Home Heritage Candi Kalasan, Pesonamu Tak Lekang Waktu

Candi Kalasan, Pesonamu Tak Lekang Waktu

5 menit waktu baca
32

Di antara sekian banyak candi yang ada di Jogja, hanya ada 2 yang konon akan bersinar memantulkan cahaya saat terpapar sinar rembulan. Satu akan berwarna kemerah-kemerahan yakni Candi Sambisari. Satu lagu akan berpendar kehijau-hijauan layaknya fosfor pada malam hari, yaitu Candi Kalasan.

Secara administrasi kawasan Candi Kalasan berada di Dusun Kalibening, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Hanya berjarak sekitar 4 km ke barat dari kompleks Candi Prambanan. Akses untuk kesana pun sangat mudah. Lokasinya tepat di pinggir jalan raya setelah jembatan, berada sisi kiri jika dari arah timur Jogja.

Dari jalan raya Solo – Jogja, kemegahan Candi Kalasan sudah nampak tinggi menjulang kontras dengan bangunan yang ada di sekitarnya. Fasilitas parkir untuk bus atau mobil juga telah tersedia. Saat saya mengunjunginya, untuk sepeda motor tidak dikenakan biaya parkir. Sedangkan tiket masuknya hanya Rp 5.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 10.000 untuk mancanegara.

20190220_100940_HDR

Candi Kalasan merupakan warisan budaya berlatar belakang agama Budha paling tua yang ada di Jogja. Berdasarkan temuan Prasasti Kalasa (n) yang ditulis menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pranagari. Awal mula pembangunan Candi Kalasan berasal dari nasehat para pemuka agama Budha pada zaman wangsa Syailendra. Lalu, dibangunlah kuil atau bangunan suci untuk memuja Dewi Tara pada masa pemerintahan Maharaja Tejahpurana Panangkaran tahun 778 M sesuai yang tertulis di prasasti.

Dewi Tara atau Tarabhawana adalah figur suci wanita Buddha (Bodhisatva) yang masih diamalkan dan dilestarikan sampai sekarang sebagai tantra Buddha dalam agama Buddha Tibet. Tara atau dewi Tara merupakan lambang dari kebebasan atau kemerdekaan jiwa. Menyatakan keberhasilan dan prestasi hidup yang sejati dan bersifat suci. Dewi Tara juga merupakan lambang dari belas kasih serta kehampaan (Śūnyatā, ketidak beradaan dan ketidak kekalan duniawi) yang diajarkan dalam agama Buddha.

Sedangkan Desa Kalasa(n), desa dimana tempat pemujaan ini berada kemudian diberikan kepada sangha yaitu perhimpunan atau persaudaraan para Biksu yang memelihara bangunan suci. Bisa dikatakan, dulu kawasan ini selain menjadi tempat beribadah juga pernah menjadi asrama, biara atau tempat tinggal bagi para Biksu.

20190220_100723_HDR

Hal menarik dari Candi Kalasan yang kemudian menjadikannya berbeda dengan candi lain di Jogja adalah keberadaan Brajalepa. Brajalepa adalah lapisan berwarna  putih semacam semen pelapis pada sisi luar bangunan. Layaknya cat pada eksterior sebuah bangunan namun lebih tebal.

Brajalepa berfungsi melindungi dinding candi dari lumut dan jamur. Lapisan ini terdiri dari pasir kwarsa (30%), kalsit (40%), kalkopirit (25%), dan lempung (5%). Tetapi, ada juga yang menyebutnya dengan lapisan fosfor.

Konon, pada malam hari lapisan ini akan membuat candi tampak berpendar memantulkan cahaya rembulan. Sayangnya, saat ini lapisan brajalepa hanya nampak pada beberapa sudut saja terutama di bagian atas candi.

Secara umum, bangunan Candi Kalasan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 34 x 45m dengan tinggi keseluruhan mencapai 34 m. Terdapat bilik di ke empat sisinya. Bilik yang paling besar dan satu-satunya yang memiliki tangga menghadap ke arah timur. Didalam bilik sudah tidak terdapat arca.

Banyak kerusakan terjadi akibat cuaca dan bencana alam seperti gempa bumi dan banjir dari luapan air Kali Kuning yang tak jauh dari lokasi. Saat ini kita tidak diperbolehkan naik dan masuk ke dalam bilik. Hanya dapat menikmati dari luar bangunan saja.

Candi Kalasan masih dalam proses pemugaran oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY setidaknya hingga setahun kedepan. Semoga kita dapat segera menikmati kembali keindahan yang dimilikinya sekaligus belajar sejarah Jawa klasik.

Muat Lagi Dari roni_ali
Muat Lebih Banyak Di Heritage