Bedhaya Mintaraga, Tarian Syarat Makna Karya Sri Sultan HB X

5 min read
1
86

genpijogja.com – Peringatan ulang tahun ke-75 Sri Sultan Hamengku Buwono X sekaligus peringatan kenaikan tahta ke-32 tahun ini menjadi sangat istimewa. Untuk menyemarakkan dua peringatan besar tersebut, Kraton Jogja menampilkan Bedhaya Mintaraga.

Karya ini sangat istimewa karena diilhami dari Serat Lenggahing Harjuna yang ditulis langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pertunjukkan Bedhaya Mintaraga ini dipentaskan pada Sabtu (10/04), melalui kanal Youtube Kraton Jogja. 

Bedhaya Mintaraga Tarian Syarat Makna Karya Sri Sultan Hamengku Buwono X 6

Mintaraga adalah nama yang diambil dari tokoh pewayangan Raden Harjuna saat sedang bertapa. Mintaraga dipilih tidak dengan sembarangan. Banyak pesan yang terkandung didalamnya.

Raden Harjuna yang sedang bertapa tidak lepas dari ajaran mesu budi atau usaha untuk mengendalikan hawa nafsu, baik yang berupa fisik maupun bersifat batin. Pertapaan yang dilakukan oleh Raden Harjuna ini dilakukan demi memenuhi darmanya sebagai ksatria untuk melindungi rakyat. 

Tari ini dibawakan oleh sembilan orang penari. Formasi penari dibentuk sedemikian rapi, jangga atau penari yang berada di posisi tengah berperan sebagai Raden Harjuna.

Sedangkan delapan penari lainnya yang berada di kiri dan kanannya memerankan tokoh delapan istri Raden Harjuna, yakni Sembadra, Larasati, Srikandi, Lestari, Palupi, Manohara, Dresanala dan Supraba.

Bedhaya Mintaraga Tarian Syarat Makna Karya Sri Sultan Hamengku Buwono X 1

Kehadiran para istri ini melambangkan pesan bahwa mereka bagian dari ajaran ksatria yang melekat pada sang manusia sejati. Tiap karakter memberikan pesan masing-masing.

Supraba adalah simbol kewibawaan. Dresnala adalah simbol kecerdasan dan penguasaan batin. Manohara adalah simbol keteguhan hati manusia. Palupi adalah simbol cinta kasih kepada sesama manusia. Simbol-simbol ini adalah syarat awal bagi seorang raja sebelum ia bertakhta. 

Ada pula Sembrada yang menjadi simbol pencerahan dan kekuatan. Larasati yang merupakan simbol penyatuan cipta, rasa dan karsa agar hidup menjadi selaras. Srikandi yang berarti simbol kebaikan, keluhuran dan kebenaran serta Lestari yang melambangkan kekuatan manusia.

Sebagai seorang ksatria atau raja, menguasai dan menyeimbangkan alam dan kehidupan manusia adalah berkat bagi raja dan menjadi tanggungjawabnya. 

Bedhaya Mintaraga Tarian Syarat Makna Karya Sri Sultan Hamengku Buwono X

Dari banyaknya simbol dan makna didalamnya, Bedhaya Mintaraga hadir mengisahkan Raden Harjuna dan delapan istrinya yang melambangkan kekuatan dirinya. Karakter dan sifat istrinya yang berbeda-beda tersebut justru menjadi kekuatan bagi Raden Harjuna dan saling melengkapi kekurangan satu sama lain. 

Bedhaya Mintaraga hadir dengan iringan gamelan Laras Slendro Pathet Sanga, dengan Gendhing Gati Retnadi dan Gati Surendra sebagai gending pembuka. Sedangkan untuk iringan utamanya diiringi oleh Gending Danasmara. 

Tak hanya unsur musik yang sangat matang, busana yang digunakan juga memiliki kekhasan tersendiri. Busana yang dikenakan para penari disesuaikan dengan karakter yang diperankan.

Kampuh dengan riasan Paes Ageng juga diberikan kepada penari dengan motif berbeda yang belum ada dalam bedhaya pada umumnya. 

Karya yang ditampilkan perdana ini, ditampilkan dalam format dua kelompok (rakit bedhaya) yang menari secara bersama.

Rakit pertama menari di Kagungan Dalem Bangsal Kencana dengan busana kampuh. Sedangkan rakit kedua menari di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti dengan mengenakan busana rompen. 

Bedhaya Mintaraga Tarian Syarat Makna Karya Sri Sultan Hamengku Buwono X 2

Acara yang dapat disaksikan melalui kanal Youtube @KratonJogja ini diharapkan dapat menginspirasi rakyat melalui nilai-nilai kebaikan yang terdapat dalam Bedhaya Mintaraga.

Hal ini juga disampaikan oleh KPH Notonegoro, selaku Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhomardowo yang juga bertugas sebagai penanggungjawab pementasan Yasan Dalem Enggal ini.

“Sejak jauh-jauh hari Ngarsa Dalem sudah dhawuh untuk menyiarkan Bedhaya Mintaraga. Namun karena situasi belum mendukung, pentas ini tidak dapat dilaksanakan di Bangsal Kencana”, ungkap ungkap KPH Notonegoro. “Sehingga alternatif yang ada menggunakan livestreaming. Harapannya masyarakat bisa ikut menyaksikan dan mendapatkan inspirasi dari Bedhaya Mintaraga yang kaya nilai-nilai kebaikan”.

Load More Related Articles
Load More By Pras Chandrawardhana
Load More In Event