Biennale Jogja 17 Ditutup dengan Penyematan Lifetime Achievement Award

6 min read
0
122

Pameran seni Biennale Jogja 17 resmi ditutup dengan meriah pada Minggu (26/11/2023) malam di Gudang Bibis, Desa Bangunjiwo Kabupaten Bantul D.I.Yogyakarta. Penutupan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Laksmi, Ketua Yayasan Biennale Alia Swastika, dan para tamu undangan.

“Tidak terasa kita sudah sampai pada penghujung Biennale. Cukup banyak prestasi dan aktivasi yang dicapai Biennale tahun ini. Tantangan baru, menggunakan daerah yang lebih luas. Bagaimana menangkap potensi-potensi yang ada di desa. Diharapkan, dengan ini kedepannya bisa merangkul komunitas dan masyarakat. Karena pada dasarnya seni itu tanpa sekat.” Tutur Dian Laksmi dalam sambutan closing Biennale Jogja 17.

Sejak 6 Oktober 2023, Biennale Jogja 17 telah melaksanakan 70 programnya selama 45 hari perhelatannya. Bersama 60 seniman dari Indonesia, Asia Selatan, dan Eropa Timur, pameran ini berhasil mengusung tema Titen: Pengetahuan Menubuh, Pijakan Berubah.

Pada acara penutupannya, Biennale Jogja 17 menganugerahkan Penghargaan Pencapaian Seumur Hidup (Lifetime Achievement Award/LAA) pada tokoh yang berhak. Kedua tokoh yang diputuskan berhak untuk dianugerahi adalah Siti Adiyati dan Subroto Sm.

Penyematan penghargaan Lifetime Achievement Award kepada Siti Adiyati dan Subroto Sm

Penghargaan Lifetime Achievement Award 

Yayasan Biennale Yogyakarta secara konsisten mengamati pelaku-pelaku yang terus-menerus bekerja di bidang kesenian. Pada tahun ke-17 pilihan Biennale Jogja 17 jatuh pada Siti Adiyati dan Subroto Sm. Keduanya dianggap berhak berdasarkan loyalitas, dedikasi, dan kontribusinya pada dunia seni rupa di Yogyakarta serta Prestasi dalam Lingkar Seni Rupa Indonesia.

Sejak masih menjadi mahasiswa seni rupa pada era 70-an hingga saat ini, Siti Adiyati secara aktif berkesenian. Beliau merupakan salah satu pelopor Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) pada tahun 1975-1979.

Selain itu, beliau rutin menulis dan aktif mengarsip di bidang seni rupa. Saat ini karya-karyanya yang merupakan bagian dari pembacaan sejarah ekonomi politik Indonesia telah menjadi bagian dari koleksi Galeri Nasional Indonesia dan Galeri Nasional Singapura.

“Ada 3 hal yang menyebabkan GSRBI yaitu keadaan situasi politik, birokrasi pendidikan dengan kepentingan, jaman itu jaman sumpek karena tidak bisa apa-apa. PR kita bersama bagaimana kita keluar dari kesumpekan itu.” Ujar Siti Adiyati dalam prakata saat dianugerahi LLA.

Sementara Subroto Sm dikenal sebagai perupa dengan gaya formalis sekaligus akademisi di bidang kesenian. Selain konsisten dalam berkarya, beliau menjadi Ketua Jurusan Seni Lukis ISI Yogyakarta pada tahun 1984 dan menjadi dosen sejak tahun 1969 hingga tahun 2011.

Dedikasi yang kontinu dari Subroto Sm terlihat dari pengalamannya dalam melewati berbagai perubahan pergerakan seni di kampus kesenian mulai dari masih bernama ASRI hingga telah menjadi ISI.

“Tak mudah mempertahankan keberlangsungan Biennale Jogja. Oleh karenanya patut disyukuri Biennale Jogja masih eksis sampai sekarang. Saya mengacungkan dua jempol. Dan juga kepada Alia selaku Ketua Yayasan sehingga mampu tetap hidup dan berkembang.” Tutur Subroto Sm dalam prakatanya.

Beliau mempunyai harapan agar Biennale Jogja tetap jeli, cerdik, dan kreatif dalam membaca tanda-tanda jaman supaya kehidupan menjadi lebih cerah dan manfaat.

Subroto Sm dalam prakata penyematan penghargaan LAA

Closing Biennale Jogja 17 Berlangsung Meriah

Penutupan Biennale Jogja 17 dimeriahkan oleh penampilan lagu-lagu salah satunya yang berjudul Wang Sinawang dari Orkes Kembang Kempis feat Nada Bicara. Enam anak muda ini mengenalkan diri sebagai grup yang biasa tampil di Kandang Sapi dan Kolam Pemancingan. Grup ini berkarya dengan beberapa lagu yang dipublikasi melalui Youtube.

Selain penampilan orkes, senam dari Gerak Seni Senang Nguri Uri Lemah turut dihadirkan untuk memeriahkan suasana penutupan. Para hadirin antusias untuk ikut berdiri dan mengikuti gerakan senam yang telah dicontohkan.

Dalam sambutannya, Alia Swastka berharap meskipun Biennale Jogja 17 telah usai, kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai komunitas masyarakat tidak akan berhenti.

“Selesainya Biennale ini bukan berarti kerjasama juga selesai, tetapi sebagai penanda kerjasama. Kami tidak berorientasi pada hasil, justru keterhubungan sosial dan transfer pengetahuan bersama masyarakat menjadi hal-hal yang ingin dicapai.” Tutur Alia.

Load More Related Articles
Load More By Dzatarisa Almas
Load More In News