De’loano Glamping: Eksplorasi Ala Nomadic Tourism

7 min read
0
92

Pergantian suatu tren dengan satu yang lain akan terus berjalan seiring dengan perubahan gaya hidup manusia. Seperti akhir-akhir ini, dunia pariwisata sedang menyambut tren ala milenial yang disebut Glamorous Camping. Dikenal dengan sebutan Glamping, wisata alam ala nomadic ini dilahirkan dari konsep kemping yang dibuat lebih sederhana namun tidak kehilangan sensasi dari berkemping itu sendiri.

De’loane Glamping
De’loano Glamping

Kalau kemping mengharuskan wisatawan untuk menyiapkan tenda, alat memasak, dan peralatan lainnya, berbeda dengan Glamping yang tidak perlu bersusah-payah menyediakan segala sesuatunya sendiri. Sebab di lokasi perkemahan sudah tersedia tenda, restaurant semi-outdoor, dan kamar mandi yang menyuplai air panas.

Terlebih apabila cuaca yang tiba-tiba tidak bersahabat, kemping yang awalnya diniatkan untuk liburan akan jadi merepotkan. Dengan Glamping, wisatawan tidak perlu risau akan becek dan masalah lain ketika hujan, sebab tenda yang disediakan adalah semi-permanen dan biasanya terdapat balok kayu sebagai alas area perkemahan.

Glamping adalah sebuah perwujudan dari konsep Nomadic Tourism yang sedang digencarkan pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dalam rangka memenuhi target wisatawan mancanegara di Indonesia. Salah satu Glamping yang hadir baru-baru ini adalah De’loano Glamping. Secara wilayah administrasi terletak di Desa Sedayu, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Ketika melihat keadaan sebenarnya, tidak akan ada yang menyangka bahwa kamar mandi lama De’loano sudah termasuk kawasan Kulonprogo. Lokasi Glamping tersebut memang dekat dengan perbatasan Kulonprogo-Purworejo. Hal itu tidak menjadi masalah karena pariwisata memang tidak ada batasnya.

De’loano Glamping memamerkan pemandangan hutan pinus dengan 11 tenda yang ditata rapi di area perkemahan. Terdapat 1 tenda mushola, serta 10 tenda untuk tamu menginap yang berkapasitas 6 orang dan khusus VIP 4 orang. Sehingga total kapasitas inapnya mencapai 60 orang.

Meski berada di tengah hutan, De’loano memiliki beberapa spot yang warna-warni dan instagramable sehingga di sana wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan saja, namun dapat berburu foto yang estetik. Terlebih juga terdapat beberapa destinasi wisata menarik yang cukup dekat dengan lokasi kemping, seperti Kebun Teh Nglinggo, Puncak Widosari, dan Watujonggol Grojogan.

Wisatawan dapat memilih kendaraan yang diinginkan untuk menuju ke Kebun Teh Nglinggo. Apabila ingin menantang adrenalin, menaklukkan medan offroad yang ekstrem dengan jeep adalah pilihan yang tepat. Dengan biaya sekitar Rp 600.000 per jeep yang berkapasitas 3 orang, wisatawan dapat mengarungi rute medium offroad selama kurang lebih 1 jam.

Dari lokasi perkemahan, jeep akan melewati rute offroad yang berada di tengah hutan pinus dan mengantarkan wisatawan tepat di Nol KM Kebun Teh Nglinggo. Apabila ingin menikmati semilir angin pegunungan dan pemandangan di sepanjang jalan, wisatawan dapat naik kendaraan pribadi atau menyewa armada khusus yang berkapasitas 7 orang.

De’loane Glamping
De’loano Glamping

Dari lokasi kebun teh, dibutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke Puncak Widosari dengan armada sewaan. Setelah sampai, wisatawan perlu menaiki tangga sekitar 15 menit untuk dapat menikmati pemandangan dari puncak. Waktu terbaik untuk datang ke Puncak Widosari adalah menjelang senja, selain untuk menikmati pemandangan tenggelamnya matahari, wisatawan juga dapat memburu foto suasana langit senja dan pegunungan.

Lain lagi dengan Watujonggol Grojogan yang merupakan destinasi wisata air terjun di Desa Wisata Nglinggo. Wisatawan dianjurkan untuk menggunakan kendaraan pribadi ketika melakukan perjalanan ke sana karena jarak dari De’loano-Watujonggol sekitar 6 KM dan jalurnya yang lumayan sempit. Namun perjalanan tersebut akan terbayarkan begitu wisatawan sampai di lokasi air terjun.

De’loano Glamping merupakan hasil kerjasama Badan Otorita Borobudur (BOB) dengan Perum Perhutani. Dengan lahan seluas 1,5 hektar dari 309 hektar yang dikelola di kawasan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Loano milik Perhutani, pembangunan De’loano digarap selama 1,5 bulan dari target waktu 2 bulan.

BOB sendiri adalah satuan kerja Kementerian Pariwisata RI yang tidak hanya mengkoordinasi destinasi wisata Candi Borobudur, namun juga mengelola dan mengembangkan spot wisata di sekitarnya dalam rangka memajukan perekonomian masyarakat.

Akses De’loano Glamping sangatlah mudah dan bersahabat, sebab jarak Yogyakarta Internasional Airport (YIA) menuju lokasi perkemahan hanya berjarak 10 KM. Bapak Agung Wibowo, selaku Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo, menjelaskan bahwa ada 3 gerbang untuk mencapai De’loano, antara lain melalui gerbang Desa Wisata Nglinggo, jalan tembus Sedayu, dan projek PUPR Kehutanan.

Dari gerbang Desa Wisata Nglinggo, wisatawan yang tidak membawa kendaraan pribadi dapat menyewa armada khusus untuk sampai ke De’loano Glamping. Setelah itu, wisatawan dapat merasakan sensasi treking melewati jalan setapak sepanjang 350 meter dari pintu masuk menuju lokasi perkemahan.

Berwisata di De’loano Glamping tidak hanya dapat merasakan betapa sederhananya berwisata alam dengan kemping, namun wisatawan juga akan diberikan pengalaman yang unik dan menyenangkan.

Load More Related Articles
Load More By Dzatarisa Almas
Load More In Destinasi Wisata