Dwipangga, Tunggangan Dewa Indra yang Disematkan HB X Sebagai Nama Kereta Api

7 min read
0
62

Kereta Api Dwipangga pada awal diluncurkannya memiliki kasta sebagai Kereta Api Spesial, bukan Kereta Api Argo. Dwipangga diluncurkan pada tanggal 21 April 1998 di Solo Balapan dan Yogyakarta. Peluncuran di Solo Balapan dihadiri oleh Menteri Perhubungan Giri Suseno Hadihardjono, Dirut Perumka Soemino Eko S. dan Walikota Solo Imam Soetopo. Sedangkan peluncuran di Yogyakarta dihadiri oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Peluncuran di Yogyakarta merupakan bentuk penghormatan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X yang memberikan nama Dwipangga. Saat keberangkatan di Yogyakarta, Dwipangga diberangkatkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X yang bertindak sebagai PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api) dan diiringi dengan gending Gangsaran.

Sri Sultan HB X bertindak sebagai PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api)
Sri Sultan HB X bertindak sebagai PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api)

Sebagai Kereta Api Spesial, Dwipangga memiliki susunan kursi 2-1. Kereta-kereta spesial milik Dwipangga dibuat dengan merehab kereta api lama, seperti kereta api buatan 1950-an dan kereta api buatan Rumania tahun 1984.

Dwipangga memiliki pola operasional kebalikan dengan Kereta Api Argo Lawu. Dwipangga berangkat malam dari Solo Balapan dan siang dari Gambir. Sebagai Kereta Api Spesial, Dwipangga hanya bertahan hingga Oktober 1998.

Hal ini disebabkan karena masalah okupansi yang dirasa kurang, Dwipangga akhirnya dijadikan Kereta Api Argo dengan nama Argo Dwipangga. Pada awal beroperasi, rangkaian Kereta Api Argo Dwipangga masih belang, sebagian sudah menggunakan livery abu-abu Argo, sebagian lainnya masih mengenakan livery putih-kuning gading.

Baca juga:

3259154755-6798d61315-b_orig

Kereta Api Dwipangga dan Kereta Api Argo Dwipangga memiliki logo berupa Gajah dengan pose melompat. Pada awal Kereta Api Argo Dwipangga beroperasi, logo ini sempat tidak digunakan, namun logo ini akhirnya dimunculkan kembali. Nama Dwipangga sendiri diambil dari nama gajah kendaraan Dewa Indra. Logo ini tidak digunakan setelah pergantian livery, dari abu-abu menjadi “Argo Ombak”.

Pada tanggal 9 April 2002, sekitar pukul 22.50 WIB, Kereta Api Argo Dwipangga yang dihela CC203 16 terguling di Prembun, Kebumen. Kejadian ini menyebabkan 7 orang penumpang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Kejadian ini dikarenakan rel di jembatan bergeser akibat dihantam sebuah truk boks. Rel bergeser sekitar 30 cm. Beberapa saat setelah truk menghantam jembatan, lewatlah Kereta Api Argo Dwipangga. Kereta Api kemudian terlempar ke sawah karena rel yang bergeser.

CC203 16 “terbang” dan mendarat di sawah, sementara rangkaiannya anjlok tidak beraturan. Beberapa kereta terguling dan tercebur ke sawah. Kejadian ini membuat K1-98806 rusak berat dan tidak dapat digunakan kembali karena framenya melengkung. Saat kejadian, Wakil Bupati Kebumen, Nasirruddin AM kebetulan berada di dekat lokasi, menghadiri sebuah acara. Mendapat laporan dari warga, beliau langsung mengarahkan evakuasi penumpang, sembari menghubungi Bupati dan Muspida seraya meminta pertolongan. Jalur selatan tertutup selama beberapa waktu, sembari menunggu rangkaian dievakuasi dan perbaikan jembatan yang bergeser.

Kereta Api Dwipangga juga sempat anjlok di Tumiyang, Banyumas, pada tanggal 26 April 2007. Kereta makan anjlok di atas jembatan dan sempat terseret sekitar 70 meter. Kejadian ini tidak memakan korban jiwa tetapi jalur rel tersebut tidak dapat dilalui hingga proses evakuasi selesai.

Kereta Api Argo Dwipangga memiliki okupansi yang cukup bagus. Dwipangga memiliki satu perjalanan fakultatif (hanya dijalankan pada waktu tertentu) yang berjalan kurang lebih 2 jam di belakang Kereta Api Dwipangga reguler. Kereta Api fakultatif ini biasanya dijalankan pada libur panjang dan masa lebaran/natal.

Baca juga:

dsc08803_orig

Kereta Api Dwipangga mendapat rangkaian baru pada tahun 2011 silam. Rangkaian ini merupakan hasil retrofit/penyehatan yang dilakukan di Balai Yasa Manggarai. Rangkaian ini memiliki jendela kecil layaknya pesawat. ​Namun rangkaian ini hanya digunakan kurang lebih lima tahun.

Pada tahun 2016 silam, Kereta Api Dwipangga mendapat rangkaian kereta baru buatan INKA, bersama dengan Kereta Api Argo Lawu. Sekarang Kereta Api Argo Dwipangga reguler membawa 9 kereta kelas eksekutif, ditambah kereta makan kelas 1 dan gerbong pembangkit listrik. Pada tanggal 26 Mei 2019 kelas pelayanan Kereta Api Argo Dwipangga bertambah dengan hadirnya kelas Luxury.

Baca juga artikel menarik lainnya Ilham Dewangga.

Load More Related Articles
Load More By Dewangga Liem
Load More In Heritage