Di Balik Waisak 2022: Cinta Kasih dalam Kesederhanaan

13 min read
2
224

Genpijogja – Cerah, gumpalan tipis awan putih menari lembut di atas deret perbukitan Menoreh. Perbukitan yang terbentuk pada masa Oligosen-Miosen, sekitar 25-30 juta tahun lalu. Perbukitan ini terbentuk oleh 3 titik gunung api, yakni gunung api Menoreh, Ijo dan Gajah, demikian diungkap Van Bemmelen, geologist asal Belanda yang meneliti unsur batuan dan tanah di sebagian besar daratan Jawa.

Pagi itu, saya bergegas dengan menggendong tas kamera menuju rumah mbak Ani, putri pak Ndut, salah satu produsen gula semut di Gunung Kelir yang konsisten menjaga tradisi mengolah gula merah secara konvensional. Namun, bukan untuk memotret pembuatan gula, tapi mengabadikan peristiwa yang setelah sekian lama saya impikan, prosesi upacara Waisak di Gunung Kelir, Jatimulyo.

Waisak

Senyum pak Ndut merekah menyambut kehadiran saya, menambah sejuta semangat dari fisik sedikit drop oleh beberapa hari sebelumnya dari pekerjaan yang menguras tenaga. Segelas teh hangat segera disajikan menyusul, setelah berjejer 3 gelas teh untuk keluarga pak Ndut yang menemani saya mengobrol panjang lebar.

Hari ini adalah ketiga kalinya saya berkunjung ke rumah penuh kedamaian ini. Sebelumnya, saya membuat salah satu film pendek di sini. Setelah menikmati teh hangat dan makanan ringan khas pedesaan, saya diantar pak Ndut untuk menemui ketua panitia pelaksanaan upacara Waisak, pak Harsana Silamano di vihara Giriloka. Sambutan pak Harsana hangat sekali, membuat saya semakin bersemangat dalam mengabadikan rangkaian upacara Waisak. Setelah cukup berbincang, saya bersama pak Ndut kembali ke rumah produsen gula semut tersedap di Gunung Kelir ini.

Waisak

Seekor Walik Kembang melesat mendarat di pelataran rumah, tetapi segera kembali terbang setelah menemukan bebijian yang tampak diincarnya. Jatimulyo dikenal dengan desa ramah burung. Tak heran jika banyak ditemui berbagai jenis burung di sini. Kumbang jantan enggan memadu kasih dengan pasangannya, lebih memilih menghisap madu dari bunga di taman.

Tonggaret membisu, entah kenapa. Mungkin sedang menikmati kesendirian, atau sengaja enggan mengganggu aktivitas masyarakat Jatimulyo yang hari ini akan melaksanakan rangkaian upacara Waisak. Tampaknya mereka tahu diri, suara bisingnya harus disimpan baik-baik.

Waisak

Umat Buddha mulai berdatangan, membawa senyum dan sapa “Namo Budhaya” di antara umat. Mereka berkumpul di pendopo sederhana dengan hiasan beberapa lampion merah, sangat kental akulturasi budaya. Rumah Pak Ndut. Jarum jam menunjuk angka 9, Puja Bhakti segera dilaksanakan. Hening penuh damai. Kidung-kidung mantera dilantunkan dalam gubahan Macapat, sangat terasa Jawanya.

Doa-doa dipanjatkan, dalam tutur bahasa Pali. Bahasa Pali adalah ragam dari bahasa Prakerta Kuno yang menjadi bagian dari rumpun bahasa Indo-Arya. Bahasa inilah paling banyak dituturkan oleh kaum Theravada untuk menulis kumpulan tulisan yang kemudian dikenal dengan nama Kanon Pali (yang kini digunakan dalam bahasa doa-doa umat Buddha di Indonesia).

Selesai Puja Bhakti adalah prosesi pengambilan air suci dari mata air Sepanggal di bukit Gunung Tumpeng, gunung yang menaungi dusun Gunung Kelir ini menjadi suasana selalu sejuk dan rindang. Beruntung, siang itu arak-arakan awan menutupi terik matahari. Puluhan umat Buddha Gunung Kelir melakukan perjalanan menuju mata air Sepanggal.

“Tuk’e ten nginggil mriko mas, tebih, dalane nggih mboten sae. Menawi badhe ngentosi nggih monggo, badhe tumut nggih kerso” – Mata airnya ada di atas sana mas (menunjuk puncak bukit), jauh dan jalannya kurang bagus. Jika mau menunggu di sini silakan, atau turut naik juga dipersilakan. Ucap pak Ndut yang memimpin perjalanan. Saya bertekad bulat mengikutinya.

Waisak

Jalan terjal dimulai kurang lebih 30 meter dari jalan raya lintas Menoreh, sengal nafas tak dapat dihindari. Maklum, sudah sekian lama saya tidak berolahraga fisik. Batuan licin jejak lintasan aliran air menjadi tantangan tersendiri. Saya lebih banyak diam, berada di tengah rombongan umat. Mendengar mereka menapaki batuan terjal licin sambil bercengkerama membuat saya kagum, dari anak-anak kecil usia belum genap 10 tahun hingga ibu-ibu yang sudah lanjut usia. Semua bergembira dan bersemangat.

Sekitar 15-20 menit berjalan menanjak, sampailah kami di sebuah bangunan berbentuk atap segitiga, kami rehat sejenak. Doa-doa kembali dipanjatkan. Satu dua kicau burung terdengar agak jauh, layaknya mengaminkan doa-doa dari umat Buddha Gunung Kelir. Usai doa, dilakukan pelepasan burung. Kebahagiaan menyelimuti umat, disambut kicau burung sekitar seolah bersorak syukur atas doa yang dipanjatkan. Bibit pohon bodi dan jambu yang ditanam di area peristirahatan tersebut juga ditanam sebagai upaya pelestarian alam seperti ajaran Sang Buddha. Jamuan makan sederhana mengakhiri sesi istirahat, sebungkus nasi rames dan teh panas terasa sungguh nikmat. Saya ingat betul ajaran nenek saya yang seorang Kejawen tulen, bawasannya makanan yang telah didoakan rasanya jauh lebih nikmat. Itulah yang kami rasakan saat itu. Sempurna.

Waisak

Perjalanan kembali dilanjutkan. Namun, kali ini anak-anak kecil dan yang merasa kurang kuat bisa beristirahat sembari menunggu selesai pengambilan air suci. Sekitar 15 menit, perjalanan sampai di ujung sebuah mata air kecil tapi masih sangat alami. Segera kendi yang telah disiapkan diisi penuh air dari mata air Sepanggal di Gunung Tumpeng. Beberapa pohon juga ditanam disitu, di area atas mata air.

Pelepasan ikan di aliran air oleh umat sebagai upaya melestarikan alam pun dilakukan. Prosesi-prosesi tersebut diiringi lantunan doa-doa dan penyalaan dupa yang membuat suasana menjadi sangat terasa tenteram. Usai melakukan prosesi, kami segera turun. Satu hal yang saya perhatikan, seusai doa saya melihat debit air lebih besar dari saat kami datang.

Waisak 2022
Waisak 2022 (Doc/Jalutajam)

Sepintas saya menganggap logis, dengan adanya pembersihan aliran mata air, sehingga seolah terlihat makin deras alirannya. Namun, kata hati tetaplah menolak alasan logis itu. Seperjalanan pulang, pipa-pipa paralon yang dibalut oleh ban karet karena kebocoran hanya terlihat menetes saat perjalanan menuju mata air. Namun, di kala pulang saya melihat beberapa kebocoran yang tadi hanya menetes, kini menyembur air yang sangat kuat. Di sinilah saya yakin, bahwa doa menyempurnakan segalanya. Alam memberikan apa yang terbaik dikala kita merawatnya dengan cinta kasih.

Saya telah kembali ke rumah pak Ndut, waktu menujukkan jam 1 siang. Di situ telah menunggu kawan memotret saya, Gothil. Kami berbincang banyak hal hingga kantuk di siang bolong tak dapat ditahan. Suasana adem dan kicau burung seolah meninabobokkan dengan cepat, hingga pukul 5 sore kami bergegas menuju vihara Giriloka untuk prosesi selanjutnya.

Waisak

Kabut mulai turun, menyapa warga masyarakat Gunung Kelir yang sore itu tampak cantik dan gagah. Bagaimana tidak, semua umat berpakaian adat Jawa dari anak kecil hingga kakek nenek mereka di usia lanjut. Sungguh sebuah pemandangan yang membuat hati merasa bangga berada di tengah masyarakat yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Mereka berbaris rapih, panitia membagikan lilin untuk dibawa tiap umat sebagai bantuan memusatkan meditasi dalam rangkaian Kirab Amisapuja.

Kirab diawali dengan umbul donga, pemanjatan doa-doa. Masing-masing di antaranya membawa bendera merah putih, bendera panji umat Buddha, 7 kendi dari 7 mata air, dupa-dupa, bunga setaman, obor dan lilin yang dibawa seluruh umat. Kirab kali ini hanya berjarak kurang dari 400 meter perjalanannya, mengingat masih adanya aturan protokol Covid-19 yang diterapkan.

Waisak

Hening perjalanan mereka menyusuri jalan setapak menuju Vihara Giriloka, khusuk, hingga hanya terdengar langkah kaki mereka. Sampai Vihara Giriloka, dilanjut dengan prosesi Pradaksina mengelilingi vihara sebanyak 3 putaran. Kidung-kidung puja mengiringi umat mempersiapkan diri untuk melaksanakan Puja Bhakti, hingga ditutup dengan meditasi bersama-sama.

Keesokan harinya adalah hari yang ditunggu semua umat, detik-detik Waisak 2022 yang jatuh pada pukul 11.13.46 WIB tanggal 16 Mei 2022, pada tahun 2566 Buddhist Era. Rangkaian prosesi ini bukan hanya rutinitas semata. Namun, sebagai satu wujud keyakinan dan bakti umat Buddha seluruhnya kepada sakyamuni Buddha Gautama. Sebuah akulturasi budaya kental terlihat pada kehidupan umat Buddha di Gunung Kelir, Jatimulyo, Kulon Progo ini.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, Semoga semua makhluk berbahagia.

Kontributor : Jalu, Genpi Jogja.

Load More Related Articles
Load More By jalu tajam
Load More In Event