BKKBN Gaet GenPI Jogja Sosialisasi Penekanan Usia Perkawinan

6 min read
0
63

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama GenPI Jogja dan berbagai komunitas lain deklarasikan Generasi Berencana Remaja DIY di Jayakarta Hotel & Spa pada hari sabtu (31/8).

Hari itu suasana hotel tak seperti biasanya, ratusan kendaraan sudah memenuhi tempat parkir bahkan bahu jalan sejak pagi. Indonesia Raya menggema menyelimuti udara pendopo dan taman yang masih sejuk. Seratus lebih pasang mata berkumpul dalam rangka Sosialisasi Penekanan Usia Perkawinan (PUP) oleh BKKBN. Acara ini termasuk dalam rangkaian peringatan Hari Remaja International 2019.

BKKBN 4

Acara diawali dengan sambutan dari Rohdiana Sumaryati Kabid LatBang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY yang menjelaskan bahwa sebenarnya deklarasi ini di agendakan untuk memperingati hari remaja internasional pada 14 Agustus lalu, namun karena ada kendala administrasi jadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY sertakan dalam Sosialisasi Penekanan Usia Perkawinan (PUP) hari ini.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Ir. Arofa Noor Indriani, M.Si yang membuka acara ini secara resmi dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam membangun keluarga harus terencana. Contoh paling simpel harus mendapat ijazah dahulu sebelum ijab-sah. Dengan adanya sosialisasi mengenai usia pernikahan yang ideal, diharapkan masyarakat dapan melangkah ke jenjang keluarga yang lebih berkualitas.

Melalui kerjasama dengan berbagai komunitas yang ada di Jogja, diharapkan agar Sosialisasi Penekanan Usia Perkawinan (PUP) cepat sampai dan menjangkau semua kalangan di Jogja, terutama para remaja. Beberapa komunitas yang turut hadir antara lain GenPi Jogja, PPI Jogja, Gusdurian, Kelompok Karang Taruna Jogja dan GenRe.

Sosialisasi Penekanan Usia Perkawinan (PUP) ini dilakukan lantaran meningkatnya angka pernikahan dini di Jogja dalam 2 tahun terakhir. Disebut pernikahan dini sebab usia pelaku perkawinan yang belum mencapai standard minimal yang tertera dalam UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974. Dalam UU Perkawinan dikatakan bahwa usia minimal bagi seseorang untuk menikah adalah 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.

Berdasarkan data yang diperoleh dari KUA seluruh DIY, tercatat ada 315 kasus pernikahan dini pada tahun 2017. Angka tersebut meningkat hampir 4,5% di tahun 2018. Pelaku pernikahan dini didominasi oleh laki-laki dibawah 19 tahun.

BKKBN 2

Sosialisasi Penekanan Usia Perkawinan (PUP) kali ini menghadirkan 2 narasumber, yaitu Dr. H. Nur Ahmad Ghozali, M.A dan Mustikaningtyas, M.P.H. Dalam forum diskusi, Dr. H. Nur Ahmad Ghozali, M.A menyampaikan beberapa faktor yang mendorong terjadinya kasus pernikahan dini yaitu, pendidikan tentang reproduksi yang kurang, kehamilan yang tidak dikehendaki, kemiskinan, paham yang salah, faktor sosiokultural, dan agama.

Faktor sosiokultur yang berkembang di masyarakat ini cenderung menganggap bahwa wanita yang terlambat menikah disebut perawan tua, sehingga mendorong keinginan untuk segera menikah agar tidak dianggap sebagai perawan tua.

Sementara itu Mustikaningtyas,M.P.H, narasumber kedua yang berprofesi sebagai psikolog. Menyoroti tantangan dan dampak psikologis bagi  pernikahan dini. Dalam penjelasannya, beliau menyebutkan bahwa seharusnya pendidikan tentang sex diberikan sejak balita oleh keluarga. Beliau mencontohkan dengan mengajari anak tentang perbedaan gender serta nama-nama organ kelamin yang disampaikan apa adanya. Hal itu karena anak-anak pada usia balita cenderung meng-copy apa yang kita sampaikan.

Pernikahan dini juga memiliki konsekuensi yang cukup berat bagi pelakunya. Selain perceraian di usia pernikahan yang masih muda(<5th), kemiskinan dan gangguan jiwa juga beresiko terjadi pada para pelakunya. Dari forum diskusi dapat disimpulkan bahwa kecenderungan pernikahan dini dapat dicegah dengan peran aktif orang tua dan masyarakat dalam perkembangan anak.

BKKBN 1

Setelah penandatanganan deklarasi Generasi Berencana Remaja DIY yang dilakukan oleh semua peserta, acara di tutup dengan kegiatan outbond di taman Jayakarta Hotel & Spa untuk menambah keakraban antar komunitas.

Load More Related Articles
Load More By Dody Hendro W
Load More In News