Home Heritage De Java Nacht Express, Kereta Mewah Pertama di Nusantara

De Java Nacht Express, Kereta Mewah Pertama di Nusantara

6 menit waktu baca
81
Interior kereta makan dari De Java Nacht Express

Jika kamu bepergian dari Jogja menuju Jakarta ataupun ke Surabaya pasti tahu beberapa nama kereta api, salah satunya adalah Bima. KA Bima sejatinya mewarisi kemewahan dan rute dari kereta api legendaris yang pernah ada di tanah Jawa, yaitu De Java Nacht Express.

Dahulu, De Java Nacht Express merupakan kereta api andalan bagi para orang-orang yang akan melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Jogja ataupun Surabaya maupun arah sebaliknya dikarenakan kereta api ini memiliki fasilitas lengkap dan mewah serta memiliki waktu tempuh yang lebih cepat.

Sebelum Java Nacht Express ada, para pengguna jasa angkutan kereta api tidak dapat melanjutkan kereta api secara langsung dari Jakarta menuju Surabaya. Mereka diharuskan transit dan menginap di kota Jogja.

Mengapa harus transit dan menginap? Karena pada waktu itu belum ada jalur kereta api yang langsung terhubung antar Jakarta dengan Jogja. Yang ada adalah jalur kereta api antara Buitenzorg – Parijs van Java – Djocjacarta (Bogor – Sukabumi – Bandung hingga Yogyakarta) dan Djocjakarta – Soeracarta – Samarang (Yogyakarta – Surakarta – Gundih – Semarang).

Jalur tersebut dimiliki oleh dua perusahaan kereta api yang berbeda dengan bentang rel yang berbeda pula sehingga belum ada kereta api yang bisa melayani secara langsung. Perusahan itu adalah Nederlandsch-Indische Spoorweg maatschappij dengan lebar rel 1435 (Jogja – Semarang) mm dan Staatsspoorwegen dengan dengan lebar rel 1067 mm (Bogor – Jogja).

Setelah selesai membangun jalurnya sendiri, Staatsspoorwegen kemudian mengoperasikan kereta api cepat De Eendaagsche Express atau kereta ekspres siang dengan trayek Weltevreden – Tjikampek – Tjeribon – Poerwokerto – Maos – Djocjakarta – Soeracarta – Madioen – Soerabaja Goebeng – Soerabaja Kotta PP pertama kalinya pada tanggal 1 Mei 1929.

Selain De Eendaagsche Express, Staatsspoorwegen kemudian mengoperasikan juga kereta cepat yang lainnya namun berjalan pada malam hari yang diberi nama De Java Nacht Express. Kereta ini lebih mewah dari saudaranya yang diluncurkan beberapa tahun sebelumnya, De Eendaagsche Express. Bahkan kereta dari De Java Nacht Express juga belum tertandingi kemewahannya dibandingkan dengan kereta paling mewah di Indonesia saat ini (2018).

Brosur peluncuran De Java Nacht Express

Kereta dengan fasilitas kamar tidur ini diluncurkan pertama kali pada 1 November 1936. Nama kereta ini memiliki kata Nacht dikarenakan kereta api ini melayani perjalan dimalam hari dan berjalan nonstop dari Jakarta hingga Surabaya karena sudah tidak ada perbedaan lebar jalur rel antara Yogyakarta sampai dengan Solo.

Kereta api De Java Nacht Express juga memiliki jalur trayek seperti saudaranya, yaitu dengan trayek Weltevreden – Tjikampek – Tjeribon – Poerwokerto – Maos – Djocjakarta – Soeracarta – Madioen – Soerabaja Goebeng – Soerabaja Kotta PP.

Selain memiliki fasilitas kamar tidur, kereta ini juga berpendingin udara. Namun pendingin udaranya tidak semodern sekarang. Pendingin udara tersebut menggunakan balok-balok es batu yang dipasangkan pada plafon kereta.

Balok es yang mencair selama perjalanan akan ditampung dan digunakan sebagai persediaan air untuk keperluan toilet dan sekedar cuci tangan. Dari Jakarta dan Surabaya kereta api ini akan mengganti balok-balok es untuk pendinginnya di stasiun Yogyakarta.

Jadi jangan heran jika di sekitar stasiun Yogyakarta terdapat banyak pabrik es batu balok. Pada era 1990 an masih terkenal istilah “mbabrik es” di daerah Ngampilan, Pathuk, Pingit dan beberapa daerah lainnya.

Salah satu kereta yang pernah dipakai De Java Nacht Express, kini digunakan sebagai kereta wisata charter yang disimpan di Depo Kereta Solo Balapan.

Beda dahulu beda sekarang. Jika sekarang kereta api Bima hanya melayani satu kelas Eksekutif saja, maka kereta api De Java Nacht Express memiliki beberapa kelas pelayanan. Selain kereta tidur, terdapat pula kereta dengan pelayanan kelas 2. Tidak memiliki fasilitas kamar tidur dan pendingin udara.

Rangkaian kereta api ini juga dilengkapi dengan kereta makan yang mewah, dengan gaya desain interior khas Eropa. Selain itu, kereta pada rangkaian terakhir merupakan bagian yang istimewa, karena memiliki balkon yang menghadap ke belakang sehingga penumpang dapat menikmati pemandangan indah dengan leluasa.

  • Jejak Kereta Api ke Bantul

    Pada artikel sebelumnya sudah dibahas tentang stasiun besar Yogyakarta. Stasiun tersebut s…
  • Gubernur Jenderal Tjarda van Stakenborough di Stasiun Tugu

    Stasiun Tugu, Stasiun Paling Cantik di Indonesia

    Dalam rangka memperingati 151 tahun jalur kereta api di Indonesia, kali ini saya ingin ber…
Muat Lagi Dari Dewangga Liem
Muat Lebih Banyak Di Heritage