Buku Bajakan Makin Marak, Penerbit Jogja Tempuh Jalur Hukum

6 min read
0
91

Dua belas penerbit di Jogja yang tergabung dalam Konsorsium Penerbit Jogja (KPJ) secara resmi melaporkan pembajakan buku yang dilakukan oleh kios-kios buku di Shoping Center Yogyakarta.

“Ini merusak ekosistem penerbitan buku dan merugikan dunia penerbitan”, ujar Hisworo Banuarli, narahubung KPJ Hisworo Banuarli. “Ini harus dilawan dan dibawa ke muka hukum”, lanjutnya kepada rekan media saat jumpa pers disela Perhelatan Festival Musik dan Buku MocoSik 2019 di Jogja Expo Center, Minggu (25/08).

Baca juga: MocoSik 2019 Hari Pertama: Diskusi, Pameran Buku, Monolog Hingga Efek Rumah Kaca

Buku Bajakan Makin Marak, Penerbit Jogja Tempuh Jalur Hukum
Buku Bajakan Makin Marak, Penerbit Jogja Tempuh Jalur Hukum

Laki-laki yang kerap disapa Hinu OS ini memimpin rekan-rekannya di penerbitan untuk mengepalkan keyakinan yang sama bahwa pembajakan buku ini mestilah dilawan. Kedua belas penerbit yang dimaksud adalah CV Gava Media, Media Pressindo, Pustaka Pelajar, CV Pojok Cerpen, PT Gardamaya Cipta Sejahtera, PT Galang Media Utama, PT LkiS Pelangi Aksara, Penerbit Ombak, PT Bentang Pustaka, CV Kendi, CV Relasi Inti Media dan CV Diva Press.

Hinu OS yang didampingi sejumlah pengacara dari PBH IKADIN mendatangi Polda DIY untuk memberikan laporan rinci dan diterima dalam surat kepolisian bernomor LP/0634/VIII/2019/DIY/SPKT tertanggal 21 Agustus 2019. Hinu OS alias Hisworo Banuarli dalam laporannya juga menyertakan sejumlah judul buku yang dibajak pihak tak bertanggung jawab di Shoping Center Yogyakarta.

Pelaporan ini merupakan upaya penerbit-penerbit di Yogyakarta dalam menyikapi pembajakan buku yang semakin masif dan terbuka. Bahkan, buku belum resmi beredar di toko buku, bajakannya sudah muncul terlebih dahulu di kios-kios buku.

Baca juga: Mocosik #3, Dari Puisi Cinta Hingga Berita Kepada Kawan

Akibat pembajakan ini, penerbit yang mengolah naskah hingga terbit sebagai buku kehilangan pendapatannya. “Buku itu sebelum terbit melewati proses yang panjang. Di sana ada editor, desainer isi dan sampul, pembaca ahli, dan seterusnya. Penerbit mengeluarkan dana besar untuk pembiayaan-pembiayaan itu. Pembajakan membuat penerbit limbung,” lanjut Hinu.

Bukan hanya penerbit yang dirugikan, penulis pun kehilangan pendapatannya berupa royalti dari proses industri perbukuan.

“Sebut saja penulis-penulis buku yang diminati, buku bajakannya ada dan dijual secara terbuka dengan harga yang di satu sisi membikin bungah hati pembeli, namun bisa bikin juragan buku bajakan bisa umrah berkali-kali dan setiap catur wulan ganti mobil”, tulis Muhidin M. Dahlan.

“Dari pujangga Pramoedya Ananta Toer hingga Eka Kurniawan; dari Seno Gumira Ajidarma hingga Puthut EA; dari Dewi Lestari, Andrea Hirata, Tere Liye, hingga Agus Noor; dari Edi AH Iyubenu, hingga Fiersa Besari; dari Joko Pinurbo hingga Kedung Romansa”

Buku Bajakan Makin Marak, Penerbit Jogja Tempuh Jalur Hukum
Buku Bajakan Makin Marak, Penerbit Jogja Tempuh Jalur Hukum

Begitu meresahkannya pembajakan buku ini hingga Konsorsium Penerbit Jogja (KPJ) harus melawan dengan memberikan kepercayaan kepada penegak hukum untuk mengambil tindakan. Apalagi, dunia literasi sedang tumbuh. Festival buku juga kembali menggeliat. Di Yogyakarta, sebut saja MocoSik Festival, Patjar Merah, Kampung Buku Jogja (KBJ) maupun Islamic Book Fair (IBF).

Baca juga: Festival MocoSik 2019 Hadir, Catat Tanggal Presale Tiketnya!

“Sebagai penulis, pemilik penerbitan independen, saya merasakan kerugian yang sangat besar dari praktik jahat pembajakan buku ini. Karena itu, MocoSik Festival turut mengutuk pembajakan buku dan mendukung pelaporan yang dilakukan Konsorsium Buku Jogja (KBJ)”, tegas Irwan Bajang, CEO MocoSik Festival.

“Jika tidak dilawan secara bersama-sama, pembajakan ini bisa mengubah persepsi masyarakat bahwa tindakan jahat dan ilegal itu pekerjaan ‘biasa-biasa’ saja. MocoSik mendukung penuh agar aparat keamanan menindak pelaku-pelaku pembajakan buku itu”, lanjutnya.

Sementara itu, Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Yogyakarta yang dipimpin Dr. Ariyanto, S.H., C.N., M.H., melalui Pusat Bantuan Hukum (PBH) IKADIN Yogyakarta, mendukung penuh apa yang dilakukan 12 (dua belas) penerbit yang tergabung dalam Konsorsium Penerbit Jogja.

IKADIN menjadi pendamping 12 penerbit tersebut ke Polda DIY. Hal itu dilakukan IKADIN karena adanya dugaan tindak pidana kekayaan intelektual hak cipta berupa pembajakan buku berlisensi.

Baca juga artikel menarik lainnya pacarkecilku.

Load More Related Articles
Load More By pacarkecilku
Load More In Event