Home Event Eratkan Harmoni Warga Desa, Mangunan Selenggarakan Merti Dusun dan Kirab Budaya

Eratkan Harmoni Warga Desa, Mangunan Selenggarakan Merti Dusun dan Kirab Budaya

5 min read
0
0
30

Merti dusun atau bersih desa merupakan sebuah tradisi turun temurun yang masih dilakukan hingga saat ini. Merti dusun sebagai salah satu ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan limpahan rejeki para warga desa.

Bentuk rasa syukur itu diwujudkan dengan simbol gunungan berupa hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan. Salah satunya yang dilakukan oleh warga di Desa Mangunan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada puncak acara Merti Dusun dan Kirab Budaya Desa Mangunan 2019, hari Minggu pagi(28/07). Merti dusun dan kirab budaya ini tidak hanya melestarikan tradisi adat budaya masyarakatnya namun juga semangat gotong-royong dan tepa selira yang masih sangat kuat.

 

MVIMG_20190728_105003

Kirab dimulai pukul sembilan pagi dari balai desa dan berakhir di Sendang Mangunan yang berada di dusun Kakilangit, salah satu tempat sakral di Desa Mangunan. Dikarenakan salah informasi waktu acara yang didapat segeralah saya naik ke Kakilangit dari daerah Kotagede.

Butuh waktu sekitar 20 menit sampai lokasi, lebih cepat dari biasanya. Tepat sebelum arak-arakan kirab masuk ke Sendang Mangunan saya tiba di lokasi. Suasana yang sungguh berbeda dari biasanya, penuh warna yang membahagiakan terlihat dari kostum pakaian jawa yang dikenakan para peserta kirab.

Arak-arakan paling depan yaitu para gadis cantik yang membawa air dari 8 mata air sekitar. Delapan mata air itu berasal dari Sendang Kotagede, Sendang Banyuurip, Sendang Bakung, Sendang Pekik, Sendang Pajangan, Sendang Mangunan dan air zam-zam. Kemudian disusul para bregada prajurit, pembawa gunungan kemudian warga sekitar perwakilan tiap RT.

Merti dusun dan kirab budaya Mangunan ini dilaksanakan setiap lima tahun sekali. “Lima tahun sekali Mbak acaranya, tiap desa beda-beda. Ada yang setahun sekali, tiga tahun sekali. Kalau Mangunan lima tahun sekali ini.” ungkap warga sekitar. Jadi ini merupakan moment yang langka. Pantas saja tangga di sekitar sendang penuh dengan warga yang antusias menyaksikan acara ini. Dua pohon beringin besar nan teduh membuat mereka betah duduk berlama-lama.

Acara yang dihadiri oleh Bupati Bantul Drs. Suharsono itu terlaksana dengan khidmat. Rapalan doa-doa semakin syahdu diiringi oleh alunan musik gamelan dari para wiyaga. Acara intinya adalah percampuran 7 sumber mata air kemudian didoakan. Setelah itu pemotongan tumpeng oleh Bupati dilanjut dengan membagikan sego gurih dan ayam ingkung kepada semua warga.

Satu porsi sego gurih berisi nasi, suwiran ayam ingkung, tauge dan kubis yang disiram bumbu pecel. Sangat nikmat bagi yang belum sempat sarapan.

 

kirab mangunan

Dua gunungan yang terpajang tak ketinggalan ‘dirayah’ oleh warga dengan istilah ‘Ngalap Berkah’. Belum selesai sampai di sini. Empat penari cantik dari pemudi sekitar mulai beraksi menari Gambyong menghibur warga diiringi alunan musik gamelan dan sinden. Sebelumnya, sudah ada satu warga yang kerasukan. Penunggu daerah sendang datang, begitu kata warga.

Tarian selesai, tapi tembang tetap dinyanyikan. Salah satu penari kerasukan arwah penunggu sendang. Saya sedikit takut. Ini pengalaman pertama melihat orang kerasukan dari dekat. Takut, sekaligus takjub.

Selanjutnya, air dari delapan sendang dijadikan satu di dalam kendi, kemudian dibagikan kepada warga yang meminta. Bagi warga, air yang telah didoakan ini akan memberikan berkah, misal sukses usahanya, keinginan cepat terkabul dan masih banyak lagi tergantung keyakinan masing-masing.

Kirab budaya ini merupakan salah satu rangkaian merti dusun sejak tanggal 26 Juli 2019 lalu yang berupa pengajian nada dan dakwah oleh Drs. KH. Usman Ridho. Merti dusun masih akan berlangsung hingga 30 Juli mendatang menampilkan pagelaran wayang kulit Dalang Ki Seno Nugroho. Berminat menonton? Hayuk ke sana bareng.

Load More Related Articles
Load More By Sany Maya
Load More In Event