Home News Didi Kempot Kenalkan Budaya Jawa Melalui JOGJA MENYAPA

Didi Kempot Kenalkan Budaya Jawa Melalui JOGJA MENYAPA

6 min read
1
0
178

Didi Kempot dipastikan akan hadir di kegiatan bertajuk JOGJA MENYAPA: Ngaruhke, Ngarahke – Tepung, Dunung, Srawung yang akan digelar pada hari Selasa, tanggal 20 Agustus 2019 dari pukul 16:00 WIB hingga 22:00 WIB, di Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta, tepatnya di Pelataran Soegondo halaman Fakultas Ilmu Budaya.

Penyanyi berusia 52 tahun yang dijuluki sebagai The Lord of Broken Heart akan menyanyikan lagu-lagu hits-nya yang identik dengan lirik Jawa dalam rangka memperkenalkan budaya Jawa kepada mahasiswa baru di Jogja.

Melalui acara JOGJA MENYAPA, Lord Didi tidak hanya akan mengajak menyanyi demi Indonesia yang lebih cidro, tapi juga hadir sebagai pembawa pesan tentang Keistimewaan Jogja.

The Lord of Broken Heart - Didi Kempot
The Lord of Broken Heart – Didi Kempot

“Ngaruhke, Ngarahke” yang menjadi tagline dari acara JOGJA MENYAPA adalah tindakan-tindakan awal yang kerap dilakukan masyarakat DIY ketika menyambut tamu atau warga baru.

Ngaruhke maksudnya menerima, menyambut, atau sapaan sugeng rawuh/selamat datang. Sedangkan, Ngarahke maksudnya mengarahkan atau menunjukkan berbagai hal tentang DIY, sehingga antar warga baru dan tuan rumah dapat saling mengenal dan memahami.

Dengan saling mengenal dan memahami, harapannya para warga baru, dalam hal ini para mahasiswa baru, bisa Tepung (paham dan mengerti), Dunung (mengenal lebih dekat) dan Srawung (menjalin hubungan lebih dekat dan akrab). Sehingga proses akulturasi dan inkulturasi budaya antara para warga baru dengan masyarakat DIY berlangsung dengan tetap mengedepankan semangat bhinneka tunggal ika yang sudah tertanam sejak lama.

“Tidak harus menjadi orang Jawa untuk tinggal di Jogja. Tetaplah menjadi orang Batak, Dayak, Papua, dan sebagainya”, tutur Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur DIY.

Harapannya dengan diselenggarakan even JOGJA MENYAPA para warga baru DIY yang berasal dari mahasiswa baru dengan beragam latar belakang budaya akan paham nilai-nilai sosial yang berlaku di Jogja, tanpa harus kehilangan nilai-nilai sosial yang sudah mereka miliki dari kota asal mereka. Inilah yang membuat Jogja Istimewa.

“Keberagaman tidak harus menjadi keseragaman, tapi bisa menjadi keselarasan”, ujar Drs. Beny Suharsono, M.Si, Paniradya Pati (Pimpinan Paniradya Kaistimewaan).

Paniradya Kaistimewan sendiri merupakan perangkat daerah baru yang dibentuk awal tahun 2019 ini oleh Pemda DIY berdasarkan Perdais No. 1 Tahun 2019 tentang Kelembagaan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta. Lembaga ini bertugas membantu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dalam penyusunan kebijakan urusan keistimewaan dan pengoordinasian administratif urusan keistimewaan.

Penentuan nama Paniradya Kaistimewan pun berdasarkan hasil konsultasi dengan ahli sejarah, mengingat lembaga itu sebelumnya sudah ada di kelembagaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Baca juga: Melestarikan Budaya dengan Memahami Teks dan Memaknai Konteks melalui Simposium Internasional Kajian Naskah-Naskah Jawa

Momentum datangnya para mahasiswa baru di DIY dipandang oleh Paniradya Kaistimewan sebagai saat yang tepat untuk mengenalkan nilai-nilai keistimewaan Jogja. Baik sisi sosial kemasyarakatan, pola perilaku kesantunan, keramahtamahan, seni, budaya, kuliner, dan berbagai hal yang menarik dan unik lainnya.

Universitas Gadjah Mada sengaja dipilih sebagai lokasi berlangsungnya acara JOGJA MENYAPA karena alasan kedekatan historis baik dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, maupun dengan masyarakat Indonesia dari berbagai belahan bumi Indonesia.

Meskipun begitu, acara ini terbuka untuk mahasiswa baru dari semua kampus di Jogja dan gratis.

Paniradya Kaistimewan Sambut Mahasiswa Baru dengan “JOGJA MENYAPA”
Paniradya Kaistimewan Sambut Mahasiswa Baru dengan “JOGJA MENYAPA”

Kegiatan hasil kerjasama antara Paniradya Kaistimewan, Bank Pembangunan Daerah DIY dan Fakultas Ilmu Budaya UGM ini, akan terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan antara lain, guyonan, gojekan, plesetan, dialog budaya, tarian tradisional dari beberapa daerah Indonesia (Rampoe UGM, Tarian Sumba, Tarian Halmahera), penampilan Beksan Wanara dari Kraton Jogja, Semata Wayang, Traffix Jam, Keroncong Plesiran, Sastro Moeni, Trio A Selososelo serta Didi Kempot.

“Dari Jogja untuk Indonesia. Mari kita berkembang bersama”, tutup Santoso Rohmad dan Dirut BPD DIY.

Baca juga artikel menarik lainnya pacarkecilku.

Load More Related Articles
Load More By pacarkecilku
Load More In News