara maupun dari negara lain.” kata Wakil Walikota Yogyakarta, Drs. Heroe Poerwadi, MA., dalam sambutannya.

Jogja Cross Culture 2019
Jogja Cross Culture 2019

“Jogja Cross Culture menandai bagaimana Yogyakarta baik sebagai orang maupun sebagai seni budayanya ketika bersama-sama dengan kultur lain akan saling menghidupkan dan memberikan kekuatan. Sehingga lahirlah seni budaya-seni budaya baru hasil perkawinan seni budaya – seni budaya tersebut.” lanjut beliau lagi.

Kemudian secara simbolis Wakil Walikota Yogyakarta, Drs. Heroe Poerwadi, MA., menyerahkan 8 kayon dan satu karakter wayang Gatotkaca kepada lima orang dalang dan tiga orang panjak yang akan mempersembahkan pertunjukkan Wayang Kota ini, sebagai tanda secara resmi dimulainya kegiatan Jogja Cross Culture 2019.

Lima dalang milenial yang berkolaborasi membawakan lakon Kancingjaya ini adalah Bumi Gedhe Taruna, Ganes Sutono, Bayu Probo, Sunu Prasetya, dan  Bayu Gupito. Sementara yang menjadi panjak di pergelaran ini adalah Wahyu WIcaksono, Wahyu Prasetya Aji dan Zudhistiro Bayu P.

Wayang Kota dengan lakon Kancingjaya ini adalah perpaduan budaya tradisi dengan kekinian dipersembahkan melalui sajian wayang. Menghadirkan kolaborasi Wayang Ukur yang dimiliki oleh Maestro Wayang asal Kota Yogyakarta, Sigit Sukasman, dengan lima dalang yang lahir dari generasi milenial.

Pagelaran ini mencatatkan sebuah proses fase demi fase penyatuan para dalang. Diawali dengan kegiatan workshop Wayang Ukur, para dalang usia muda yang awalnya hanya mendengar tentang keunikan Wayang Ukur, kini memiliki kesempatan untuk menyentuh bahkan memainkannya dalam sebuah pementasan.

Wayang Ukur Dengan Lakon Kancingjaya di panggung Jogja Cross Culture
Wayang Ukur Dengan Lakon Kancingjaya di panggung Jogja Cross Culture

Sekitar pukul 20:30 WIB, pagelaran Wayang Kota ini dimulai dengan Bumi Gedhe Taruna berada di depan kelir sepanjang 10 meter dan setinggi 2,5 meter, membelakangi penonton seperti para dalang pada umumnya bersiap memainkan wayang yang telah disiapkan di kanan kirinya.

Sementara itu Gedhe Taruna, Ganes Sutono, Bayu Probo, Sunu Prasetya, dan  Bayu Gupito, dibantu oleh para panjak berada di balik kelir. Mereka menggerakkan wayang yang bayang-bayangnya akan tampak selain memperindah tampilan, juga menguatkan jalan cerita selama pertunjukkan yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam ini.

Pertunjukkan yang menceritakan tentang sepak terjang Gatotkaca ini disutradarai oleh Ki Catur “Benyek” Kuncoro yang sekaligus menjadi penulis naskahnya. Sebagai penata musik adalah Danang Rajiv Setyadi dan arranger Reno Sandro Hana.

Untuk menciptakan visual yang menarik, Eko Sulkan dan Arif Dharmawan hadir sebagai penata cahaya. Kemudian masih diperkaya lagi dengan tampilan video grafis oleh Bayu Sanjaya, Agung Nasrullah, dan Dimas Purwadharma.

“Kancingjaya adalah salah satu nama dari tokoh utama lakon ini yaitu Gatotkaca, yang tidak banyak dikenal orang. Kisah ini menjadi menarik karena keutuhan cerita, fase demi fase dibangun dari penyatuan kelima dalang,” pungkas Ki Catur “Benyek” Kuncoro.

Baca juga artikel menarik lainnya pacarkecilku.

Load More Related Articles
Load More By pacarkecilku
Load More In News