Berkenalan Dengan Aksara Jawa Digital Di Pameran Sekaten 2019

6 min read
0
46

genpijogja.com – Jawa memiliki tradisi panjang dalam hal tulis menulis. Walaupun awalnya mengadopsi aksara dari anak benua India, namun pada perkembangan selanjutnya aksara-aksara tersebut berkembang menjadi hal yang berbeda. Aksara Kawi yang digunakan di era Kerajaan Majapahit tentu saja berbeda dengan aksara Carakan yang ditulis pada era Kerajaan Mataram Islam.

Media menulis juga berubah dari masa ke masa. Jika di era kerajaan beragama Hindu-Budha media menulis hanya berkutat pada lontar, logam dan batu, maka pada era kerajaan beragama Islam tulisan-tulisan juga dipatrikan pada kertas daluwang (kertas yang terbuat dari serat tanaman) hingga kertas Eropa.

Tulisan-tulisan tersebut seringkali dirangkai dalam bentuk buku, berbeda dengan masa sebelumnya yang menulis dalam lembar-lembar lontar.

DSC07945

Di era yang serba digital ini, aksara carakan tidak bisa hanya mengandalkan media tradisional. Digitalisasi aksara carakan merupakan salah satu cara agar aksara ini tetap lestari.

Beruntungnya saat ini, aksara carakan sudah masuk ke dalam daftar aksara yang masuk dalam Unicode (sistem standar industri komputasi untuk penyandian, representasi dan penanganan teks). Aksara carakan dapat ditulis di komputer terutama yang bersistem operasi Windows 8 dan versi di atasnya.

Selasa (4/11) sore, dalam rangka merayakan Sekaten tahun Wawu 1953, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengadakan pelatihan pengetikan aksara Carakan atau disebut sebagai aksara Jawa di sini.

Pelatihan tersebut diadakan di Bale Bang Siti Hinggil Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Selain tanggal 4 November, workshop aksara Jawa digital juga akan diselenggarakan pada hari Jumat tanggal 8 November di tempat yang sama. Workshop aksara Jawa digital dilaksanakan selama satu jam, mulai pukul 17.00 hingga 18.00 WIB.

DSC07948

Workshop aksara Jawa digital dipandu oleh dua orang, yaitu Setya Amrih Prasaja dan Arif Budiarto. Dengan berbusana peranakan, kedua orang tersebut memandu para peserta workshop mengetik aksara Jawa di laptop yang sudah dibawa masing-masing peserta. Peserta juga diberikan buku petunjuk pengetikan aksara Jawa yang disusun oleh KHP Kridhamardawa.

Pemandu pertama-tama menyampaikan pengantar tentang sejarah aksara Jawa dan cara pengetikannya di komputer. Terdapat beberapa jenis gaya penulisan atau font yang sudah dibuat.

Font tersebut terinspirasi gaya penulisan yang ditulis pada naskah-naskah beraksara Jawa. Misalnya, serat Ambya, serat Damarwulan dan lain sebagainya. Font-font tersebut dirancang oleh Arif Budiarto, salah satu pemandu workshop aksara Jawa digital kali ini.

Setelah pengantar disampaikan, sesi praktek dimulai. Pemateri, Setya Amrih Prasaja, mengarahkan peserta ke situsnya widyapustaka.webnode.com yang berisi bahan latihan pengetikan aksara Jawa. Orang-orang mulai sibuk dengan laptopnya. Beberapa membentuk kelompok agar tidak bingung dalam mengetik dan mengartikan aksara-aksara Jawa.

DSC07951

Banyak di antara peserta kebingungan karena tidak terlalu familiar dengan aksara Jawa. Hal ini wajar karena banyak dari mereka tidak melatih kemampuan sejak lama. Bangku sekolah menengah atas adalah saat terakhir mempelajari aksara Jawa untuk yang tidak kuliah sastra Jawa atau penggiat aksara Jawa. Itu pun untuk yang sekolah di daerah berbahasa Jawa.

Pada sesi tanya jawab salah seorang peserta bertanya, “Apakah ke depannya, aksara Jawa memiliki prospek ekonomi?’

Setya Amrih Prasaja dan Arif Budiarto, pemateri sore itu, bergantian menjawab bahwa aksara Jawa memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Permintaan aksara Jawa terus naik. Ini nampak dari aksara Jawa yang hari ini banyak digunakan di berbagai tempat. Mulai dari produk makanan, pakaian, sabun, hingga tulisan penanda tempat, sekarang menggunakan aksara Jawa. Tujuannya beragam, mulai dari tujuan estetika hingga tuntutan pemerintah.

Namun, yang terpenting sebenarnya bukan itu. Pelestarian aksara Jawa berkaitan dengan jati diri suatu bangsa, dalam hal ini adalah etnis Jawa.

Pemateri dalam hal ini mencontohkan aksara Hangeul yang eksis karena orang Korea berani melestarikan di industri hiburan, begitu juga dengan industri hiburan Jepang. Pemateri menutup workshop aksara Jawa digital dengan menampilkan contoh video yang menggunakan takarir (subtitle) dengan aksara Jawa.

Tertarik mencoba menggunakan aksara Jawa di komputer?

Load More Related Articles
Load More By Muhammad Faiz
Load More In Event