Home Buku Chairil Anwar dan Pilihan Hidup Menulis

Chairil Anwar dan Pilihan Hidup Menulis

7 min read
1
0
56

Judul                          : AKU: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar

Penulis                       : Sjuman Djaya

Penerbit                     : PT Gramedia Pustaka Utama

Bulan terbit              : Agustus 2017 (cetakan keenam)

Jumlah halaman    : 155 Halaman

 

AKU: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar
AKU: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar

Di Ikada, sejuta gemuruh bercampur riuh. Kibasan-kibasan Sang Saka Merah Putih, paut; berpaut. Semacam lautan merah berbuih putih. Serupa badai merah berangin putih. Kaki-kaki bergiliran bergantian melangkah menghujani tanah. Kaki-kaki terus mengalir deras berdatangan bersatu padu merapatkan barisan. Sementara di sebelah lain, tegak angkuh barisan prajurit Jepang dengan bayonet-bayonet terbuka. Di sebelahnya lagi, ratusan-ribuan nyawa tewas begitu saja.

Setidaknya, seperti itulah suasana pergolakan pada saat itu. Skenario yang ditulis oleh sutradara Sjuman Djaya berdasarkan perjalanan hidup ini dimulai dengan adegan-adegan menegangkan. Adegan khas jaman perang.

Di sebuah ruang interogasi, sebuah penjara milik Kenpe Tai. Dua orang opsir prajurit Jepang menelanjangi pria kurus bermata cekung. Tubuhnya yang kerempeng itu terlempar melayang membentur dinding jeruji besi dan jatuh.

“Hayuh, pukul lagi! Kita lihat,

siapa lebih dulu menyerah pada kebinatangan ini!”

Dan memang, prajurit itu tambah penasaran lalu menendang dengan sepatunya ke arah muka. Terpelanting, tapi pria bermata merah basah itu segera bangkit, tegak menuju ke arah Opsir Shimitsu dan menghardiknya.

“Biar peluru menembus kulitku sekalipun, aku akan tetap menerjang!

Aku bilang, luka dan bisa ini akan kubawa berlari

bersama jutaan rakyat di seluruh Asia Timur Raya ini.

Sampai hilang pedih peri! Dan kamu sendiri

mampus di ujung pedang yang kamu asah sendiri!

Kawan-kawan, mari kita ayun pedang, ke dunia terang!”

Pria yang mukanya sudah merah biru itu, mulutnya berdarah dan tertawa menyeringai ke arah Opsir Shimitsu. Pria yang kelak akan kita kenal sebagai seorang penyair besar: Chairil Anwar.

Dalam buku ini, bukan saja karena diangkat dari kisah nyata, sehingga buku ini seolah hidup dan ‘nyata’ tetapi tentu saja karena andil kepiawaian sang penulis. Buku ini berhasil menyatukan sajak-sajak Chairil Anwar dengan skenario yang dibuat Sjuman Djaya tanpa cela. Hal ini merupakan sebuah nilai positif tersendiri.

Sebagai penulis, Sjuman Djaya mampu menari diatas kata-katanya sendiri. Buku ini tidak lagi terasa sebuah ‘biography’ tetapi sudah menjadi ‘autobiography’. Gaya bahasa yang disajikan pun begitu luwes, ringan dan mengigit. Sama halnya dengan gaya bahasa yang dimiliki Chairil Anwar dalam sajak-sajaknya.

Tidak mengherankan jika WS Rendra, salah satu penyair besar di negeri ini, berkata dalam pengantar bahwa Sjuman Djaya menulis skenario dalam gaya yang tumbuh dan penuh kesadaran akan minimnya fasilitas yang dia hadapi. Ia lebih menggeluti alam pikiran dan alam kejiwaan sang penyair daripada alam jasmani kehidupannya.

Tentu saja, itu menjadi salah satu keistimewaan dari buku AKU. Tetapi menurut saya ada hal yang lebih menarik dari sekedar retorika dalam buku ini. Pelajaran dari kisah hidupnya.

Meskipun Chairil terlihat nampak tidak beraturan, liar dan bohemian. Kelak, akhirnya dia mampu membuktikan dan bertanggung jawab atas ‘aturan’ yang sejak umur 15 tahun diterapkan pada dirinya sendiri, yaitu bertekad ingin menjadi penyair dengan segala resiko yang harus dia hadapi.

Padahal, untuk ukuran seorang anak controleur (setara Bupati saat ini) Chairil memiliki banyak pilihan. Salah satunya dengan melanjutkan pendidikan ke Belanda, seperti pamannya, Sutan Sjahrir.

Membaca AKU, saya teringat dengan ucapan penulis Puthut EA.

“Para penulis besar seingat saya datang dalam situasi yang sulit. Tapi sekarang ini kita sering mendengar beberapa orang mengeluh tidak bisa menulis karena tidak punya uang. Padahal sebagian karya tulis hebat datang dari situasi bathin yang tertekan, kehidupan yang guncang, kondisi sosial yang runyam, keadaan ekonomi yang buruk, kebebasan yang terenggut.”

Ironi sekaligus paradoks. Di zaman serba gampang ini kita masih mengurusi hal-hal yang remeh temeh seperti itu. Lebih sering mengeluh tentang ini dan tentang itu. Bukankah Chairil Anwar hidup-menulis di zaman genting? Zaman serba kesusahan?

Bukankah Sjuman Djaya menulis skenario ini dengan memeras otak agar karyanya bisa dinikmati? Sekalipun ketika itu tidak ada fasilitas studio yang mampu menciptakan wajah kota tempo dulu? Bukankah hidup adalah sebuah kompromi? Pada akhirnya kau yang turut andil. Kau yang menentukan akan seperti apa hidupmu.

Baca juga: Menziarahi Isyarat Cinta Yang Keras Kepala

  • Isyarat Cinta Yang Keras Kepala

    Menziarahi Isyarat Cinta Yang Keras Kepala

    Judul                              : Isyarat Cinta Yang Keras Kepala Penulis              …
Load More Related Articles
  • Keluarga Cemara

    Memahami Arti Keluarga Melalui Kesederhanaan Keluarga Cemara

    Judul                                : Keluarga Cemara 1 Penulis                          …
  • Isyarat Cinta Yang Keras Kepala

    Menziarahi Isyarat Cinta Yang Keras Kepala

    Judul                              : Isyarat Cinta Yang Keras Kepala Penulis              …
Load More By Mochamad Ripki
Load More In Buku