Diskusi Budaya “Gunungan: Simbol dan Maknanya” Kraton Jogja

7 min read
0
209

YOGYAKARTA – Komunitas Malam Museum bekerjasama dengan Kraton Jogja menyelenggarakan Diskusi Budaya dengan tema “Gunungan: Simbol dan Maknanya” di Bangsal Prabeya, hari Minggu (5/8). Moderator diskusi dipandu oleh Erwin Djunaedi (Founder Komunitas Malam Museum Yogyakarta).

Acara berlangsung sejak pukul 09.00 hingga pukul 12.00 WIB, menghadirkan pemateri dari GKR Hayu selaku Penghageng Tepas Tandha Yekti Kraton Jogja, KRT Kusumonegoro selaku Penghageng Tepas Keprajuritan Kraton Jogja dan Tim Tepas Tandha Yekti yang diwakili oleh Wiwit Prasetyo, Fajar Widjanarko, dan Vinia R. Prima.

Diskusi Budaya "Gunungan: Simbol dan Maknanya"
Diskusi Budaya “Gunungan: Simbol dan Maknanya”

Tepas Tandha Yekti merupakan sebuah divisi di dalam struktur organisasi Kraton Jogja yang bertanggung jawab atas IT dan dokumentasi. Dibentuk atas Dawuh Dalem (perintah Sultan) pada akhir tahun 2012, Tepas Tandha Yekti adalah salah satu divisi termuda.

Sebelum adanya Tepas Tandha Yekti, tidak ada divisi khusus yang bertanggung jawab atas dokumentasi. Secara struktural, Tepas Tandha Yekti ada di ruang lingkup Kraton, di bawah Kawedanan Hageng Punokawan Panitrapura (bertanggung jawab atas administrasi Keraton).

Tim Tepas Tandha Yekti yang dipimpin oleh GKR Hayu putri ke-4 Sultan Hamengku Buwono X ini menjembatani informasi antara Kraton dan masyarakat Jogja. Salah satu tugas Tepas Tandha Yekti adalah mendokumentasikan semua kegiatan Kraton yang sudah diizinkan untuk dibagikan kepada masyarakat lewat akun sosial media, seperti twitter, instagram, youtube dan web.

“Kraton Jogja memiliki beberapa media sosial, selain akun twitter, Kraton Jogja juga memiliki akun di instagram, facebook page, youtube dan web.. Konten yang di post tersebut akan menjadi rujukan resmi dari Kraton Jogja. Sehingga nanti bisa dipelajari dan digunakan oleh masyarakat”, ujar Wiwit Prasetyo, selaku anggota Tepas Tandha Yekti saat membuka diskusi.

Diskusi Budaya "Gunungan: Simbol dan Maknanya"
Diskusi Budaya “Gunungan: Simbol dan Maknanya”

“Diskusi ini merupakan salah satu wadah untuk membuka ruang bagi orang-orang di luar Kraton Jogja yang tadinya hanya melihat, kemudian akhirnya paham dan lebih tahu lagi. Sehingga nantinya bisa dengan mudah informasinya dapat disebarkan”, terang Erwin menambahkan.

Hal itu pun diamini oleh GKR Hayu saat melihat peserta yang hadir untuk mengikuti diskusi. Lewat sapa dan senyum ramahnya, GKR Hayu menanggapi acara diskusi saat itu dengan positif. Ia berharap ini dapat menjadikan masyarakat agar lebih mengerti. Sehingga bisa meluruskan isu-isu yang selama ini berkembang dan simpang-siur.

Pemutaran video tentang Upacara Garebeg yang mengupas persiapan, prosesi, jenis, dan makna pada Gunungan ini, membuat diskusi semakin menarik. Pada sesi tanya jawab antusias peserta untuk bertanya begitu besar. KRT Kusumonegoro dan GKR Hayu pun menjawab setiap pertanyaan dengan jelas dan rinci, sambil dibumbui guyonan yang membuat semua orang yang ada di tempat diskusi tertawa riang walau cuaca di luar terlihat sayup-sayup mendung.

Di Kraton Jogja, Gunungan yang disaksikan saat upacara Garebeg berlangsung tiga kali dalam setahun, yaitu untuk memperingati Idul Fitri (Garebeg Sawal), Idul Adha (Garebeg Besar), dan Maulid Nabi (Garebeg Mulud). Pada masa pra-Islam tradisi ini sudah berlangsung, begitu pun pada masa kerajaan Demak, tradisi ini tetap dilestarikan hingga kini.

Gunungan bukan hanya merupakan lambang sedekah raja. Namun, juga merupakan upaya memecah sekat antara raja dan rakyatnya, riuh masyarakat yang tumpah ruah menggambarkan kekuatan tradisi adiluhung Jawa, berbagai kalangan melebur dalam satu tujuan yaitu persatuan dan kebersamaan.

Dari 5 jenis Gunungan yang ada, Gunungan Kakung dan Gunungan Putri sendiri merupakan perwujudan dari lambang kesuburan. “Adanya diskusi ini sekaligus membuat masyarakat tahu akan prosesi sedemikian rupa yang dijalankan oleh Kraton Jogja, sehingga kita sebagai masyarakat bisa menghargai proses itu sendiri. Simbol sedekah yang dibagikan kepada masyarakat berupa berbagai macam hasil bumi yang dibentuk menyerupai gunung, ialah wujud kekuatan dan lambang doa”, tutur Fajar.

Diskusi Budaya "Gunungan: Simbol dan Maknanya"
Diskusi Budaya “Gunungan: Simbol dan Maknanya”

Fajar pun berharap yang menjadikan kearifan lokal Kraton Jogja yang dipublikasikan kepada masyarakat bisa menjadi media agar orang bisa membangun edukasi tuturan yang positif jika mendengar nama kraton, khususnya berkaitan dengan budaya. “Ketika kita sebagai masyarakat, bagaimana kita bisa membedakan daerah satu dengan daerah lain jika tidak masyarakatnya itu sendiri yang melestarikan adat istiadat daerahnya”, jelas Fajar, selaku penulis konten media sosial di Tepas Tandha Yekti.

Dari diskusi santai namun masih tetap serius ini, bukankah juga menunjukkan bahwa tak ada sekat antara keluarga istana dan masyarakat luar istana. Acara pun diakhiri dengan berjabat tangan antara peserta dan foto bersama dua Penghageng Kraton Jogja KRT Kusumonegoro dan GKR Hayu.

Load More Related Articles
Load More By Tikha Novita Sari
Load More In Event